Special Night
Laptop bukan realita rutinitas yang sebenarnya. Sebagaimana engkau tahu bahwa semua bermula dari angka bundar tak sempurna. Berlaku baik pun kadang mudah dikecam jahat. Tidak ada realita yang menyebut bahwa manusia sepenuhnya baik, manusia sepenuhnya bisa dipercaya, kecuali satu insan yang amat kokoh membangun peradaban di buku sejarah bagian zaman jahiliyah.
Merasa benar-benar tak melakukan apa-apa. Terkesan tidak membawa jejak harum untuk dibungkus pulang. Apa daya kiranya jika semua yang sebenernya masuk dalam jajaran keinginan ternyata hanya bermaksud untuk menghibur diri belaka?
Katakanlah bahwa manusia itu naif, tak terkecuali jika seseorang tersebut mengakui akan hal itu. Dirasanya tak membawa dampak apapun dan membuang waktu tanpa kenal mutu. Mengikis umur dengan maksud bahagia jangka pendek. Sungguh tak mau.
Ada suatu malam, mungkin sering bagi sebagian orang. Pada malam itu ia merasa sangat sepi. Sekitarnya ramai, lingkungannya pun hangat. Tapi ia belum sampai ke taraf puas. Ia masih merasa di dalam dirinya ada yang kosong entah itu dimana. Ia terlalu haus akan ambisinya dengan dunia. Tampak mata, keegoisan, serakah, kesedihan, semua yang berbau buruk mungkin detik itu tengah ia bawa semua di relung kecil hati itu. Kasihan, ia bahkan tak tahu jika ada sampah yang ia bawa sia-sia. Ia lupa cara membuang, ia lupa cara menyisihkan, meski pendidikan pernah mengajarkan cara mudah untuk melakukan itu.
That special night, sebelum terlalu lama kamu terjerumus dalam lubang hitam itu, lihat! Ada tangga di sebelah sana. Ia sebenarnya cukup perlu berjalan sedikit saja untuk menyebrang melewati gelapnya situasi ditengah situ. Sebelum detik ia terperosok, dirinya adalah jiwa dengan penuh api semangat. Ia manusia paling menggebu di daratan. Ia lupa, bahwa ada sesuatu yang harus ia laksanakan. Sesegera mungkin. Secepat yang ia ingat. Melakukannya dengan kalimat pujian untuk siapa yang saat ini menakdirkannya jatuh.
Adapun semua orang pernah lupa. Itu wajar, bahkan masuk dalam siklus. Jika detik itu ada pada dirimu yang sekarang, maka menyebranglah. Diam. Diam dulu. Lihat sekelilingmu. Sudahkah kamu menarik nafas lega untuk dirimu sendiri?














