The autor. May 2021

seen from Iraq

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Italy
seen from France
seen from United Kingdom

seen from Italy

seen from Australia

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Italy
seen from United Kingdom

seen from Italy
seen from United Kingdom
seen from Philippines
seen from Germany

seen from India

seen from Italy
seen from China
The autor. May 2021
Dulu aku bertukar kabar dengan-mu setiap hari, mulai dari bangun tidur, siang, sore, malam, tengah malam, sampai menjelang subuh, pernah ku lewati bersama-mu meskipun hanya sebatas Telepon genggam.
Sampai akhirnya untuk pertama kali tiba-tiba kita berada diruang yang memaksa kita menghilang, kau mendiamkan aku, dan aku masih begitu terlalu gengsi untuk menanyai sebab ke-diaman-mu. Selama 9 hari, ku biarkan kau mencari waktu untuk dirimu sendiri, sedangkan aku sibuk sana-sini menenangkan diri. Bertanya-tanya "kau dimana?" "kau kenapa?" lalu kemudian aku memberanikan diri mencarimu, sebab ku pikir kala itu diam dan hilang-mu karena ingin ku cari, tapi kemudian aku tau kau hilang karena ingin menghindar, bahkan kau menjauh. Bisakah kau bayangkan menjadi aku yang berbulan-bulan selalu di beri kabar, lalu tiba-tiba di hindari selama 9 hari tanpa penjelasan?
Lalu 7 hari kemudian tanpa kabar kau datang menanyai kabar-ku, "apa kabar?" tanya-mu sewaktu itu, mendebatkan banyak hal yang tak pernah selesai dan selalu kau hindari, lalu 14 hari kembali tak berkabar dan ku usaikan melalui temu via layar ponsel dan kita menghabisi waktu berjam-jam hingga larut melepas semua rasa yang tertahan, lalu 14 hari lagi kembali tak berkabar dan lagi-lagi aku yang memulai percakapan, sampai kemudian 23 hari aku mati-matian menahan rindu, memilih diam menahan rasa untuk tidak memulai apapun dan akhirnya setelah nyaris sebulan kau datang menanyai-ku banyak hal, lalu memutuskan bertemu menghabiskan rindu di layar telepon genggam, maka terimakasih, sudah membantu-ku membuktikan bahwa rindu dan ingin menghubungi terlebih dahulu tak melulu ada di-pihak-ku
Kini sudah 6 hari semenjak terakhir kali kau menghubungi-ku, rasanya waktu kini berlalu begitu saja. Mungkin aku sudah terlalu terbiasa :") aku rindu, bohong jika aku tak ingin menghubungi-mu. Aku sangat ingin! Tapi biar saja waktu yang menjawab "masih aku masih kamu, bukan aku, bukan kamu, atau Masih kita atau bukan kita?"
Aku pasrah-
Sedih :’)
Tidak seperti pertemuan di oktober lalu, pertemuan kali ini begitu kaku, seperti ada dinding es yang membekukan skat di antara kita, dan tidak ada di antara kita yang menyanggupi untuk mencairkan ego. Pertengahan Oktober-November-Desember-hingga akhir Januari telah banyak merenggut rasa di antara kita. dan akhir Januari kembali mempertemukan kita melalui sisa-sisa rasa.
Di hari H saat pertandingan-mu pada sesi pembukaan, aku bahkan belum tau apakah kamu ikut serta. apakah kamu sudah menyekat jarak menjadikan kita se-kota, bahkan jikapun benar kamu ada di sekitar-ku, aku bertanya-tanya dan sangat ingin tau jawabannya tentang “menanya-nanyai-ku kah kamu?”
jika bukan aku lagi yang kamu beritau prihal kedatangan-mu, lalu sekarang “siapa orang yang kamu beritau itu?”
saat kamu berpikir akan bertemu dengan-ku tanpa sengaja, tapi ternyata kamu tidak melihat-ku “apakah kamu mencari-cari-ku?”
saat kamu sudah melewati beberapa hari di sesi pertandingan-mu tapi belum juga melihat-ku “kecewa-kah hatimu?, adakah rasa ingin bertemu itu kamu rasakan?”
kalau saja kamu ingin tau bagaimana aku, jelas aku menanya-nayaimu, jelas aku mencari-carimu, jelas kecewa hati-ku sebab kini aku bukan lagi menjadi orang yang kamu beri tau tentang keberadaan-mu, dan jelas aku sangat ingin bertemu dengan-mu. Tapi aku meng-urung-kan, sebab kini ada yang harus ku tahan dan ku kendalikan yang adalah -ke-akuan-ku terhadap-mu- dan untuk menahan itu, aku banyak melawan diri-ku sendiri, kamu tau? itu menyakiti-ku. saat aku terlalu ingin tapi memilih tidak, saat kesempatan untuk bertemu begitu mudah tapi memilih untuk tidak. aku sedih-
“apa kabar?”
“baik. kamu?”
“baik. aku disini ikut pertandingan”
“iya aku tau kok hehe”
“iyakah tahu?”
“iya tempe hehe”
saat ketika kamu memutuskan untuk mengirimi-ku pesan dan menanyakan kabarku, lalu kemudian aku membalasnya -baik- percayalah aku sedang tidak baik-baik saja. tapi pesan-mu membuatku membaik. aku tau, aku dan kamu kini berdiri diatas ego, beralas gengsi, tidak mudah untukku juga untukmu menunjukan ingin, menunjukan butuh. mencari-cari jawab dengan pemahaman yang hanya mampu kita artikan melalui gesture atau sebuah kontradiksi perasaan yang menduga-duga karena benar tidak adalagi tautologi yang pasti atas nilai sebuah rasa.
“besok kerja?”
“kenapa?”
“saustiram :)”
“saustiram atau asammanis?”
“asammanislah”
“ya ayolah asammanis”
“janji tu dari dulu”
“haha iya nah ingat kok janjinya”
dari bagian pesan ini, aku tau kamu ingin bertemu. dan saat ketika aku datang di semi final pertandingan-mu, aku harus menyaksikan kamu melawan adikku sendiri.
Aku berjalan melewatimu, dan aku kaku, bulan-bulan panjang nan menyedihkan sudah banyak merenggut kita, aku kini merasakan kembali berdiri dan berada dalam satu tempat yang sama, bersamamu, di waktu yang berbeda, tapi mungkin dengan rasa yang tak lagi sama.
kamu mungkin tidak menang, mungkin bagi-mu kedatangan-ku untuk menyoraki kekalahan-mu, tapi andaikan kamu tau, datang-ku karena aku lebih ingin kamu, “this is my gift for you”
Pertengahan Oktober-November-Desember-hingga akhir Januari telah menjadi bulan-bulan panjang untuk-ku menyimpan lengkung senyum penyempurna rupa-mu, rindu yang dulu lebih mudah untuk ku ungkapkan kini harus berhenti di ujung lidah yang kelu, bertukar kabar yang dulunya menjadi kebutuhan kini berubah menjadi sekedar, datang untuk bertemu dan pergi untuk kembali bertemu kini berubah tuju menjadi datang ya datang, pergi ya pergi, sudah tidak ada temu di sana, andai kita tidak banyak memaksa.
Bulan-bulan terberat semenjak kita mengusai telah membuatku mencipta rupamu lebih mempesona, bahkan temu sebatas layar telpon genggam, pesan berupa teks, chatting, voice note hingga panggilan di ujung telepon genggam hanya seumpama morfin yang meredakan tapi tak mengobati.
hmmmm, dan ini mungkin menjadi bagian tersedih dari cerita kita. saat kamu menghubungi-ku aku tau kamu banyak berusaha, dan saat aku menemuimu, aku banyak memaksa. tapi pada saat demikianlah kita tau rindu itu hadir diantara kita. tapi ka...
Aku tidak bisa merubah nama kita menjadi “teman saja” untuk kemudian kembali bersikap seolah kembali biasa karena aku dan kamu pernah melibatkan perasaan.
Aku juga tidak bisa membalas senyummu dengan “senyuman biasa” karena garis wajah dan lekuk lengkung senyummu akan selalu ber-arti-kan lain untukku.
Kita tidak bisa -berteman saja- aku akan selalu melihatmu dengan cara yang berbeda, karena tidak mudah utuk-ku mengartikan “ini demi kebaikanmu” yang kau ajukan sebagai alasan mengapa kita selesai, kita usai-
maka, ku ajukan kalimat “aku ngga mau membahas ini lagi, dan tolong jangan hubungi aku lagi” sebagai cara terakhir-ku menyayangi-mu, sebagai orang yang selalu ku ingini. Untuk ke-tidakbaik-an kita, semoga waktu memperbaiki :“)
dan di sesi final pertandingan semalam, pada kelebatan raut wajah juga senyum-ku senyum-mu, yang kita curi secara sembunyi-sembunyi telah menjadi salam terakhir sebelum semua menjadi kian samar dari sekedar menjadi tak berkadar. semua yang ku lakukan yang menyakitimu, percayalah juga menyakitiku. aku begini bukan karena sudah tidak sayang, ini justru karena aku sangat menyanyangi-mu. hari ini entah kita masih se-kota atau kamu sudah kembali ke kota-mu, tapi doa-ku mengiringi.
aku kesal, aku sayang adalah definisi rasa yang paling sempurna yang di rasakan manusia kepada manusia, dan merasakan rasa itu kepadamu, aku merasa menjadi aku.
terakhir, berbahagialah sebab tidak bahagiamu juga tidak membahagiakanku. berbahagialah, dengan apapun! Kita berpisah tanpa asammanis, semoga asammanis bisa membuat kita bertemu kembali ya sayang :')
Rememberance... Hello kitty adalah kesukaannya, selalu pengen dekat dan nempel sama cinta pertama dalam hidupnya, ya itulah bapaknya yg susah berada di rumah ini, Jadi, sebagai rememberance, ia letakkan hello kitty itu di dekat foto bapaknya yg selalu jadi mahasiswa itu (haha...) Petintahnya sulit ditolak, harus selalu dipenuhi, kalau tidak ia keluarkan jurus-jurus andalannya, nangis dan 'aha ihi' yg bikin ill feel itu... ya memang itulah ia, namanya juga anak kecil, ia juga sangat suka menyanyi, tak pernah takut meski syairnya sering ngelatur maklum memorynya masih dunia seusianya...haha... kalau bernyanyi, 💕🎶bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku...🎼 Seringnya malah ga melakukan apa yang dinyanyikannya itu...😊😊 ya itulah anak kecil, Sebuah titipan, kenangan dari sang Maha Kuasa... Ameera Shidqia Dinata kuberi namanya, sebuah doa semoga memang menjadi penyeru pada kebenaran keluarga kami, aamiin yra... (ga ada hubungannya sama queen ameera putri raja di jazirah arab sana😀😀) (pesan moralnya adalah...kalau ada orang dewasa yg hanya bisa 'bernyanyi' tetapi tidak melakukan apa yang dilakukannya...ya berarti ANAK KECIL itu namanya👱👱) 😊😊😊 #rememberance #hello#hello2018 #life#lifelessons #queen#ameerashidqia#dinata (at Bandung)
Nia Dinata Dapat Pengalaman Seru saat Menggarap Switc…
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push(); Pemain dan sutradara Switch (Foto: dok. viuindonesia) BiarTau.com, Jakarta: Drama seri Switch akhirnya dirilis pada 14 Agustus 2017. Nia Dinata selaku sutradara mengaku puas setelah serial yang... READ MORE...
Dinata by Eleftheria Arvanitaki (Meno Ektos)
my new upcoming documentary about the mother from Jambi who finally met her transgender child in Jakarta for the first time after 5 years.