Kita hanya ingin hidup bahagia.

if i look back, i am lost
we're not kids anymore.
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Love Begins
Three Goblin Art
styofa doing anything
ojovivo

izzy's playlists!
Peter Solarz

#extradirty

Janaina Medeiros
he wasn't even looking at me and he found me
No title available
occasionally subtle
RMH
Game of Thrones Daily
sheepfilms

@theartofmadeline
Alisa U Zemlji Chuda
Today's Document
seen from United States

seen from New Zealand

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Canada

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Malaysia
@rntaap
Kita hanya ingin hidup bahagia.
Dalam Diam, Aku ingin Napas Klisemu.
Ini masih pagi, dan aku sudah mengumpat pada diriku sendiri. Tebak karena apa? Bukan karena hari ini adalah hari sialku untuk yang kesekian kalinya, melainkan, ia, dirinya, pria melankolis dengan kerapuhan yang nampak jelas di wajahnya itu, sedang bersandar, pada sebuah tembok bercat merah, melipat tangannya, dan tatapannya penuh amarah. Setan keparat menyebalkan, bajingan kau. Untung aku sayang. Aku bercanda, bercanda bahwa tidak mungkin tidak menyayangi dia. Oh sungguh bodoh, idaman para hawa di setiap langkah yang aku tapak saat bergandengan tangan dengannya. Aku memang miliknya, hanya saja, hanya saja ... hanya di dalam angan - anganku yang sudah di buatnya gila. Hahaha, sebentar, izinkan aku tertawa, sebentar saja, aku mau menertawakan diriku, bahkan boleh! Tertawakan saja aku sekarang, kau yang membaca ini, tertawakan saja, mari menertawakan kenaifan diriku kawan. Tak usah sungkan, sudah sepantasnya aku ditertawakan. Lalu setelah tertawa, marilah menangis, meneteskan di lantai lantai milik bumi yang setia menerima tetesan air mata, bahkan air mani. Semprul. Edan, maaf terlalu berlebihan, sebab manusia yang jatuh cinta, kadang akalnya hilang, alias sedang mabuk kepayang, jadi tutur katanya sembarangan dan tak karuan. Hahaha, ayo tertawa kembali lebih keras. Menangis ternyata melelahkan, karena ia yang ku tangisi, bukan Tuhan, yang maha Esa. Memangnya ia bisa mendengarkan aku yang meronta - ronta menginginkan ia untuk menjadi milikku yang mencintainya dalam diam? Tidak! Tentu tidak! Ia manusia biasa, melankolis, rapun, dan rajin sembahyang! Padahal sering mabok - mabokan. Sayang, aku ingin engkau. Sekarang! Mau minta sama siapa? Tuhan? Sebentar, memangnya aku siapa? Aku kadang lupa menyatukan kening dan hidungku di sajadah panjang. Dan aku sekarang diam, melihat dia dari kejauhan, masih dengan tatapannya yang penuh amarah. Dalam otakku yang sudah penuh akan kehadirannya, sedang terpaksa untuk berpikir lebih keras dengan rasa penasaran yang berlebihan, tentang, sekarang, mengapa ia sedang berwajah penuh dengan amarah dan membuatku seperti perahu yang karam. Bingung dan tak karuan. Tebak, nihil, aku tidak tahu apa arti dari wajahnya itu. Lantas, jika aku tahu, apa iya aku bisa memberinya solusi, layaknya, cucu dari adam dan hawa, yang sekarang berkerudung panjang. Ah! Kan! Kepikiran! Jatuh cinta memang menyenangkan, namun aku tak kuat jika harus bersembunyi sendirian. Aku ingin keluar, membawa sepotong hatiku yang segar untuk dirinya seorang. Namun... Hahah sebentar, mimpiku mungkin memang ketinggian. Sayang, aku tahu kau milik orang, namun, bisa tidak kau pandang aku yang sedang dimabuk kepayang, oleh kau! Kau! Dan kau! Aku jatuh, sejatuh jatuhnya aku, pada apa yang nyata dari dirimu, pada apa yang kau lakukan, pada setiap manisnya tawamu yang kupandang dari kejauhan, dari wajahmu yang tajam namun menggiurkan, bahkan pada napas klisemu yang membuat berdebar tak karuan. Jatuh, aku jatuh. Pada setiap bagian darimu, pada setiap buruk dan baikmu, aku inginkan. Sekarang. Namun, aku sadar, aku hanya bisa mencintaimu dalam diam, dan sendirian. Sayang. Dan, slalu sama, aku diam, memandangmu, tak bisa mendekatimu, hanya untuk sekedar bertanya "mengapa wajahmu masam?" Karena aku dan kau adalah teman, dan menyukaimu dalam diam dan penuh angan - angan adalah pilihan terbaik, untuk kau yang slalu akan kusayang.
Maka aku hanya dalam diam, mengagumimu, si rambut panjang, yang jatuh pada wanita berkerudung panjang.
Aku Indonesia tapi kadang tak merasa Aku cinta tapi tak bisa memberi apa - apa Aku ingin berguna di tanah air beta Lalu merdeka dengan cara yang sederhana Tanpa mengangkat senjata, namun dengan kata - kata Karena merdeka, sejatinya adalah bebas berkata.
@kitajateng
Aku Indonesia tapi kadang tak merasa Aku cinta tapi tak bisa memberi apa - apa Aku ingin berguna di tanah air beta Lalu merdeka dengan cara yang sederhana Tanpa mengangkat senjata, namun dengan kata - kata Karena merdeka, sejatinya adalah bebas berkata.
Aku berotasi, dan kamu tentu terganti.
yang aku slalu semogakan.
Aku akan datang, nanti namun pasti, dan kau tak akan kuasa untuk tidak menjadikan aku sebagai tulisan - tulisanmu.
Pede luar biasa ya? :)
Man, Saya bingung man, sangat bingung malah. Kenapa ya, akhir - akhir ini saya sulit menulis, jangankan menulis, membaca saja kadang malas, dan tidak hanya itu Man, saya malas bicara dan mendengarkan orang - orang bertutur kata Man.
Saya tak bernapsu Man, bingung saya Man, kebingungan bak orang bodoh saya Man.
Man, kamu tahu benar kan saya suka potret isi rumah sana sini padahal tidak ada arti, tapi sebelum itu terimakasih ya Man sudah belikan saya kamera mini bekas temanmu, padahal kita orang yang tak punya.
Man selagi saya bingung, saya hanya potret rumah sana sini. Bingung lagi saya Man kenapa hanya suka potret rumah sana sini.
Dan, saya yang amatir bisa dapat satu potret yang bagus dan ingin saya tunjukkan padamu Man.
Meja makan kita Man.
Man kamu ingat tidak kalau saya tidak suka dengan meja makan yang ada di dapur kita, penuh dan sempit sekali. Saya kan inginnya meja makan bak di sinetron tv tv swasta, kaca, besar dan panjang.
Kamu tahu juga kan saya slalu menghindari meja makan kita, saya lebih suka makan di depan televisi atau Lesehan di depan selasar depan rumah, dan kamu hanya bisa marah - marah.
Tapi tidak dengan kamu, kamu pulang slalu menuju meja makan, kamu mau mengobrol dengan saya slalu menarik saya ke meja makan, kamu ngopi - ngopi santai tentu di meja makan, kamu mau menulis slalu di meja makan, kamu mau menenangkan saya ketika kita bertengkar juga di meja makan, kamu mengecup saya juga tak jarang di meja makan, bahkan, kamu iseng bilang ingin bercinta di meja makan.
Dan Man, bertambah lagi satu kebingungan saya Man, kamu mau tahu tidak Man?
Man, saya jadi suka termenung dan tak lagi menghindari meja makan man.
Justru saya tersendu - sendu dan tak jarang menetes pula air mata saya kalau sedang berada di meja makan Man.
Man, tolong lah kamu pulang Man, saya janji akan slalu senang menemanimu duduk di meja makan Man.
Man, saya rindu melihat kamu ada di meja makan Man.
Pulang Man, agar saya tak lagi kebingungan.
Rntaap, Yog. Potretnya diambil dari set film pendek saat shooting ‘kunang - kunang’ rumah pak Rt di Kulon Progo. Saya kangen rumahnya, masih banyak potret rumahnya yang lebih apik.
Sama - sama.
Kesal sekali aku Tuhan, sudah letih dibuatnya kini asik lagi ia santai sambil sebatang dua batang sampai habis berbatang - batang tembakau yang di hisapnya.
Bau rokok. Mulutnya pun rasanya rokok.
Heran pula aku juga dengan ia, macam singa aku sudah marah - marah agar tak lagi kamarku ini penuh dengan bau asap mematikan, masih saja ia berani - beraninya santai menghisap penuh cinta sembari duduk di satu - satunya jendela kamarku yang besar.
Alasanku saja sebenarnya agar kamarku tak bau, tapi namanya juga melihat orang tersayang sedang mendekatkan diri dengan kematian, mau tak mau omelan - omelan harus keluar dari mulutku wahai sayang.
Tapi hari ini aku sampai malas buka suara, apalagi marah - marah.
Ya hitung - hitung agar tak merusak suasana karena tadi ia datang dan katanya sedang rindu dan sedang ingin sayang - sayangan.
Tapi dari yang netraku tangkap, ia lebih sayang dengan batang tembakau dibanding aku yang sedang baring memperhatikan ia dari ranjang.
“Kalau tidak suka, mau tidak mau kamu tetap harus suka,” katanya, tiba - tiba. Kaget aku.
“Pemaksa,” jawabku, ini pasti ia sedang masuk menjelajahi diamku, dan dugaannya benar, aku sedang kesal lalu memilih diam tentang batang - batangnya.
Ia tak langsung menjawab, masih menghisap kuat hingga pipinya yang tirus bertambah tirus, rahang tegasnya semakin terlihat.
“Memang, sejak pertama bertemu, kamu sudah tahu benar saya pemaksa.” Katanya setelah hembusan napasnya terhiasi oleh asap berbentuk bulatan - bulatan apik.
Ia masih menggunakan ‘saya’. Katanya, boleh penampilan urakan, pikiran liar asalkan tutur kata tetap sopan dan terlihat berpendidikan.
“Aku kan wanita yang baik, mengingatkan kekasihku agar ia tak cepat pergi meninggalkan aku menuju neraka hanya karena batang kecil itu.” Kataku, sambil menarik selimut untuk menutupi diriku lebih.
Ia terkekeh, habis sudah sebatang, ia mengambil batang yang baru, abu rokoknya ia buang dari jendela agar jatuh langsung mengenai lantai - lantai bumi.
“Harusnya menuju surga, bukan neraka, ah aku mengencani wanita pesimis.”
“Hei, aku ini realistis, kamu tidak ingat tadi kita habis melakukan dosa, ashar sudah mau habis, mandi saja belum kan.” Dumelku.
“Bagus, saya suka kerealistisan kamu, tapi tetap saya ingin masuk surga, agar ketemu bapak dan ibuk, sudah lama tak lihat mereka di dunia, masa di akhirat pun terpisah.”
Aku diam, bingung mau merespon apa aku, orangtuaku masih ada, sayangnya tidak dengan orangtuanya.
Perlahan matahari pamit, garisan orange kemerahan terlukis di langit luas, banyak yang mengagumi warna bernama senja itu. Apalagi para melankolis dengan masalah - masalah mereka yang tak jauh dari persoalan hati. Aku juga menyukai itu sebenarnya, tapi diam - diam saja ya, aku tak ingin dicaci sebagai pengagum keindahan semesta termasuk senjanya, habisnya, semesta suka bercanda.
Dari jendela kamarku, tak ada yang lebih indah dari pemandangan dirinya dengan senja bersamanya.
“Ras, saya merokok karena bapak,” katanya lagi setelah keheningan terjadi.
Tunggu, aku tak pernah mendengar ini.
“Bapak saya perokok ras, punya banyak tembakau dan cengkeh di rumah dulu, beliau suka bikin rokok sendiri, dikonsumsi sendiri, tapi melarang saya untuk menghisapnya. Dulu saya waktu masih sekolah dasar suka iseng bikin sendiri, mencicipinya pula. Tapi ketahuan bapak, lalu dipukuli saya Ras sampe biru - biru badan saya.” Ia menarik napas panjang, kulihat setelah senyum simpul tergaris di wajahnya. Seperti nostalgia.
Selama kami punya hubungan baru ini dia cerita tentang bapaknya. Kemarin - kamarin tak pernah, ia cuma bilang kalau orangtuanya sudah meninggal dan aku tak pernah tanya - tanya. Ibunya meninggal karena tertabrak, kalau tentang bapaknya ia tak pernah cerita.
Aku diam, menunggu ia melanjutkan.
Ia berdiri menjauh dari jendela, sudah gelap sempurna di luar sana, ia menutup jendela dan gorden lalu jalan menuju arah ranjang, berbaring di sampingku, terlentang dan menatap langit - langit kamar, sudah habis ternyata rokoknya.
“Bapak saya bilang, jangan bermain dengan rokok nanti saya kencaduan, tak baik untuk kesehatan, sama seperti kamu suka marah macam singa, tapi bapak main tangan, kalau kamu tidak.” Lanjutnya.
“Benar dugaan bapakmu, kamu kecanduan beneran kan, harusnya aku juga memukulmu biar nurut.” Kataku, masih dengan sedikit perasaan kesal.
Ia terkekeh geli lagi. Ah dasar.
“Ras, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bapak saya perokok berat, dan saya ingin menirunya, mungkin itu yang bisa saya ikuti dari dia, tak mungkin kan saya jadi orang pintar seperti dia, saya ini pria bodoh ras, kerja serabutan, dan kadang pencitraan.”
“Berarti aku lebih bodoh karena mau dengan pria bodoh, begitu?”
“Saya tidak bilang begitu.”
“Lalu?”
“Saya ini ingin seperti bapak, idola setiap anak adalah bapaknya sendiri, saya sudah mencoba hal yang baik - baik dari apa yang beliau contohkan, tapi yang saya bisa hanya menghisap batang tembakau itu.”
Aku menghela napas panjang. Ternayata alasannya cukup membuat tak masuk akal.
“Kamu saja yang tidak mencoba,” aku membenarkan posisi tidurku, menyampingkan diriku agar melihat dirinya lebih dekat. “Kamu sayang sekali ya dengan bapakmu?”
Ia menyeringai, “pertanyaan kamu mengapa sangat bodoh Ras? tentu saya sayang dengan bapak, benihnya berwujud saya sekarang, makanya merugilah saya kalau dari dirinya tak ada yang saya warisi. Minimal kalau ia tak bisa menjaga dirinya dengan baik dan menuju surga hanya karena rokok, maka saya harus bisa menjadi pecandu dan hidup labih lama dari dia.”
“Kamu juga bodoh, pernyataanmu dan prinsipmu itu salah, justru kalau bapak kamu pergi karena rokok, harusnya kamu bisa hidup lebih lama tanpa harus mencandu, bukan mengikuti jejaknya.” Aku memutar bola mata, “kamu bodoh sekali ternyata, meniru hal buruk dari bapakmu, beliau mati ya karena kebodohannya, memangnya kamu mau juga?” Rasanya kasar sekali ucapanku.
Kali ini ia tertawa lebih keras, bahkan sangat keras, aku kaget dan dahiku mengernyit, heran.
“Kalimatku tidak lucu, kenapa kau tertawa?” Tanyaku.
“Ras, Ras, omonganmu itu, kita itu sama, kamu tidak sadar ya, bukankah kamu juga sama, mewarisi apa yang ibuk kamu lakukan.”
Aku tambah mengernyit.
“Mewarisi hal yang buruk dan membawa celaka.” Lanjutnya.
Hah maksudnya apa? Aku tambah bingung, dan memilih untuk duduk di atas ranjang, ia juga begitu. Aku diam dulu dan kubiarkan ia bicara.
“Ras, kamu pernah cerita bahwa ibumu adalah wanita cerdas namun gampang membuka dan dibuat telanjang di depan Pria bahkan yang bukan suaminya.”
Biadab, aku tiba - tiba geram.
“Jadi maksudmu aku ini berani buka tubuhku karena mewarisi dari ibuku? Begitu?!”
Ia lagi - lagi meresponku dengan tawa. “Bukan hanya untuk saya, tapi dengan pria yang lain, dikamar mandimu ada kemeja pria dan sabun pria, manalagi secarik note yang tertempel di cerminmu, isinya 'malam yang indah dan tubuhmu yang indah, nanti lagi ya Ras,’ itu bukan kemeja saya, sabun pria itu jelas bukan milik saya pula, dan tulisan di note itu bukan tulisan saya. Ah kamu ini suka menasehati saya untuk menjadi yang baik - baik tapi kamu sama saja.”
Aku terdiam. Tak bisa lagi berkata.
Bagaimana bisa, aku sebodoh itu. Astaga, benar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ibukku seperti itu dan lantas aku pula, bodohnya aku tak sadar.
Kemarin lusa memang ada teman priaku yang berkunjung, ia sengaja katanya ingin menginap, dan langsung aku izinkan, tapi ya namanya pria dan wanita yang berada dalam satu ruangan dan sudah dewasa, terjadilah hal dosa lainnya. Dan hal itu sudah terjadi berulang kali dengan teman priaku yang lain.
Astaga, betapa bodohnya aku menceramahi kekasihku sang pecandu rokok untuk berhenti melakukan hal yang ia sukai, namun ternyata aku lupa berkaca, bahwa aku juga kecanduan dengan hal yang masih tabu untuk aku tuliskan.
Astaga, ternyata, kami sama - sama menjadi korban dari 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya’ sayangnya ia ingin membentuk dan aku sudah terbentuk.
Padahal senantiasa pula ibuku bilang jangan berani - beraninya membuka tubuh di depan pria. Dan bapaknya juga bilang jangan sekali - kalinya bermain dengan batang tembakau itu. Nanti kami kecanduan.
Ternyata kami sama. Kecanduan.
“Ras, sudahlah, buah yang jatuh tak jauh dari pohonya, kadang ada yang rusak dan cacat juga.”
***
Rntaap, Yog.
Baca saja.
Wah wah wah. Kadang kalau dipikir aku ini bodoh juga kurasa. Tahu tidak kalau aku dulu yang paling pintar, zamannya masih pakai seragam sekolah, pakai sepatu hitam penuh dengan polesan semir nan murah meriah milik kakekku tercinta, kaus kaki bersih bak habis di beri pemutih yang tak kalah murah, rambutku yang panjang hitam pekat tak lupa diberi bando rawan patah warna warni harga seribu rupiah, dan tas punggung besar muat bawa mukenah dan baju olahraga. Ah kan, tadi aku bilang aku yang paling pintar, tapi yang ku kata malah penampilanku saat masa sekolah. Harusnya kan aku menunjukkan prestasiku apa saat zaman itu, sayangnya ternyata hanya aku yang beranggapan begitu. Sudah bodoh kini aku terlihat miris. Aku punya prestasi tapi aku lupa apa itu, atau jangan - jangan ternyata memang hanya hayalanku saja ya? Tidak, aku tak berhayal, aku punya segudang prestasi, tapi aku lupa, namanya juga manusia. Ah pasti kalian kata bahwa aku pembual dan berlindung di balik kata 'lupa'. Kalau masalah penampilan ya aku tentu ingat, namanya juga wanita, pasti ingat tentang penampilan di zaman behula, kan demi kelancaran memperbaiki penampilan untuk masa depan. Apalagi sekarang penampilan sangat penting demi menyokong kehidupan dunia yang kejam dan tak berprasaan. Tapi kan memang benar, kadang yang berpenampilan apik plus wajah nan rupawan, sana sini di sanjung, di junjung dan beruntung. Makanya, pentingnya prestasi segudang bisa kalah dengan penampilan yang enak dipandang. Jangan mencela, ini hanya opini, dari apa - apa yang aku pandang dan perhatikan. Ya tapi hanya sebatas opini yang bodoh.
Pertanyaannya adalah, mengapa manusia termasuk aku, masih saja berharap padahal sudah mengerti dan tahu jawaban akhirnya, tak akan tercapai.
Mengapa?
Terserah pada semsta yang semena - mena ikut memainkan rasa, kali ini jiwa ragaku tak mampu, maka dari itu kurelakan kita tak bersatu.
Assalamualaikum Tumbelerr :)
Tulis Saja Di Dalam Kesepian.
Malam ini, aku gelisah. Sepertinya ini tiba masa dimana aku sadar bahwa kesepian itu meresahkan dan begitu membingungkan. Aku seolah merasa kosong, kehilangan napsu untuk memainkan jari - jariku di aras keyboard untuk merangkai sebuah alur, mataku bahkan tak tertarik pada tontonan yang sengaja sudah aku ambil dari warung internet semalam suntuk. Kenapa? Itu yang ingin aku tahu. Kenapa? Kenapa aku merasa bahwa ini adalah sebuah rasa kesepian? Kenapa?
"Kamu maunya aku sekarang gimana?" Haruskah aku tanya begitu? Atau sekarang aku diam aja? Setelah semuanya, setelah aku menciptakan renata yang tidak takut malu dan bermuka tebal, kau malah menjadi - jadi. Atau memang kamu sengaja? Memang, penyesalan selalu datang diakhir.
Kau mau apa lagi? Mau mengambil apa lagi? Mau merusak yang mana lagi? Mengertilah aku sudah tidak punya apa-apa. Kau sudah mengambil semuanya. Apa lagi yang kau cari sekarang?
(via mbeeer)
Catatan untuk diri sendiri, jangan gampang percaya sama orang. Semakin tua harusnya makin sadar. Kadang, sendiri itu pilihan yang tepat.