Ndak apa, yang penting kita jangan menyakiti orang lain
Seperti biasa aku menghabiskan waktu di depan laptop, ngutak atik PPT dan kerjaan yang dibawa pulang ke kosan. Tetiba telepon seluler ku berbunyi (sudah lama ndak membunyikan hp, hanya mode getar saja, dan kadang merasa kaget kalau tiba-tiba hp bunyi sendiri). Bapak menelepon.
Saling jawab salam, tanya lagi apa, sudah sarapan atau belum, rutinitas tiap telepon, tapi aku suka. Apalagi yang nanya Bapakku, Mamak atau adek-adekku. Suka aja.
Dilanjutkan dengan bercerita kabar masing-masing. Dan Bapak masih sakit ternyata. Sudah berobat, tapi belum pas juga.
Lalu berlanjut dengan obrolan tentang tabungan, kemudian tentang seseorang. Katanya Bapak siap kalau orangnya mau ketemu Bapak, bulan depan. Kaget! Lalu terdiam. Dan aku cuma bisa menjawab, "maafkan Emba, Pak. Sepertinya belum jadi lagi. Orangnya memilih mundur."
"Beliau pengen istrinya kelak stay di rumah dan ndak ikut kegiatan-kegiatan luar. Dan Emba merasa belum sanggup untuk itu.", jawabku. Bagaimanapun aku yang ndak terbiasa diam saja, merasa belum sanggup untuk hanya menghabiskan 24/7 ku di rumah saja. It seems hard.
"Karena itu aja?", beliau mencoba menggali lagi.
"Sebenarnya ada alasan lain. Orangnya agak keberatan jika diminta beradaptasi dengan kondisi sosial di lingkungan kita.", aku coba menambahkan.
"Ya udah ndak apa. Semua Allaah yang atur. Yang penting kita jangan sampai menyakiti orang lain. Kamu yang sabar ya Mba."
Begitulah. Ndak protes, ndak marah, ndak men-judge. sesederhana itu, dan sangat menenangkan.
"Nggih, Pak. Minta doanya ya Pak. Semoga Allaah bantu n bimbing Emba selalu."
"Pasti, Ndhuk. Ya udah sarapan sana. Biar seneng lagi. Makan yang enak."