“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).
Sekelam apapun masalah yang dihadapi, masing-masing orang memiliki masa rehatnya. Rehat untuk mengisirahatkan tubuh dan pikiran dari kegiatan yang berjimbun. Orang-orang setiap hari melalui rutinitas yang sama. Berangkat pagi berpeluh dengan pengendaraan yang lain, sarapan tak sempat, jalan padat, dan sedikit upatan. Setiap orang memiliki waktu paginya sendiri-sendiri. Terkadang waktu pagi seseorang berbeda dengan yang lainnya.
Pagi tidak melulu diartikan matahari muncul dari ufuk timur dan semua aktivitas dimulai lagi. Namun, ada yang berpendapat pagi ketika semua telah terlelap tidur dan ia bersiap untuk berangkat menjemput rezeki. Waktu pagi yang seperti ini milik karyawan yang berkerja dengan sistem kerja shift. Sore adalah waktu ketika semua berpulang untuk merehatkan segala hal yang penat di tubuh dan pikiran. Sore bukan hanya identik dengan jalan-jalan macet, klakson berderit-derit, dan motor dikendari dengan kecepatan tinggi. Sore bukan hanya ketika matahari telah meninggalkan tapak tilas yang berwarna jingga. Sempit sekali pemahaman kita, jika mengenal waktu hanya terpaut matahari dan jam.
Sebagian orang ada yang memiliki sorenya, ketika jalan-jalan mulai tak lagi riuh. Lampu-lampu menyoroti tubuhnya dan hanya ada segelintir kendaraan di jalan aspal. Jalan bekas orang-orang yang berdesak-desakan. Tubuh yang letih dan mata yang sayu, ia memiliki waktu sore ketika urusan sudah beres. Orang-orang seperti ini pulang ‘sore’, ketika keluarga telah beranjak ke tempat tidur. Kadang-kadang ia ‘memeluk’ waktu soreya sendiri. Pasalnya anak, istri, ibu, bapak, dan keluarga lainnya tak dapat ia temui.
Hal ini juga mengenai liburan, orang pada umumnya menganggap libur adalah hari Ahad. Orang mengenal libur hanya, ketika Ahad dan tanggal merah nasional. Aku sekarang tak memiliki dua hari itu. Rutinitas di hari Ahadku dengan memanasi motor, membawa bekal, dan sesekali terburu-buru berangkat. Selain itu, aku perlu mengulang materi, menghela nafas, dan mengumpulkan tenaga untuk mengajar. Ahadku tak dihabiskan dengan pergi ke tempat wisata atau rebahan dengan streaming YouTube. Sama sekali tidak, hal itu hanya sekadar ekspetasi. Orang umumnya mengadakan kegiatan hanya di hari Ahad. Sesekali jika ada agenda yang penting, aku memutuskan untuk tak berangkat ke tempat mengajar. Mengambil resiko membolos. Hahaha. Liburku kini berbeda dengan kebanyakan orang-orang, beberapa temanku menggerutu sebab kami tak dapat leluasa berjumpa. Liburku teralihkan ke Jumat, hari ketika orang-orang bersiap menunaikan ibadah suci. Hari Jumat adalah hari yang berkah untuk makhluk di bumi dan langit. Orang mengatakan hari Jumat adalah hari pendek.
“Memang sependek apa? Waktunya sama 24 jam dan tidak ada yang ditambah dan dikurangi. Hanya asumsi oramg-orang yang mendefiniskan demikian” ujar temnaku suatu ketika.
Dalam sewindu hanya ada satu hari libur, saat hari itu datang sekoyong-koyong aku ingin kesana-kemari. Namun, aku tersadar ruang gerakku terbatas dan lebih selektif dalam prioritas. Hari Jumat, menurutku tak terlalu buruk. Ada banyak waktu untuk sekadar menyelesaikan membaca surah Al Kahfi, berbenah rumah, atau bertemu teman-teman. Mengenai pertemuanku dengan teman-teman, aku yang mengalah dan berkunjung ke tempat mereka. Baiklah bagiku sekarang definisi seni berlibur di bumi, sebab manusia punya waktunya masing-masing.