semalam, aku menelepon ibu.
aku bercerita sedikit tentang hari-hariku, juga tentang tugas-tugasku. aku bertanya kabar ibu, apa yang hari ini dilakukan ibu?
ibu pergi ke sana kemari. ada ayah yang hapenya ibu pinjami. aku bercerita banyak pada ayah tentang keseharianku, tentang kendala yang kuhadapi. ayah mendengarkan. ketika diminta mendoakan, ayah bilang, selalu didoakan.
hape kembali ada di tangan ibu di dapur. ibu duduk menjawab teleponku. ibu bilang, ibu tidak pernah mau menelepon terlebih dahulu. katanya, takut mengganggu. jadi, biarlah aku yang mengawali semua percakapan dan panggilan itu.
lalu ibu gantian bercerita. tumbuh dewasa (baru belajar, tentunya), membuatku sadar akan satu hal. mungkin, ibu juga butuh teman bercerita.
sebagaimana aku yang walau tidak bisa menceritakan semuanya membutuhkan teman, ibu juga membutuhkannya.
ibu bercerita soal banyak hal meskipun disampaikan singkat-singkat. ibu bilang, mudahkan banyak orang, Allah yang akan mudahkan urusan kita. ibu menjelaskan beberapa pengalamannya yang berkesan. aku masih mendengarkan. kemudian ibu bilang, tugas kita hanya berusaha. urusan hasil itu, Allah yang berkuasa. ibu menyebutkan beberapa contoh dari kisah kesehariannya. aku pun mendengarkan. ketika minta didoakan, ibu bilang, selalu mendoakan.
semalam, aku menelepon ibu. aku mencatat baik-baik pesan ibu di jurnalku. aku mengenang kembali bahwa ibu adalah manusia sebelum menjadi ibu.















