Di Hadapanmu, Aku Tak Ingin Lagi Berpura-Pura
Berhentilah berbohong dengan berkata segalanya akan baik-baik saja. Di kedalaman matamu, aku bisa melihat kesedihan telah menerjangmu bagai ombak memecah karang. Di matamu, aku menemukan ruang yang telah kehilangan cahaya.
Berhentilah berbohong walau sejenak; katakan bahwa kamu memang tidak baik-baik saja.
Aku sungguh sedang tidak baik-baik saja. Jika aku mengatakan demikian padamu, akankah segala hal menjadi baik-baik saja?
Sejauh yang kumampu hanya menawarkanmu bahu untuk bersandar dari segala sedihmu; tempatmu menyelesaikan hujan di matamu itu.
Aku akan menjadi pendengarmu paling setia; dengan begitu kamu tahu bahwa kamu tidak melangkah sendirian.
Jika hujanku telah reda, teruslah menjadi bahu yang tetap ada. Tanpa memberi jeda.
Aku akan berhenti menjadikanmu pendengar, tetapi marilah kita saling bertukar debar untuk saling membalut lara yang selama ini berpura tegar.
Bila memang begitu, izinkan aku mengisi ruang kosong di hatimu itu—memberinya cahaya agar kehangatan kembali mendera kerinduanmu.
Berhentilah berpura-pura, saatnya kamu menatap realita yang berbeda—bahwa denganku, kita akan melalui hari-hari dengan cara yang kita mau; dengan bahagia yang kamu inginkan.
Ruang ini telah berdebu untuk waktu yang lama, dan pijar matamu adalah cahaya yang akan menjadi rindu untuk menerangi jalan-jalan sepi yang dulu terasa gulita.
Maka di hadapanmu aku menjadi sejujurnya aku, tanpa ketakutan. Dengan membawa satu keberanian yang tidak bisa ditawar. Bahwa denganmu, kita akan saling mengisi harapan yang sempat kandas.
Sebuah kolaborasi acak tanpa janjian, @ariqyraihan dan @kkiakia
Jakarta - Banjarmasin
17 Oktober 2020








