[3/9 20.51] : Kenapa suka senja?
Bukannya senja cuma membawa kita menuju kegelapan?
[3/9 21.09] hazzaIma: Sulit jika diterjemah kan dalam kata.
Karena cukup untuk menikmatinya saja dengan mata telanjang.
Nikmati detik detik ketika ia akan berganti gelap.
Padahal, mereka tahu waktu senja hanya sebentar, tapi penikmat tetaplah penikmat yang tak bisa berpaling dari senja meskipun senja berpaling darinya karena direnggut malam.
Penikmat tahu, hanya mengantar kita menuju kegelapan, bukan hasil dari senja yang meninggalkan kita kemudian berganti gelap.
Bukan, bukan itu.
Melainkan proses nya itu lah, ketika sudah mulai sore, ketika ia akan terbenam dan detik detik tenggelam, ia punya cahaya keindahan tersendiri yang tak dimiliki pagi, siang dan malam.
Dan
Senja, waktu orang-orang untuk pulang.
Kembali ketempat peristirahatan.
[3/9 21.16] : Senja memang membawa kita pada kegelapan. Tapi, kalau kita tahu, banyak bintang dalam gelap yang menunggu untuk kita nikmati.
[3/9 21.17] : Ia indah dan mengawali ke indahan
[3/9 21.18] hazzaIma: Senja hanya mengiringi malam tiba.
[3/9 21.26] hazzaIma: Berarti (nama orang) ada di posisi sebagai penunggu.
Yang artinya.
Senja hanyalah waktu untuk menunggu datangnya malam yang katanya banyak bintang.
Memang, tidak diragukan lagi, jika malam adalah waktu yang paling panjang untuk menikmati alam terutama angkasa.
Tapi, kadang kita lupa, jika malam pun bisa saja mendung.
Menutupi kilaunya lyra, altair, sirius dan bintang-bintang yang lain.
Termasuk rembulan yang pasti temaram.
Artinya (nama orang) hanya sebagai penunggu. (Diam dalam penantian yang belum pasti).
[3/9 21.28] hazzaIma: Berbicara
nikmat hanya karena keindahan. (Hati-hati)
Tapi coba diputar balik kan
Indah hanya karena jika dinikmati.