Beberapa hari lalu mengisi di sebuah acara dengan —seperti biasa — kepemimpinan/leadership. Pada sesi ini aku bahas beberapa karakter seorang pemimpin, dan yang aku cukup highlight adalah menjadi pemimpin itu harus sudah selesai dengan urusan pribadinya.
Sudah selesai dengan urusan pribadinya dalam artian bagaimana. Artinya menjadi pemimpin sudah matang secara emosi. Misal dalam hal pencapaian, dia sudah tidak melirik org lain, dia fokus pada apa yang ia harus kelola saat ini, organisasi. Misal dalam hal perbuatan, dia sudah siap untuk menerima kritik dan siap dikoreksi jika memang salah, bukan malah denial atau mencari pembenaran seolah olah apa yang dia lakukan paling benar.
Jika dilihat dari kacamata saat ini, banyak fenomena pemimpin yang masih kesulitan untuk mencapai sifat ini. Terkadang masih baperan, insecure, masih mendengarkan apa kata org, yang artinya dia belum selesai dengan dirinya. Bahkan seorang kepala negara.
Kita tumbuh dengan keyakinan sederhana: jadi orang baik, maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi hidup nggak sesederhana itu. Semakin dewasa, aku makin sadar... ternyata niat baik nggak selalu menghasilkan dampak yang baik. Bahkan kadang, bisa jadi keliru.
Ada satu kisah yang aku ingat: tentang Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat Nabi yang dikenal sangat jujur dan zuhud. Beliau pernah meminta sebuah amanah kepemimpinan. Tapi Rasulullah SAW justru menolaknya, dengan lembut dan penuh hikmah:
"Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan amanah itu adalah beban yang berat." (HR. Muslim)
Bukan karena Abu Dzar bukan orang baik—justru sebaliknya. Tapi karena menjadi baik saja nggak cukup untuk memikul tanggung jawab besar. Ada kapasitas yang harus disiapkan. Ada kesanggupan yang perlu diuji.
Dalam psikologi, hal ini sering dikaitkan dengan emotional intelligence—kemampuan seseorang untuk mengenali dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain. Salah satu aspeknya adalah self-awareness: sadar sama batasan diri, tahu kapan harus melangkah, dan kapan harus mundur. Kadang kita merasa sedang "melakukan yang terbaik", padahal kita cuma belum sadar bahwa kita belum cukup mampu.
Dan yang lebih sering terjadi: Niat baik, tanpa cara yang tepat, bisa tetap melukai.
Aku belajar bahwa kebaikan nggak hanya tentang sabar, lembut, atau pengertian. Tapi juga tentang bijak membaca situasi, tahu waktu yang pas untuk bicara atau diam, dan berani mengevaluasi diri saat sesuatu terasa “nggak nyampe”.
Dalam Islam pun, kebaikan itu bukan sekadar terasa manis, tapi juga harus selaras dengan kebenaran. Bukan hanya soal hati, tapi juga soal ilmu dan hikmah.
Mungkin ini fase kita sedang belajar. Bukan cuma jadi orang baik, tapi juga jadi orang yang benar—di waktu, cara, dan tempat yang tepat. ✨️
Bibit mangga akan tumbuh menjadi mangga. Prosesnya bertumbuh sampai berbuah, tapi ada juga yang tumbuh tak sesuai timeline dan tak terduga. Dia pernah dipangkas, ditebas, diombang-ambingkan angin. Tapi ia tetap akan berbuah mangga.
Pohon itu mengalami dynamic stabilizer. Bergerak di atas yang tetap, menjaganya supaya tetap seimbang.
Tapi ini bukan soal mangga.
☰
Surat An-Nisa Ayat 34
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, .."
🌷Insight arti Qouwwamah oleh Teh Pepew dan Kang Ulum.
Defaultnya laki-laki itu punya jiwa Qouwwam.
Fitrah itu akan melekat dan bertumbuh dalam jiwa ke Qouwwam annya.
Seperti pohon tadi, dalam proses tumbuh akan menemukan tantangannya.
Jika seorang laki-laki belum menikah maka qouwwam nya akan muncul dalam kiprahnya ia bekerja, dalam komunitasnya, dalam memutuskan hal-hal untuk dirinya sendiri.
Kalau posisinya sudah menikah, katanya -perempuan suka menanyakan hal yang menurut laki-laki "ngapain kok kya gitu ditanyain."
Misal,
P : "Kamu lebih memilih aku atau ibu kamu?"
Kata Kang Ulum yang mewakili seluruh laki-laki (hehe)
Bahwa benak suami itu >>> semua dipikirin.
Poinnya di sini >>> saling memahami kegelisahan. Laki-laki mau belajar dan memahami defaultnya perempuan, dan sebaliknya.
Qouwwam itu sangat luas maknanya. Dari Kang Ulum diartikan kepada ihsan, ADIL, tegak, jernih dalam memandang sesuatu.
Sebagai perempuan harus memahami agar tidak terlukai posisi Qouwwam pasangannya.
Terbayang kalau perempuannya memang dominan dan alpha misal; tapi ke alpha an semenjak masa mudanya dibawa ke rumah tangga dan kepleset tidak menjaga marwah laki-laki, maka mungkin akan tidak baik-baik saja.
Kamu fatherless? Aku fatherless. Kayaknya memang ini masalah anak Indonesia. Hehee.
Kalau kata novel Dompet Ayah Sepatu Ibu>>>
Kita punya luka.
Orang tua kita juga mungkin punya luka.
Memaafkan adalah obat dari segala obat.
YAAA Bapak itu mikirin semuanya loh. Mungkin edukasi parenting saat itu kurang. Dan memang kita bertumbuh kurang peran ayah. Tapi di era sekarang kita bisa belajar untuk menjadi orang tua yang hadir nantinya dan menjadi anak yang tidak perlu menyalahkan cara orang tua mengasuh kita.
Back to >>>
Semoga jika kita kebanyakan merasa menjadi perempuan yang mandiri di masa singlenya, alpha dan bisa memimpin, berkarir dan punya penghasilan; tapi jangan sampai mencederai fitrah pasangan, Qouwwam nya.
Dicontohkan, cara menjaga fitrah Qouwwam di dalam rumah.
Perselisihan istri (I) dengan mertua (M). (Kalian overthinking juga ngga sih nanti punya mertua kaya gimana wkwk)
Di sini I dan M ngga boleh maju sendiri dalam perselisihan. Paham kan perempuan vs perempuan kadang pake mulut hwhwhw.
Karena si Qouwwam (Q) akan merasa tidak dihargai, >>> padahal punya peran yang ADIL soal ini.
Kembali lagi Qouwwamnya juga harus pinter exexexe >>>
Q ketika bersama M: "Ngga apa-apa, Bu. Dia masih belajar. Ibu juga pernah diposisi dia kan. Maklumi ya, Bu."
Q ketika bersama I: "Ga pa pa. Ibu sudah sepuh jadi suka begitu, kamu maklumi saja ya."
Kurleb gitu.
Fitrahnya laki-laki punya jiwa Qouwwam. Tapi munculnya bagaimana ketika berperan tergantung dari faktor eksternal juga. Makanya kita sebagai perempuan juga perlu paham dan bisa memposisikan diri.
Ketika berada dalam suatu kelompok atau forum, apa sikap terbaik yang kamu pilih ketika dihadapkan dengan berbagai macam pendapat orang lain ketika tengah memutuskan atau menyepakati suatu hal? Apakah kamu berani menyuarakan pendapat versimu sendiri atau menjadi pihak yang netral dalam memandang semua pendapat yang dilontarkan? Atau diam saja menunggu keputusan berhasil disepakati?
Apapun jawabanmu, tidak ada yang salah. Semua tergantung pilihan masing - masing. Tapi di sini, izinkan aku tuk mengajakmu berpikir mengenai 'bagaimana kalau kita menjadi pihak yang netral saja terlebih dahulu?' Sampai sini dulu deh, pasti kamu mengernyitkan dahi, "Lhoh kok cuma jadi netral² aja sih? Kok gak punya keberpihakan sih?"
Jangan salah, netral tidak serendah itu. Coba kita lihat definisi netral menurut kbbi, netral artinya tidak berpihak. Oke, menurutku, untuk kita bisa memberikan pendapat yang obyektif dan rasional, kita perlu dalam kondisi yang netral, entah pikiran kita atau pun perasaan kita. Ketika kita bisa netral dalam memandang sesuatu, kita akan lebih mudah untuk melihat dengan logika dan nalar, bukan berdasar pendapat yang paling kuat dan dominan, pun jika pendapat itu berasal dari orang yang kita percayai. Ketika kita bisa mengondisikan pikiran dan perasaan kita dalam kondisi netral, kita akan lebih mudah mengenali, mana pendapat orang lain yang memang untuk kepentingan umum dan mana yang hanya untuk kepentingan pribadi. Kita juga akan lebih mudah untuk memakai segala sudut pandang, pun jika itu pendapat dari orang yang kita tidak sukai sekalipun.
Netral yang ingin aku tekankan di sini adalah bagaimana kemampuan kita dalam menilai sesuatu itu dengan pikiran yang jernih dulu, tanpa adanya dorongan dari pihak tertentu, tanpa adanya rasa sungkan kepada orang yang kita percayai dalam forum itu, dan tanpa ada ego yang menyertai. Apa jadinya kalau baru awal saja kita sudah berambisi bagaimana supaya pendapatku diterima, bagaimana aku speak up agar ideku ini terlihat memukau, dan sederet keinginan lain yang sebenarnya itu hanyalah ego yang dibungkus dengan "berani speak up menyuarakan pendapat".
Netral yang aku tekankan juga tidak untuk semua keadaan. Pada awalnya kita memang perlu netral, tetapi kemudian kita juga perlu berani mengambil pilihan, membuat keputusan. Tentu pilihan ini lagi- lagi jangan sampai berdasarkan kecenderungan kita pada siapa yang berpendapat/siapa yg usul/siapa yang ngasih ide, tetapi lebih ke seberapa penting dan bekerjanya ide tersebut jika dieksekusi. Ingat, kita harus tetap tegas memilih atau membuat keputusan. Namun, ketika proses menentukan pilihan itu, kita perlu mengondisikan pikiran dan perasaan kita dalam keadaan netral.
Ada metode yang pernah saya baca dalam membentuk kepemimpinan, yaitu menggunakan metode 10/20/70.
Sistem ini membagi waktu dan usaha yang kita berikan untuk pemimpin selanjutnya. Dengan 10% memberikan pengetahuan dasar, 20% dengan memberikan mentoring atau pendampingan, dan terakhir 70% adalah memberikan kesempatan untuk mencoba.
Tadi malam saya banyak diskusi dan mendengar keluhan dari adik tingkat yang melanjutkan perjuangan di fakultas. Cerita tentang rekan kerjanya, merasa capek, merasa tidak di bersamai dan lain-lain.
Dari diskusi tersebut, saya merenung, Kenapa kita hanya perlu 30% saja untuk memberikan pengetahuan dan pendampingan. Ternyata, pengetahuan yang kita berikan belum tentu relevan dengan apa yang mereka rasakan, pendampingan dengan segala cerita masa lalu kita, belum tentu cocok dengan cara kerja mereka.
Sehingga, menurut saya memberikan 70% kesempatan mereka mencoba adalah sarana pemberian kesempatan kepada mereka untuk mencoba teori yang kita gunakan, apakah cocok dengan mereka. Melihat kesalahan di lapangan, dan mencoba cari solusi yang terbaik dan cocok untuk mereka sendiri. Karena berjalannya mereka menjadi pemimpin, adalah tanggung jawab mereka sendiri dan mereka sendiri yang merasakan.
Kita sebagai mentor, hanya bisa memberikan bayangan, karena berjalan dan bergeraknya mereka, adalah keputusan mereka sendiri. Membiarkan mereka dalam bayang-bayang pengalaman dan teori kita hanya menyebabkan mereka berada dalam ketergantungan dan bisa lemah jika pada suatu hari kita tidak bisa membersamai.
Pada akhirnya, membiarkan dan memberikan kesempatan untuk bergerak dan mengambil keputusan sendiri adalah wujud pembinaan terbesar kita untuk membentuk kepemimpinan selanjutnya.
Jadi, apakah ada cara lain yang kalian gunakan untuk membentuk kepemimpinan selanjutnya? atau kalian punya pengalaman berbeda?
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, sebagaimana dalam An-Nisa’ ayat 34 dijelaskan arrijalu qawwamuna ‘alan nisa’. Setidaknya kepemimpinan laki-laki atas perempuan memuat perihal tentang:
1. Bertanggungjawab
Saya sangat yakin, tidak ada perempuan yang mau menikah dengan laki-laki yang tidak bertanggungjawab. Semua menginginkan pasangannya adalah sosok yang bertanggungjawab. Mampu memberikan tanggungjawab yang lahir dan yang batin.
Tanggungjawab lahir dengan memberikan tempat tinggal yang layak, tenang dan mendamaikan. Memberikan nafkah yang halal, thayyib, dan mencukupi. Tanggungjawab batin dengan memiliki kapasitas keilmuan untuk membimbing dan mendidik, istrinya dan anak-anaknya nanti.
Bayangkan, kalau seandainya laki-laki yang kamu pilih adalah sosok yang tidak bertanggungjawab? Bisa jadi di tengah perjalanan, karena konflik yang sepele, dia meninggalkanmu dan anak-anakmu begitu saja. Apa jadinya?
2. Keteladanan
Laki-laki yang mampu memberikan keteladanan untuk keluarganya adalah sosok yang paham tentang makna mendidik. Sebab, pendidikan berdasarkan perbuatan adalah cara terbaik untuk memberikan contoh.
Misalnya begini, seorang ayah yang melarang anaknya untuk merokok. Eh, ternyata dia dengan nyata-nyatanya merokok di depan anaknya tersebut. Bagaimana caranya pendidikan yang dilakukannya bisa sampai kepada anaknya sedangkan dia sendiri tidak memberikan keteladanan yang nyata.
Sebagaimana satu dari sekian metode berdakwah adalah dakwah bil hal, berdakwah dengan memberikan keteladanan dengan perbuatan nyata. Biasanya akan lebih ngena dan sampai kepada mad’u (objek dakwahnya). Begitu pun dalam berkeluarga, didiklah istri dan anak-anakmu dengan keteladanan perbuatan yang sebaik-baiknya.
3. Berperasaan
Suatu riwayat dalam Tafsir Ibnu Katsir yang menjelaskan tentang An-Nisa ayat 34 diceritakan ada seorang laki-laki kalangan Anshar yang menemui Rasulullah dengan perempuan mahramnya. Kemudian laki-laki ini berkata kepada Rasulullah, “Duhai Rasulullah, sesungguhnya suami perempuan ini telah menampar wajahnya hingga membekas padanya.” Rasulullah pun menjawab bahwa laki-laki tersebut tidak boleh melakukan hal itu.
Kepemimpinan laki-laki haruslah tegas, tetapi bukan keras. Ketegasan seorang laki-laki akan linear dengan kelembutan perasaan yang ia miliki. Ia akan memimpin dengan cinta, kasih dan sepenuhnya sayang pada pasangan dan keluarganya. Laki-laki tidak boleh menampar, tidak boleh menghardik, tidak boleh membentak kasar, sebab istrinya adalah perempuan dan ia memiliki perasaan.
Bayangkan, di rumah tanggamu, pemimpinnya adalah sosok yang kasar, keras, gampang marah, emosinya meledak-ledak, mencari-cari kesalahan, menamparmu dengan semena-mena, membanting pintu dsbnya. Apa kamu tahan? Apa kamu mau?
Dari filosofi kepemimpinan yang sudah saya pelajari, ada beberapa yang “breath taking” karena merubah beberapa pemikiran saya. Salah satunya adalah filosofi “makan terakhir”; ternyata tidak semudah menahan makan semata.
Sejauh ini saya sudah pernah memimpin beberapa kelompok; kelompok kecil dalam belajar, team kerja berbagai bidang, angkatan pertukaran pelajar, dan organisasi-organisasi yang tidak kecil. Tapi satu hal yang selalu menjadi pertanyaan saya; bagaimanakah kepemimpinan saya?
Pernah memimpin, belum berarti otomatis pintar memimpin. Bedakan.
Tidak sedikit kritikan saya terima di akhir jabatan, dan menjadi legowo adalah hal yang sangat mendasar dalam kehidupan saya. Terkadang saya mencari pengembangan diri dengan cara aktif; menanyakan langsung kepada anggota kelompok satu-persatu.
Ada saatnya saya sangat buruk dalam performa, ada saatnya juga saya sempat hampir melenceng dari visi yang dibawa, pun saat personal feeling mempengaruhi kinerja sebuah tim. Beberapa hikmah saya pelajari dari pelajaran yang pahit sejak pertama kali memimpin suatu kelompok; biarlah itu menjadi kenangan saya pribadi.
Namun intinya, beberapa nilai kehidupan tersebut ingin saya bagikan di sini.
Mengapa Pemimpin Makan Paling Terakhir?
Mengutip dari Simon Sinek dalam bukunya , Marine Corps mempunyai tradisi dalam melatih timnya. Itulah mengapa saya menaruh gambar tentara di atas hohoho. Tradisi tersebut menarik.
Ketika makan bersama, pemimpin dalam suatu squad tidak jarang makan paling terakhir; ia mendahulukan anggotanya.
Tahu porsi makan orang barat yang tidak sedikit? Terlebih, tahu porsi makan tentara? Banyak, bung.
Hingga akhirnya, seringkali ketika pemimpin squad hendak mengambil makanan, hanya sedikit yang bisa ia makan; bahkan tidak tersisa apa-apa.
Tapi ia tenang. Ia puas berkorban agar anggotanya tidak ada yang kekurangan ; dan ia harus puas.
Tapi tradisi tidak berhenti di situ.
Sebagai anggota, dalam mengambil makanan, tidak sedikit dari mereka yang disisakan untuk disimpan. Ketika jam makan siang selesai, adalah giliran mereka untuk berkorban demi pemimpinnya; mereka berbagi bagiannya kepada pemimpinnya.
Awalnya saya bertanya, “mengapa mereka tidak begitu saja menyisakan satu piring ketika mengambil makan? mengapa sesusah itu dalam memberikan makan? semua kan dapat jatah,”
Ternyata tidak semudah itu. Suatu tim yang baik, organisasi yang baik, harus mempunyai trust di dalamnya. Tanyakan kepada mereka, dan jawaban mereka sama semua, “karena saya yakin, mereka akan melakukan hal yang sama kepada saya,”. Tingkat trust seperti ini yang membuat mereka merasa aman, terbuka, dan nyaman. Environment seperti ini perlu dibangun. Membangunnya pun tidak terbatas pada satu dua cara; semua perlakuan harus berdasar pada rasa “membangun trust”. Bukankah itu dasar dari kita, yang membentuk kita menjadi manusia?
Ada cara yang sedikit berbeda pada Nelson Mandela.
Tahu Nelson Mandela? You should know him, one of the “world changer”, go study the guy !
Dia pernah bercerita, salah satu pelajaran yang ia dapat dari ayahanda dalam memimpin. Ayahnya adalah seorang kepala suku, dan dalam membangun rasa, ada dua hal yang simpel dan selalu ia lakukan dalam setiap perkumpulan :
1. Duduk melingkar
2. Bicara paling terakhir
Sudah. Aneh ya? Yuk perhatikan.
Duduk melingkar bertujuan untuk menyamaratakan kesempatan dan keterbukaan; ketika ketua duduk berjajar dengan anggota, seakan tidak ada barrier di antara mereka.
Bicara paling terakhir bertujuan untuk memberi keleluasaan kepada tiap orang untuk beropini tanpa terpengaruh oleh opini ketua. Sebegitunya. Ketua harus menahan egonya, itu penting dalam organisasi; bahkan dalam hidup sesama.
It is what drives me, always.
Dalam memimpin pun, ternyata perlu banyak belajar, dan saya selalu ingin mempelajari itu. Belajar, tidak terbatas pada buku, saya sadar hal itu. Belajar bisa dari sejawat dalam memimpin, bisa dari guru dalam mengajar, bahkan (yang terpenting) dalam kinerja dalam keluarga; organisasi kecil yang memegang peranan besar. Dalam belajar pun, kita harus punya why yang kuat. Tanpanya, kita akan goyah dan terlena dengan posisi. Padahal kepemimpinan itu aksi, bukan posisi.
Maka mari kita dalami kutipan ini, wahai para pemimpin apapun,