Kali ini tulisan saya hendak mengingatkan teman-teman yang sibuk dengan pekerjaan, kuliah, tugas akhir, berkarya, riset, bahkan rumah tangga sekalipun, hingga lupa dengan kesehatan sendiri. Saya sadari, keasyikan belajar dan keasyikan bekerja menjadi salah satu faktor saya lupa dengan kesehatan tubuh saya sendiri. Saya bahkan rela lupa dengan sakit demi menjalankan pekerjaan demi pekerjaan hingga ke luar kota selama berhari-hari.
Pertengahan 2015 lalu musibah pertama datang menghampiri, tidak terlalu parah, masih ringan menurut saya. Ada benjolan kecil berada di batas dada dan perut saya. Awalnya saya kira bentol, karena sebelumnya ada benda seperti rambut dan saya cabut. Namun beberapa bulan kemudian membesar.
Selepas maghrib di bulan Oktober, saya rasakan sakit yang tidak tertahan dan benjolan pun kemerahan. Saya datang ke klinik. Kenapa saya datang ke klinik? Ya, karena BPJS saya didaftarkan di klinik itu setelah saya lepas dari ASKES orang tua. Alasannya karena kalau sakit dan gak parah bisa lebih cepat tindakannya, tidak perlu antre seperti di RSUD yang letaknya berada di depan klinik tersebut. Lagipula jika sakitnya tidak bisa ditangani dokter klinik, maka dokter klinik akan memberi pasiennya surat rujukan ke RSUD.
Saya pun bertemu dengan dokter dan menjelaskan keluhannya, dokter klinik pertama bilang bahwa saya harus datang lagi di hari lain supaya nanti bertemu dokter yang lebih ahli darinya dan kemungkinan besar benjolan ini harus diangkat. Saya sempat menanyakan benjolan ini apa? Si dokter pertama bilang itu karena cairan yang mengendap, biasanya disebut kista. Satu dokter di klinik ini ada yang sudah terbiasa angkat endapan ini. Maka dia pun beri saya obat antibiotik seperti dokter pada umumnya. Oh, ternyata kista tidak hanya berada di rahim saja, tetapi bisa juga kista ateroma. Penjelasannya bisa dibuka di sini: doktersehat.com/kista-dan-tumor-kulit/
Besoknya sepulang kerja dengan masih meringis saya datang lagi ke klinik dan bertemu dokter kedua yang dinilai lebih paham dengan benjolan ini. Si dokter yang lebih banyak bicara dan bercanda dari dokter sebelumnya pun bilang, “Uh, kemungkinan harus diangkat. Tapi saya kasih obat dulu ya. Kalau habis obatnya nanti ke sini lagi buat tentuin jadwal pengangkatannya.”
Waktu itu saya bertanya nama penyakitnya dan penyebabnya. Dokter bilang ini kista, penyebabnya biasa karena si kulit shock dan luka (seperti yang saya alami pasca cabut rambut di bagian itu), makanan, gaya hidup, kurang istirahat, sampai stress. Selepas itu si dokter menyarankan saya untuk kembali beberapa hari lagi, namun saya meminta keringanan untuk datang lagi seminggu kemudian karena saya harus dinas di luar kota hingga berhari-hari. Dokter ini pun kemudian menanyakan pekerjaan saya, setelah saya jawab si dokter berujar, “Pantesan kista ini muncul. Kamu pasti kurang tidur dan makannya gak teratur.” Akhirnya dokter yang suka bercanda ini pun menyetujui dan memberikan saya obat lebih banyak. Tidak lupa dokter ini pun bilang, “Obatnya makan sampai habis ya, terutama antibiotik. Syukur-syukur mengecil sendiri dan tidak jadi diangkat.”
Seminggu kemudian, tepatnya hari pertama saya dinyatakan resign dari kantor, saya pun kembali menemui dokter itu dengan kondisi area benjolan tersebut kering dan menghitam. Kemungkinan besar karena antibiotik yang cukup banyak saya minum. Saya pun bersyukur, kali ini bedah kecil yang diprediksi akan terjadi pun tidak terlaksana karena si kista ini tidak ganas dan bisa diatasi oleh obat luar dan dalam. Alhamdulillah…
Masuk bulan ketiga setelah saya resign dari kantor dan sedang proses tes-tes kerja saya pun kembali mengeluh pada mamah tentang gigi bungsu yang suka nyangkut ke dinding mulut padahal kecil. Mamah pun bilang bahwa gigi bungsu ini harus dicabut. Saya pun kembali ke klinik itu.
Kali ini saya datang ke klinik jam pagi karena tidak ada tes kerja. Begitu terpesonanya saya ketika duduk di ruang tunggu ada seorang laki-laki yang mungkin umurnya tidak lebih dari 30 tahun masuk ke ruang dokter gigi. Saya tidak menyangka bahwa laki-laki itu adalah dokter giginya. Hihii… Saya dapat antrean kedelapan setelah ibu saya yang juga sudah beberapa pekan ini bolak-balik ke dokter gigi karena keluhan sakit giginya. Semoga mamah lekas sembuh. Aamiin.
Akhirnya nama saya pun dipanggil. Kali ini saya berhadapan langsung dengan dokter yang saya kategorikan cakep ini. Sungguh, wajahnya mirip dr. Yongki finalis AFI, tapi lebih cakep ini. Dokter berjambang lebat yang sedari tadi mencuri pandang ke luar ruangan sewaktu saya menunggu di kursi depan pintu pun bertanya dengan kalemnya, “Ada yang bisa dibantu?” Tentu saya menjawab bahwa gigi geraham paling ujung sering nyangkut ke dinding mulut kalau lagi makan. Dia pun menyilakan saya duduk di kursi periksa dan memperlihatkan gigi saya yang kejepit dengan kaca kecil. Dengan gagahnya dia menjelaskan mengenai jumlah gigi dan empat tambahan gigi bungsu yang bisa muncul saat usia dewasa dan tidak berguna hingga harus dicabut karena rahang kita yang kecil. Tentu saja mengenai hal gigi geligi itu saya paham, sejak sekolah dulu saya sampai hapal nama latin si gigi, gigi bungsu (wisdom tooth), dengan segala tetek bengek persoalan gigi. Maklum, SNMPTN dulu saya memilih kedokteran gigi pada pilihan pertama dan tidak lolos. Hehe.
Namun sebenarnya saya bukan excited dengan cara menerangkan si dokter, saya excited mendengar suaranya, jambangnya, dan jam tangan DW keluaran terbaru yang dipakainya, kemungkinan besar jam tangan DW ini ori, bukan KW super. Haha. Uuh, saya yang gak mau terlihat bersinar-sinar pun mengajaknya berbicara, “Sepertinya gigi bungsu saya yang tumbuh itu lebih dari satu, Dok. Soalnya sempat sering sakit kayak tumbuh. Tapi gak keluar dari gusi kayak gigi ini.” Si dokter ini pun jawab, “Kemungkinan iya, gak muncul kayak si gigi kiri bawah ini. Tapi pencabutan gigi ini bisanya di RS. Nanti saya buatkan rujukan, ya.” Tiba-tiba wajah saya pun berubah dan bilang, “Ooh…” Entah karena saya kecewa atau apa. Haha. Akhirnya saya dibuatkan rujukan, dia pun bertanya dengan santai, “Usianya berapa, sih?”. Saya jawab dengan sedikit GR yang gak perlu, “24, dok!”. Dia pun bilang kalau gigi itu memang tumbuh di usia 20-an. Tuh kan memang gak perlu GR, dia cuma ingin menjelaskan aja. Hahaa….
Besoknya saya dengan diantar mamah berangkat dari rumah ke RSUD jam enam pagi supaya dapat nomor antrean kecil. Alhasil saya dapat nomor urut dua di ruang bedah mulut. Sambil menunggu dokter, ternyata ada satu pasien umur 18 tahun yang juga dicabut geraham bungsunya dan mengalami bengkak juga blooding. Saya paham, mamah takut dan gugup waktu itu. Padahal yang dibedah pun saya bukan mamah. Setahu saya dulu mamah bukan penakut untuk masalah pergi ke dokter dengan segala pembedahan, mungkin faktor usia yang mengubahnya. Mamah beberapa kali ajak saya minum teh manis hangat dulu supaya kuat katanya, saya pun mengiyakan.
Tidak berapa lama nama saya dipanggil. Seperti biasa dokter gigi yang kali ini bertitel lebih banyak dari dokter gigi sebelumnya dan berusia lebih tua menanyakan keluhan saya dan saya menjawab dengan ragu. Kenapa saya ragu? Soalnya saya berpikir dalam surat rujukan dokter klinik kan sudah ada tulisan kalau keluhan saya itu ‘impacted teeth’. Saya lupa bahwa komunikasi dokter dengan pasiennya langsung bisa jadi adalah bentuk kode etik dokter. Hehe. Maafkan, dokter spesialis bedah mulut!
Si dokter dengan tenang menjelaskan perlahan yang kira-kira begini, “Cabut gigi geraham bungsu itu kalau di sini minimal tiga gigi. Lagian tidak di ruang ini tempatnya. Minggu-minggu ini juga jadwal pembedahan penuh. Paling kalau mau cepat ya di RS Pindad sama saya. Tapi sebelumnya kamu harus rontgen gigi, rontgen paru, tes darah, dan tes urin.” Waahh, saya dan mamah merinding jika disebut cabut gigi minimal tiga gigi geraham bungsu.
Si dokter kali ini bertanya pada saya, “Suka sakit kepala gak kayak migren gitu atau gak telinga berdenging?” Kali ini saya jawab dengan pasti, “Wah, iya, Dok. Sering begitu saya.” Dokter pun menjelaskan lagi bahwa gigi geraham bungsu saya bisa jadi lebih dari satu namun tertimbun di gusi (seperti yang saya duga sebelumnya), makanya harus di rontgen. Kemudian mamah bertanya, “Bius lokal, Dok?” Si dokter menjawab, “Bius total. Nanti kamu tidur gak ingat apa-apa dan di infus. Sudah pernah di infus? Sudah pernah operasi sebelumnya?” Saya jawab jika di infus pernah, kalau operasi belum. Setelah si dokter meminta saya rontgen gigi dulu dan meminta saya kembali lima hari kemudian, saya pun pergi dari ruangan itu dengan keadaan masih berpikir, ‘Oh, ini ya kenapa saya sering kayak sakit kepala padahal tekanan darah normal dan telinga sesekali berdenging itu’.
Besoknya saya ambil hasil rontgen gigi. Sampai di rumah, mamah lah yang membuka pertama kali. Saya sebenarnya agak takut jika benar gigi geraham bungsunya lebih dari satu, makanya tidak berani buka lebih dulu. Mamah pun bilang, “Iya ada tiga tuh yang tumbuh. Dua lagi dalam gusi”
Saya dengan lemas menjawab, “Yaah, jadi deh dioperasi.” Dengan menghitung jumlah giginya, saya tiba-tiba bilang ke mamah, “Mah, empat geraham bungsu kayaknya. Ini satu lagi tumbuh normal di kiri atas.”
Entahlah, ada tiga atau empat yang tumbuh. Yang jelas, yang bisa dilihat jika gigi geraham saya abnormal ada tiga. Satu tumbuh menyamping di kiri bawah dan dua lagi tumbuh dalam gusi di kanan atas dan bawah.
Saya sadar, proses menuju pembedahan nanti masih ada jarak beberapa minggu bahkan beberapa bulan jika saya belum siap atau ada sesuatu hal yang kondisinya belum siap. Masih ada rontgen paru, tes darah, dan tes urin. Hanya saya masih was-was dan takut, apalagi setelah saya baca pengalaman pasca operasinya walau pun pasti berhasil. Belum terbayang bagaimana nanti jika gusi saya dikorek-korek dalam kondisi tidur, dijait, dibuka jaitannya, atau pipi saya bengkak keduanya atau blooding, dan katanya sakit jika obat biusnya habis berfungsi. Yaa Allah, apapun yang nantinya ditindak dari 'si wisdom tooth’ ini, kuatkan dan sehatkanlah hamba-Mu yang lemah ini. Jangan sampai ada keluhan lagi pasca operasi nanti.
Operasi gigi geraham bungsu memang dikategorikan operasi kecil. Saya lihat referensi jika bisa saja dibius lokal kalau giginya tumbuh normal dan dibius total jika tumbuhnya miring dan agak sulit. Tapi yang namanya gigi juga melibatkan sistem saraf. “Operasi gigi juga bukan main-main, Kak”, ucapan teman saya yang kuliah jurusan kesehatan masyarakat di Uhamka yang juga pernah operasi telinga dan cabut dua gigi geraham bungsu dengan bius lokal. Saya berharap ke depannya gigi saya tumbuh sehat dan tidak ada keluhan apa-apa jika nanti pasca saya operasi. Kali ini saya ingin mamah saya dulu yang sembuh dari sakit giginya supaya nanti saya bisa tenang jika dioperasi. Aamiin. Mohon doanya, ya!
Saya cuma ingin berpesan juga, jangan main-main dengan sakit kepala yang keseringan, telinga berdenging, bawah telinga dan leher yang sakit. Gak melulu masalah waktu tidur dan salah posisi tidur. Artikel mengenai wisdom tooth bisa dibaca di sini: dentiadental.com/news-articles/featured-articles/gigi-geraham-bungsu-perlukah-dicabut/
Pesan saya, cobalah konsultasikan sakit kepalamu lebih dini ke dokter. Konsultasikan juga saat gigi geraham ketigamu mulai tumbuh dan sakit pada gusi. Seperti artikel yang pernah saya baca, masalah gigi bahkan wisdom tooth ini bisa juga berimbas pada kesehatan jantung. Semoga kita selalu diberi kesehatan lahir dan batin. Aamiin.