Ngado Buku
Sudah satu jam Hana berjalan dari satu sudut ke sudut lainnya. Menengok rak bagian atas lalu jongkok melihat rak bawah. Diambilnya satu buku, dikembalikan lagi. Tidak cocok. Kembalilah dia berjalan menuju tumpukan 'Buku Laris'. Dilihatnya pekat-pekat judul buku yang mengusiknya sejak tadi.
"Dari tadi muter-muter, ujungnya ke buku ini terus. Udah ambil aja." ujar Ayla, gemas.
"Enggak ah, ini buat aku sendiri nanti. Bulan depan, pakai uang tabungan, bakal kubeli."
Tidak mau dengar komentar Ayla, akhirnya Hana berjalan menuju mesin pencarian. Dia baru ingat satu judul buku yang sekiranya cocok untuk Lili yang berulang tahun pekan depan. Ditulisnya di kolom judul: Ayah; penulis: Andrea Hiarata. Kosong.
"Udahlah, ngado selain buku aja, deh."
"Gak spesial."
"Daripada gak nemu juga yang cocok buat Lili."
"Ya itu letak spesialnya. Dari tadi aku muter-muter itu sambil mikir. Inget-inget kebiasaannya Lili apa, kesukaannya dia apa, yang gak disukain apa, sifatnya dia gimana, apa yang lagi dia butuhin sekarang, masalah apa yang sering ngusik dia akhir-akhir ini. Aku pengen semua itu terangkum dalam satu buku. Khusus buat Lili, ungkapan sayangku buat dia."
"Terserah, deh, terserah." kata Ayla, menyerah.
Entah sejak kapan, buku selalu menjadi jawaban atas kebingungannya mencari hadiah. Ayahnya ulang tahun, dikadonya buku. Ibunya ulang tahun, diberinya buku. Kakaknya akan menikah, buku pula menjadi hadiahnya. Buku, buku, dan buku. Tidak ada yang lain. Dia berpikir bahwa buku akan kekal selamanya. Investasi paling utama.
Kalau sepatu sebagai hadiah, nanti kekecilan, kebesaran. Kalau baju sebagai hadiah, dipakai, lusuh, jadi kain pel, selesai. Kalau tas sebagai hadiah, dipakai, rusak, selesai. Kalau jam tangan sebagai hadiah, juga berakhir rusak, selesai.
Semua akan selesai. Berakhir.
Kalau buku?
Kalau suka, dibaca, tamat, ditaruh di rak buku.
Kalau ga suka, dibuang sayang, ditaruhlah di rak buku, tapi belum berakhir.
Bisa dia pinjamkan bukunya, atau tetap disimpan buat anak cucunya.
"Ya udah, deh, ini aja. Semoga Lili suka." dibawanya satu buku menuju kasir. Baru dua langkah dia berjalan seketika dia berhenti.
"Bentar, deh, Ay."
"Apa lagi?" tanya Ayla, kesal.
"Dari tadi aku lihat-lihat buku tapi kok gak lihat harganya ya?"
"Kenapa emang? Uangnya gak cukup?"
"Bukan itu, ini loh." kata Hana, menunjuk harga buku di sampul belakang.
"Hm? Kenapa?"
"Sekarang harganya kok gak nempel di barcode yang bisa dilepas itu. Kalau gini kan jadi ketahuan dong harga bukunya berapa." jelas Hana dengan memasang wajah kecewa.
"Terus?"
"Beli gak ya?"
"Hadeuh."
















