Hari ini memberi pembinaan Pencerah Remaja Onembute dengan tema bahasannya tentang Pubertas. Hingga muncullah pertanyaan tentang pacaran, bagaimana pacaran yang wajar? Usai saya menjelaskan panjang kali lebar bahwa hadirnya cinta itu adalah fitrah manusia, tapi bagaimana kita menyikapi cinta dan memanfaatkan energi cinta itulah pilihan yang harus kita pertanggungjawabkan. Hingga saya bercerita tentang prinsip untuk tidak pacaran sebelum menikah. Jika masih remaja belum siap menikah jatuh cinta? Jadikan kesibukan sekolah, organisasi dan berprestasi sebagai pelariannya. Selanjutnya berusaha memenuhi kebutuhan kasih sayang dari keluarga, pertemanan dan persahabatan. Lalu muncullah pertanyaan tak terduga yang terasa membuka tabir masa lalu, "Kak, menyesal nggak seumur kakak belum pernah pacaran?" Seketika saya tersenyum penuh kesyukuran. "Justru kakak bersyukur kalau nanti bisa bilang ke suami bahwa dialah pacar pertama dan terakhir kakak" #eaaa mereka heboh sekelas Saya posting ini karena jadi teringat masa-masa masih putih-biru seperti mereka, dimana gejolak-gejolak cinta mulai menggejala, haha. Seiring berjalannya waktu dan kematangan usia, definisi akan menikah dengan siapa pun bergeser, bukan lagi harus dengan siapa yang dicintai, tapi dengan siapa yang shalih mengajukan diri untuk konkrit menikahi. Kalau dapat dua-duanya, anggaplah itu bonus #BukanGalau