Fase Hidup: If it's up to be, it's up to me!
Kita, manusia, normalnya selalu tumbuh dan berkembang. Sejak dalam kandungan, dua hal itu yang selalu dipantau. Usia sekian bulan, berat badanmu harus sekian. Di usia sekian bulan, kalau kamu belum menendang-nendang di dalam rahim ibumu, orang tuamu pasti khawatir. Begitu lahir, berat badanmu juga tidak boleh kurang dari sekian gram. Gigimu juga harus tumbuh di usia sekian bulan.
Berarti ada yang tidak beres. Begitu kan?
Pertumbuhan kita selalu terstandar.
Barangkali, untuk pertumbuhan fisik memang harus begitu. Tapi untuk yang lain, tunggu dulu...
Kalau misal dulu di usia satu tahun kamu belum tumbuh gigi, pastinya orang tuamu akan panik dan pergi ke dokter. Nah, apakah kepanikan yang sama harus muncul ketika fase hidup kita sekarang berada di satu anak tangga lebih bawah daripada teman-teman sebaya?
Memangnya kenapa kalau, misalnya, teman-temanmu sudah mulai menimang anak sementara kamu bahkan belum kepingin jadi orangtua?
Memangnya ada yang salah kalau kamu masih berkutat dengan skripsi kalau teman-temanmu yang lain sudah jadi sarjana?
Udah keseringan dengar nih betapa sebalnya orang-orang dengan pertanyaan "KAPAN......?" (note: isilah titik-titik tersebut dengan 'lulus'? 'kerja'? 'nikah'? 'punya anak'? dst)
Banyak yang bilang, hal-hal yang baik itu harus disegerakan (biasanya sih terkait pernikahan ini, hihi). Tapi kalau boleh saya bilang, sebagai orang dewasa kita harus tahu apa yang kita lakukan.
Don't do anything just because the others do the same.
Lakukan sesuatu karena kamu memang menginginkannya, karena kamu tahu konsekuensinya, dan kamu siap dengan apapun yang terjadi setelahnya. Dengan demikian, kamu bisa menikmati setiap prosesnya dan lebih bersyukur.
Saya respek sekali dengan mereka yang dengan kesadarannya memutuskan untuk menikah muda, tidak menunda punya anak, dan respek yang sama juga saya tujukan untuk mereka yang memutuskan untuk tidak punya anak karena merasa tidak cocok untuk membesarkan anak!
Meskipun konten keputusannya bertolakbelakang, keyword-nya sama: KEPUTUSAN SENDIRI
Banyak tokoh powerful’ yang dikenal dunia sebenarnya bukan sebagai orang pertama yang mengetengahkan penemuan atau gagasannya. Mereka menjadi powerful karena memegang kendali atas hidupnya sendiri. Meletakkan tanggung jawab dan mengklaim kepemilikan peran pada dirinya sendiri. Bahwa dirinya sanggup membuat pilihan, and make a stand.'If it's up to be, it's up to me'