11.3 Peran Orang Tua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas
Jika ada pertanyaan berdasarkan judul di atas, pasti banyak orang yang bertanya "kenapa orang tua? Apakah yang lain juga tidak berperan?". Jawabannya tentu penting juga ya orang sekitar terhadap keberlangsungan fitrah seksual seorang anak, tapi, bukankah segala sesuatunya berawal dari rumah? Sumber pendidikan utama itu di rumah.
Nah, mari kita lihat sejenak realita yang ada saat ini, apakah ada yang salah setelah kita mengetahui beberapa kasus penyimpangan fitrah seksualitas? Yukkk kita cek bareng-bareng...
Nah... Nah... Nah...
Miris gak bacanya? Miris banget yah! Faktor lingkungan sangat mempengaruhi ketahanan fitrah seksualitas seorang anak. Anggota keluarga yang terdekat siapa lagi kalau bukan kedua orang tua sang anak. Kedua orang tuanya lah yang berkewajiban mendidik dan merawat fitrah seksualitas sang anak supaya dia bisa mempertahankan keimanannya sesuai dengan fitrah seksualitas yang Tuhan ciptakan, karena banyak kasus fitrah sesksualitas menyimpang diakibatkan oleh lingkungan yang tidak sehat.
Maka dari itu masing-masing orang tua memiliki peran yang penting dalam mempertahankan fitrah seksualitas sang anak.
Coba mariii kita renungkan, sudah sejauh mana kita sebagai orang tua bisa mendampingi anak-anak kita dalam menjaga keutuhan fitrah seksualitasnya?
Kalau sudah direnungkan pasti muncul pertanyaan di benak kita "ok, step selanjutnya saya harus gimana ya?" Atau.. "gimana caranya ya?". Ust. Harry Santosa yang merupakan salah satu pakar Fitrah Based Education dalam bukunya menerangkan tentang tahapan-tahapan mendidik fitrah seksualitas berdasarkan usianya, cekidot!
Dari sini... Pasti semakin menimbulkan pertanyaan yahh masih dengan pertanyaan "teknisnya gimana sih?".
Ini jawabannya...
Sudah jelaskah buibu, pakbapak?
Sangat jelas ya teknisnya bagaimana?
Alhamdulillaaah 🥰
Nahhh yuk, mulai sekarang terapkan kepada anak² kita berdasarkan usianya supaya anak² kita bisa selamat dan tidak terjerumus kepada penyimpangan fitrah seksualitas, InsyaAllah.
Kemudian untuk menyuntik semangat kita sebagai orang tua untuk lebih mawas dan waspada juga terhadap semakin banyaknya penyimpangan seksual, berikut ada kasus nyata yang bisa kita ambil pelajaran dan hikmahnya
*Sudah mendapatkan izin share tulisan ini. Tolong tidak dishare lagi ya tetehs*
Perkenalkan saya Nur Hidayat (nama samaran)
Saya seorang SSA (Same Sex Attraction) yang sudah beristri dan mepunyai seorang putra. Saya mencoba mengingat kembali apa yang menjadikan saya seorang SSA. Semoga kisah ini bisa dijadikan pelajaran untuk member grup MM sekalian.
Kata orang tua saya, dulu saya adalah sosok anak yang pintar, lucu dan aktif. Saya mempunyai 3 orang kakak perempuan dan 1 orang kakak laki-laki (abang). Masa kecil saya adalah anak yang baik budi dan sangat dimanja. Berbeda dengan saya, abang adalah anak yang cukup nakal. Abang tidak dekat dengan saya.
Berdasarkan cerita dari ibu, dulu kakak perempuan saya sering mengajari saya tarian india. Dan saya sangat lihai menari (*kalau mama cerita ini saya merasa malu). Mungkin ini salah satu faktor penguat yang membuat saya menjadi SSA.
Ibu saya adalah sosok yang sangat saya banggakan. Ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya. Saya sangat sayang dan sangat dekat dengan ibu. Lalu, bagaimana dengan ayah? Ayah saya orangnya cuek. Orangnya juga keras, dan kalau marah sangat menyeramkan. Ingatan yang paling kuat soal ayah adalah : kepala saya pernah dipukul sampai bengkak gara-gara tidak mau diminta tolong membelikan korek api ke warung.
Setelah saya ingat-ingat lagi, ayah tidak pernah mengajak saya shalat kemasjid, mangajarkan mengaji, mengajak main dsb. Semua diserahkan kepada guru ngaji. Padahal ayah saya adalah orang yang taat beribadah dan terkadang diminta menjadi imam di mesjid. Pernah saya merasa iri kepada teman sepermainan yang mereka sangat dimanja/disayangi oleh ayahnya.
Suatu hari dikampung saya sedang musim permainan gangsing dari kayu. Teman-teman saya mempunyai gangsing yang sangat keren. Mereka bilang mereka dibuatkan gangsing oleh ayah mereka. Saya pulang sambil mendatangi ayah.
Saya: "Yah, bikinin gangsing yah. "
Ayah: ''Ah males. Ayah capek. Bikin sendiri saja sana'' *Dengan nada yang tidak enak.
Betapa hancurnya hati ini saat itu. Akhirnya saya pun membuat gangsing sendiri yang alakadarnya dan tentunya tidak sekeren gangsing teman-teman yang dibuatkan oleh ayah mereka.
Semenjak itu, saya tidak pernah minta dibuatkan mainan apapun lagi.
Saya coba ingat-ingat lagi. Saya lupa kapan terakhir saya dipeluk ayah. Saya lupa pernah dicium ayah. Saya lupa pernah diajak main oleh ayah. Apakah ayah saya yang membuat saya seperti ini?
Tidak, bukan. Ayah saya adalah orang yang baik. Orang yang sayang keluarga, orang yang bertanggung jawab walaupun ia tidak banyak bicara. Saya sangat menyayangi ayah. Mungkin memang karakter beliau yang seperti itu. Mungkin beliau sangat lelah seharian bekerja dan lelah pulang pergi menggoes sepedanya yang sudah usang.
Ya Allah hamba memaafkan kesalahan ayah hamba. Semua ini terjadi semata-mata hanya karena ujian dari engkau.
Saya flasback lagi. Ternyata semasa kecil, saya banyak bergaul dengan perempuan. Alasanya karena anak laki-laki dikampung saya adalah anak yang kasar. Dan saya sering dikerjain/menjadi bahan bulian. Kalau main petak umpet semua anak laki-laki selalu bersekongkol untuk ngerjain saya. Saya bisa 20 kali jaga/kalah berturut-turut. Saya melihat mereka tersenyum bahagia setiap kali ngerjain/membuli saya. Sehingga saya lebih senang bergaul dengan anak perempuan yang tidak kasar. Walaupun sebenarnya saya masih tidak suka dengan permainan perempuan. Mungkin pembulian kepada saya terjadi karena saya terlalu dimanja dirumah. Sehingga tidak mampu beradaptasi/bersaing dengan dunia luar yang keras. Tapi syukurnya, semenjak SD kelas 4 saya tidak suka bergaul dengan perempuan lagi. Mungkin karena faktor sering dikatain banci karena main dengan perempuan terus.
Saya flash back lebih dalam lagi, ternyata saya pernah dilecehkan saudara sendiri. Pertama oleh tetangga yang masih saudara yang datang mampir kerumah memakai sarung. Kepala saya dimasukan kedalam sarung untuk dipaksa melakukan or*l s*x. Dan yang kedua kali, oleh abang yang tidur sekamar dengan saya.
Saat tengah malam, abang saya membuka celananya dan memaksa saya melakukan or*l s*x. Saya hanya diam mengikuti. Semenjak itu saya merasa ada yang aneh dengan diri saya, saya malah menikmatinya. Sebagai anak kecil, saya tidak berpikiran itu adalah hal yang salah. Ditambah lagi dilakukan oleh saudara sendiri. Kejadian itu dilakukan abang hingga 3 kali. Saat saya minta yang keempat kalinya, abang marah-marah kepada saya. Mungkin karena beliau memang sudah baligh dan paham hal itu adalah dosa. Lalu bagaimana dengan saya? Ingatan utu masih membekas sampai saat ini.
Aku maafkan semua orang yang pernah mendzolimiku dulu, termasuk abang. Mungkin dia saat itu baru memasuki usia puber dan hasrat nya sedang tinggi saat itu. Alhamdulillah abang saya stright dan saat ini dia sudah menikah. Saya tidak tahu apakah perbuatan masa kecil itu masih diingat oleh abang atau tidak. Yang jelas saya memilih untuk pura-pura lupa dihadapannya.
Kesalahan yang terjadi dulu cukup ku ambil hikmahnya. Sebagai seorang ayah Inysa Allah akan kuberikan kasih sayang kepada anak laki-lakiku saat ini. Akan ku ajak ia bermain dan kubuatkan mainan semampuku dan kubahagiakan dia. Tidak akan kubiarkan hal yang menimpaku terjadi padanya. Cukuplah ujian yang sangat berat ini menimpaku saja.
Dan sungguh islam sangat sempurnya. Islam melarang anak tidur satu kasur dengan saudarnya meskipun satu jenis kelamin. Pisahkanlah anak-anak anda saat tidur dan saat mandi dengan saudaranya. Ajari anak kita tentang aurat dan bagian mana yang boleh disentuh.
Semoga kisahku bisa diambil pelajaran.
Terima kasih 😇
Hhhhhhhhhhhhhhhh.......
Subhanallah, segala puji hanya untuk Allah.swt. Sejujurnya aku yang membacabya pun langsung pusing 😌. Kisahnya sangat bisa diambik pelajaran apalagi bagi yang memiliki anak lelaki seperti aku..
Semoga kita semua bisa terlindung dari panasnya api neraka di akhirat kelak, aamiin yaa rabbal'alamiin 🤲🏻












