“Halo, Rany..." tut...tut..tut.
Sudah hampir setahun lebih, tak terdengar lagi dering telepon selularku berdering 3 kali sehari.
Sudah hampir setahun lebih, tidak lagi kudengar bunyi suara di seberang sana menanyaiku, "Halo, sudah berangkat ke kampus, nduk?";
atau "Halo, sudah pulang belum jam segini dari kampus?";
atau sekadar pertanyaan-pertanyaan sederhana lainnya.
Sudah hampir setahun lebih rasanya, tak kurasakan dan kulihat tubuh akungku yang kekar dan gagah seperti biasanya.
Tapi sudah hampir setahun lebih juga;
dering whatsappku berbunyi, terutama ketika jam sarapan atau makan siang,
"Hari ini akung makan pakai perkedel dan bandeng kesukaannya, lahap lho, habis bersih." Lapor Eyang Ti di grup keluarga.
Telihat Akung tersenyum kecil di foto yang ikut disertakan.
Setahun lebih itu telah berlalu.
Sedikit demi sedikit mengubah pandanganku.
Beliau yang selalu mendukungku, beliau yang selalu menelponku, menanyakaan keadaanku, tak pernah absen walau sehari, beliau yang sekarang masih sempat-sempatnya menelpon walau sudah sulit berbicara, hanya untuk bertanya, "Halo, Rany sedang apa, akung kangen."
Tak kuasa rasanya aku menjawab.
Menua memang tak bisa dihindari. Semoga kesehatan selalu menyertaimu, maaf belum bisa menjadi sebaik yang Akung harapkan.
.
.
"Halo?" Eh teringat, belum sempat menelpon Akung hari ini, padahal tidak sedang ngapa-ngapain.