Cerpen - #1 Bagaimana Mencintai Ibu?
Saat-saat membahagiakan bagi seorang perantau adalah pulang kampung, Guna menyusun ritme yang acap kali berantakan. Sebab, kehidupan di tanah rantau adalah kehidupan yang tidak mudah. Menantang.
Seorang gadis menatap nanar sesosok wanita setengah abad lebih, yang sedang mencuci piring sambil mengucapkan kata-kata sumpah serapahnya.
“Gimana mau sehat, orang nyuci aja engga bersih.”
Gadis ini hanya menghela nafas panjang. Masih saja begitu. Komentarnya ketus dan sedikit kecewa.
“Pelita, lagi apa disana?”
Sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi chat milik gadis bernama Pelita itu.
“Haha. Senang, dong. Ketemu ibu dan keluarga.” Balasnya dengan wajah masam.
“Senang dari mana? Atmosfernya selalu begini kalau pulang. Bosan. Isinya ngomel terus, marah terus. Santai aja kenapa sih. Terlalu perfeksionis.” Gerutunya sendiri.
“Pelita, makan dulu,” Teriak wanita itu.
“Iya...” Sahutnya malas-malasan.
Sesampainya di dapur, atmosfer berubah menjadi sedikit hangat karena ibu dari Pelita sudah mulai mereda amarahnya.
“Bu, kenapa sih marah-marah terus. Santai aja kali bu. Kan bisa dikerjain besok pagi. Kenapa engga coba bicara baik-baik sama bibi, kalau cuciannya harus bersih.”
“Susah lah! Ibu udah coba juga, terus aja kaya gitu. Dari pada ngomong terus, mendingan ibu yang kerjakan.”
Pelita menghela nafas...
“Kenapa? Kamu engga suka ibu kaya gini? Ya udah. Engga usah komentar.”
Pelita membelalakkan matanya. Dan mengedipkannya sekali, karena sadar ibunya segera berbalik arah menuju dirinya yang sedang duduk di meja makan.
“Ya, kan aku cuma ngasih tahu. Santai gitu loh bu. Engga usah terlalu perfeksionis. Kan jadi ibu juga yang capek.”
Ibunya hanya diam saja. Atmosfer berubah. Dari yang tadinya panas oleh ego masing-masing, kini bertambah dengan suasana dingin yang menusuk tulang. Musim kemarau rupanya memanja sekali di malam hari. Tidak segarang ketika siang hari.
Makan pun jadi tidak enak. Kaku, canggung, dan berdebar. Seolah tertahan untuk mengeluarkan sepatah-katapun.
“Itu ada lowongan kerja di Rumah Sakit tempat ibu kerja. Mau ngga?” Dengan nada sedikit ketus.
“Engga bu...” balas Pelita tidak ikhlas.
“Itu lumayan loh gajinya. Daripada kamu disana, engga dapet uang banyak. Bisa nabung aja engga. Insentifnya gede.”
“Engga bu, belum kepikiran.”
“Ya uwis...” balas ibu ketus, sambil menggigit sepotong tempe goreng yang sudah dingin semenjak 1 jam lalu didiamkan.
“Kenapa sih engga mau disini? Kamu takut engga bebas, apa?”
“Engga bu.. Ya, engga mau aja. Ngga papa, kan? Emang kenapa sih, ibu kekeuh banget aku tinggal disini?”
“Tuh kan. Males ibu jadinya kalau kamu udah marah-marah.”
“Siapa yang marah-marah.” Ketus Pelita.. “Kan aku cuma nanya.. Aku juga kan bertahan disana ada alasan, bu. Ada sesuatu yang ingin aku capai disana.”
“Emang disini engga bisa, apa?”
“Engga... Engga ada.” Tenggorokan Pelita seolah tertahan oleh sesuatu yang besar. Enggan mengeluarkan apa yang ingin dia keluarkan. Takut akan respon keji yang akan ibu lontarkan.
“Aku disana pengen belajar Islam lebih giat bu. Aku pengen jadi hamba Allah yang utuh menghamba. Kan kita diciptakan sama Allah untuk beribadah kepada Allah. Disana aku bisa dapat itu. Disini engga.”
Ibu terdiam.
“Al-Qur’an itu petunjuk hidup, bu. Harus aku jadikan pedoman hidup. Disana aku bisa dapat dan belajar itu.”
“Karepmu, lah. Kamu lebih mentingin temen-temen kamu toh? Daripada ibu disini, kan? Kamu bisa bebas disana. Disini mah engga.”
“Ya terserah ibu aja! Kalau ibu engga percaya.” Pelita bangkit dari duduknya. “Males aku jadinya.” Keluhnya lirih.. Dan berlalu dengan emosi yang menggebu.
--------------------------------
Kenapa kalau pulkam teh selalu gini? Capek, males jadinya. Orang pengen liburan, malah diginiin terus, Dipaksa lah, di-suudzon-in lah. Capek aku jadinya. Males mau pulang lagi, teh. Mendingan di sana aja.
“Terserah kalau kamu engga mau dengerin ibu. Suka-suka kamu aja sana hidup. Ibu engga akan ikut campur dan engga akan peduliin kamu. Engga usah cari ibu kalau kamu butuh ibu. Tuh, ada temen-temen kamu.”
“Ibu kenapa sih?”
“Kamu yang kenapa! Dibilangin susah.”
Pagi itu dimulai dengan bahasan yang sama. Niat hati Pelita ingin memahamkan ibu soal apa yang dia pahami. Kini, sang ibu yang sedang berdandan siap-siap ke kantor pun, malah menaikkan lagi nada bicaranya.
Dan kemudian berlalu sambil mengucapkan salam yang kosong. Tanpa ketulusan hati berucap.
---BERSAMBUNG---



















