Kau tahu apa yang aku suka dari hujan? Dia akan tetap turun meski kau berusaha keras menolaknya. Dan aku, akan tetap mencintaimu meski kau berusaha mematikan perasaanku.
Hujan, dia pantang menyerah.
Jangan lupa, hujan juga bagian dari dirimu. Saat kau menyangkal hidup itu bahagia; mengalir perlahan dari bola mata birumu, meriak di pipi, dan bermuara di kesedihanmu.
Ah, rasanya kau juga harus ingat. Ketika menyusuri jalan malam dengan riak dan genangan air di sisi kanan kirinya, lamunanmu akan terlempar beberapa waktu ke belakang.
Hujan, dia menyisakan kenangan.
Kamu adalah kehilangan yang tak terlupakan. Ketika masa lalu adalah sebuah arsip bahagia, genangan air itu tumpah di atasnya, tinta-tinta kenangan itu memudar, tersapu kesepian.
Terkadang kau bisa tertawa begitu lepas, berlarian tanpa alas kaki, hingga rasanya beban tak ada lagi dan itu semua hanya bisa kau lakukan bersamanya.
Hujan, dia membawa kebahagiaan.
Dan apa yang kaukatakan, adalah bagian dari masa lalu yang tersapu. Saat rindu mulai memasung pasak di jantung kepergian. Jangan lupa, hujan tidak selamanya bertahan. Begitu pun kita, saat kau memilih berhenti bermain basah-basahan denganku selamanya.
Dia berubah, sangat menyakitkan ketika akhirnya kita memilih aliran masing-masing. Menjadi kenangan paling menyayat hati jika datang menjelang petang.
Hujan, dia membawaku pada ingatan tentangmu.
Pada akhirnya, ke mana pun genangan air itu meriak, ia akan sampai pada muara yang dituju. Entah itu bermuara pada sesiapa di depan sana atau kembali pada kerinduan kita, hanya hujan yang tahu.
Hujan, dia datang memberi jawaban.
Waktu rasanya takpernah cukup untuk membicarakan hujan bukan? Dia datang membawa kebahagiaan sekaligus menyeruak sungai kenangan. Aku masih akan menunggumu dengan sajak-sajak tentang hujan.
Sebuah kolaborasi @dialogdiberanda dan @ariqyraihan