Surat kepada Fauzan
Fauzan, aku asing dengan nama itu. Pertama kali kita berkenalan kamu bilang nama panggilanmu Miftah. Ketika kita bercengkerama lebih dekat, kamu bilang lebih akrab jika dipanggil Ojan. Sekarang setelah satu tahun tujuh bulan bersama, panggilanmu beragam. Ayang, bego, sialan, brengsek, maaf. Kupikir kisah cintaku akan lebih baik, ternyata tidak. Tapi seperti kata orang bijak, tidak ada pelangi jika tidak ada hujan. Walau aku lebih memilih panas terik tanpa pelangi sekalipun kala itu. Sebelum kamu berbuat salah aku tidak perduli kamu jalan dengan siapa. Bahkan jika kamu jalan dengan pelacur pun, aku percaya. Prinsipku adalah untuk percaya dengan seseorang tanpa berpikir negatif sekalipun. Tapi kenapa kamu malah ubah prinsipku? . . Yang. Kenapa ya kalau di surat kesannya menjijikan. Kayak sinetron gitu. Kamu tahu aku benci sinetron semenjak tahun lalu. Kalau kamu main sinetron, aku tentunya bangga, tapi tidak lupa mencemooh juga. Ya, itu hak mu, aku tak melarang, tapi juga tidak munafik bilang kalau aku benci sinetron. Malah aku benci dunia hiburan. Aku pernah tuntut kamu untuk keluar dari dunia itu. Bahkan aku sempat tertekan untuk ikut casting. Tertekan melihat orang-orang sekitar yang lempar senyum tanpa makna. Salim dengan orang tak dikenal. Padahal tujuan semua di situ satu; uang. Tak usah ditutupi, tujuanku juga satu, uang, karena kalau tidak casting, makan apa kucingku? Uang mengajarku cuma cukup untuk modal tugas kuliah. Mungkin aku perlu jual kucingku biar tidak usah casting. Tapi lama-lama aku cinta berakting, yang. Motivasiku berubah. Selain uang, tujuan lainku adalah untuk mengalahkanmu. Tapi ketika melihatmu jatuh, kenapa aku malah sedih bukannya girang? Cinta adalah satu hal yang tidak bisa diterka, dan bisa membuat gila orang lemah. Dan aku hampir gila dibuatnya. Bahkan aku jadi bertingkah konyol sampai buka primbon dan cek kecocokan namamu dengan namaku. Cek ramalan tanggal lahir, hasilnya gak cocok. Cek ramalan nama, hasilnya cocok abis. Primbon, kok kamu sialan bikin aku tambah bingung. Tapi memang akunya saja mungkin yang terlampau konyol menggantungkan hubungan lewat ramalan internet. Yang, barusan kamu pulang dari rumahku. Aku masih mau bicara banyak sama kamu. Aku pengen ngobrol nggak jelas, nonton film di laptop, makan mie pake cabe rawit, terus tidur. Sampai malam. Sama kamu. Kalau suratku nggak nyambung maaf, isinya memang nggak penting, tapi aku emang suka ngomongin hal gak penting sama kamu. . . . @kitajabodetabek














