Toponim bagian dari Geosolusi: Memecahkan masalah bersama dengan ‘tangan kita’
Di era teknologi informasi komunikasi seperti sekarang ini dimana sebagian besar dari kita memegang gadget, maka berbagai permasalahan dapat dipecahkan secara bersama dengan kontribusi dari ‘tangan kita’. Konsep sukarela untuk berkontribusi, berkolaborasi dan memberikan solusi bersama atau panduan bagi orang lain itulah salah satu bagian dari Geosolusi. Geosolusi ialah bagaimana kita menyelesaikan permasalahan yang terkait dimensi ruang kebumian dan waktu. Sebagai pemerhati toponimi, kali ini penulis ingin membagikan betapa dekatnya kita dengan toponim atau nama sebuah tempat atau unsur geografis dengan kehidupan kita sehari-hari di jaman digital serta tingginya arus komunikasi dan informasi di dunia sosial media.
Keberadaan perangkat receiver GPS (Global Positioning System) handheld hingga kini GPS untuk navigasi diletakkan mobil, hingga yang melekat di perangkat mobile atau alat komunikasi sehari-hari kita, makin memudahkan dan meningkatkan ketersediaan data dan informasi berbasis ruang kebumian (geospasial). Kali ini penulis akan memberikan 5 (lima) contoh Geosolusi yang memberikan informasi nama tempat (toponim) dan mengoptimalkan informasi tempat/lokasi berdasarkan koordinat geografis (geolokasi). Kelima geosolusi yang berbasis geolokasi tersebut ialah:
1. Navigasi.net (http://www.navigasi.net/), adanya kebutuhan informasi peta navigasi untuk Indonesia, maka situs navigasi.net berusaha menyediakan peta GPS wilayah Indonesia yang dilahirkan dari prinsip kerjasama dan saling tukar-menukar informasi letak koordinat suatu lokasi. Peta GPS ini dapat diunduh dan digunakan untuk berbagai tipe GPS navigasi. Di dalam situs tersebut juga terdapat forum, artikel, tanya jawab hingga dapat untuk tergabung sebagai anggota dan turut berkontribusi.
2. Waze - GPS, Maps & Traffic, keberadaannya langsung populer di Indonesia mengingat kondisi permasalahan ruang dan adanya kebutuhan yang tinggi untuk sebuah solusi terhadap kemacetan dan pemanfaatan peta dan GPS sebagai alat navigasi. Tujuan dari platform ini ialah berkontribusi pada ‘tujuan bersama’ di jalan. Di Indonesia komunitas Waze ini berdiri pada tahun 2010. Untuk menjamin kualitas datanya mereka memiliki tingkatan manajemen hingga tingkat atau level dari penyunting peta dalam Komunitas Waze Indonesia (https://wazeopedia.waze.com/wiki/Indonesia/Manajemen_Waze_Indonesia).
3. OpenStreetMap atau terkenal dengan OSM, merupakan sebuah proyek kolaboratif untuk membuat peta dunia gratis yang dapat diubah dengan tiga prinsipnya yaitu (1) mengedepankan pengetahuan lokal, (2) komunitas yang sangat beragam, berantusias, dan berkembang setiap hari, dan (3) data terbuka, sehingga dapat digunakan untuk tujuan apapun. Komunitas OpenStreetMap Indonesia (http://openstreetmap.id) diperkenalkan pada tahun 2011 dan kini terus berkembang dalam membantu memetakan Indonesia. Sumbangsih yang nyata ialah kontribusinya terhadap kejadian kebencaan di Indonesia dengan berbagai partner, termasuk salah satunya ialah instansi pemerintah yaitu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Informasi geospasial yang dibangun secara sukarela oleh anggota komunitas ini diperoleh dari survei dengan GPS, digitasi citra satelit, dan mengumpulkan datanya untuk kemudian dibuka ke publik, sehingga dapat diakses dan digunakan oleh siapapun.
4. Facebook Place Editor (https://www.facebook.com/editor/), siapa sangka ternyata sosial media yang satu ini juga memiliki ketertarikan terhadap geospasial. Foursquare yang saat itu populer untuk mengumpulkan informasi nama tempat (toponim) yang dikemas dalam gamification dimana seseorang dapat menjadi mayor pada suatu lokasi, telah dibeli juga oleh Facebook. Untuk meningkatkan kualitas data dan informasi lokasi, maka Facebook pun menyediakan fasilitas saran penyuntingan dan ternyata merekapun memiliki komunitas. Dari tiap hasil penyuntingan, ada tingkatan/level, akurasi, bahkan kita dapat melihat berapa jumlah orang yang terbantu dengan hasl penyuntingan kita.
5. Google Local Guide (https://www.google.com/intl/id/local/guides/) merupakan komunitas global bagi para penjelajah untuk berbagi penemuan mereka di Google Maps dan membantu orang lain menemukan tempat terbaik yang akan dikunjungi di suatu kota. Itulah upaya yang dilakukan oleh Google Maps untuk meningkatkan kualitas informasi geospasial nama tempat dan hal detil lainnya. Memberikan bintang dan melakukan review terhadap tempat yang dikunjungi serta mengunggah foto tempat tersebut, maka kita akan mendapatkan point yang kemudian meningkatkan level, hingga pada level tertentu kita dapat menjadi moderator komunitas serta mendapatkan free Google Drive storage dan pada level tertinggi memungkinkan untuk hadir pada Local Guides summit.
Itulah gambaran sekilas mengenai kelima platform yang pada dasarnya hadir untuk memberikan solusi bagi kita dalam menjalani kehidupan sehari-har berbasis nama tempat (toponim) dan geolokasi.
Hal ini membawa memori penulis ke masa kecil saat melakukan perjalanan ke Taman Kanak-Kanak (TK). Di saat, mulai dilepas oleh orang tua untuk berjalan sendiri dari rumah ke TK, sebuah GPS di dalam kepala atau istilahnya ialah peta mental membantuku sebagai alat navigasi untuk menuju sebuah lokasi. Jalan yang kuhafalkan cukup sederhana yaitu keluar dari gang, kemudian belok ke kanan dan jalan lurus hingga melihat adanya pertigaan dan TK ada di sebelah kiri jalan sebelum pertigaan.
Konsep navigasi seperti inilah yang dimanfaatkan oleh platform di atas, diantaranya untuk melihat jalan terbaik yang akan dilalui dan mengetahui informasi serta berbagi informasi jika ada kecelakaan yang mengakibatkan kemacetan. Bahkan google maps pun menyedikan informasi lalu lintas. Kesemua hal tersebut, semakin hari makin berkembang dan meningkat kualitasnya jika kontribusi positif dari para sukarelawan dalam melakukan input data, editing atau review informasi nama tempat, posisi koordinat, hingga detil lainnya terus dilakukan.
Sebuah sinergi yang menarik melihat semakin banyaknya informasi mengenai nama tempat sebagai bagian dari Geosolusi kehidupan sehari-hari, hingga kepentingan nasional misal dalam penanggulangan bencana melalui pemanfaatan peta berbasis partisipasi masyarakat/komunitas.
Oleh karenanya, penulisan nama tempat (toponim) yang tepat beserta geolokasi dan detil lainnya merupakan salah satu kunci dan semua itu ada di genggaman tangan kita. Manfaatkan secara optimal gadget dengan berbagi informasi yang benar dan tepat guna. Melihat banyaknya sumber data nama tempat pada berbagai platform tersebut juga menjadi tantangan bagi Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi untuk dapat menyediakan data dan informasi resmi yang telah dibakukan sehingga dapat menjadi bagian dari review terhadap keberadaan data yang ada. Sebuah kolaborasi dan pemanfaatan data dari kontribusi masyarakat perlu dikaji lebih dalam agar upaya penyediaan One Map (Satu Peta) Indonesia, yang didukung dengan Gasetir Nasional sebagai kumpulan daftar nama tempat (toponim) secara nasional dapat terwujud.
Enschede, 9 Februari 2017
Salam Spasial,
Aji Putra Perdana















