It's still fresh from the oven! It would be a long post, so brave yourself!!!
Kemarin malam saya akhirnya ke dokter spesialis bedah mulut (SpBM) untuk operasi kecil pencabutan gigi bungsu (istilah medisnya odontektomi).
Gigi bungsu di sebelah kiri rahang bawah saya memang tumbuh dengan sedikit bersudut (istilah medisnya impacted), yang kalau saya pertahankan, ada kemungkinan gigi tersebut bisa mendorong gigi-gigi di depannya sehingga merusak susunan gigi saya.
Dalam kasus ekstrem, gigi bungsu yang bersudut bahkan bisa membuat gigi-gigi di depannya sampai rusak, bahkan busuk karena terus terdorong dan rebutan tempat dengan si gigi bungsu.
Empat bulan yang lalu gusi saya bengkak, berdenyut, dan nyeri tiba-tiba. Kata kakak saya yang perawat, memang ada bakal gigi bungsu yang mau numbuh, keliatan dari gusi saya yang ada putih-putihnya di bagian dalamnya.
Awalnya cuma yang kanan, setelah gigi bungsu kanan tumbuh dan sakitnya sembuh, gantian jadi kiri. Tapi beda sama yang kanan, yang kiri ini sakitnya berulang dan bengkak gusinya lebih lama. Karena udah kangen rasanya makan dengan nikmat, akhirnya saya periksa ke dokter gigi saya.
Kata dokter gigi saya, memang ada bakal gigi yang mau tumbuh, tapi udah ga ada tempat di rahang saya, makanya jadi sakit.
Dokter gigi saya akhirnya menyarankan saya untuk rontgen panoramic dulu untuk liat kondisi gigi itu. Selesai diperiksa, saya dikasih surat rujukan untuk rontgen panoramic dan obat asam mefenamat (bahasa pasarnya ponstan) untuk ngilangin rasa sakit, obat yang saya lupa namanya untuk ngilangin bengkak, dan antibiotik. Dokternya minta saya balik lagi kalau sudah ada hasil rontgen panoramic. Total biaya periksa dan obat Rp100.000.
Btw, karena saya anaknya sok pinter, saya ga mau tuh minum antibiotik sembarangan. Sepemahaman saya yang lulusan Biologi UI ini, kalau lagi ga butuh-butuh bgt, sebaiknya ga usah minum antibiotik.
Kalau kebanyakan minum antibiotik, yang ada, bakterinya nanti malah jadi resisten sama obatnya. Saya cuma minum 2-3 obat penghilang sakit dan bengkaknya. Setelah sembuh, obatnya saya kasih ke temen yang lagi sakit gigi, biar ga mubazir.
Hari-hari berlalu, gigi bungsu saya tumbuh tanpa masalah. Tapi karena takut juga suatu hari nanti gigi bungsu saya bermasalah lagi, saya akhirnya mulai cari-cari info soal rontgen panoramic… sebulan kemudian.
Dari hasil telpon dan datang langsung ke lokasi, berikut saya share info harga untuk rontgen panoramic dari 3 lokasi (per Februari 2016):
1. Klinik Gigi & Mulut, RS Pusat Pertamina:
Rp200.000
Jadwal unit radiologi: Selasa-Jumat, 08:00-11:30
Jl. Kyai Maja No. 43, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telp (021) 7219576
2. Poliklinik Gigi & Mulut, RSUPN DR. Cipto Mangunkusumo (RSCM)
Rp. 285.000
Jadwal praktek: Senin-Jumat, 09:00-12:00
Jl. Adityawarman No. 26, Jakarta
Telp (021) 7208753
3. RS Sari Asih Ciledug
Rp. 125.000
Jadwal unit radiologi: Setiap hari, 24 jam
Jl. HOS Cokroaminoto No. 38, Ciledug, Tangerang
Setau saya, rontgen panoramic ini ga bisa pakai BPJS ya.
Di hari yang sama sebelum rontgen, saya nyempetin untuk datang ke Pepsodent Dental Care di Gandaria City. Awalnya iseng aja mau tanya-tanya. Tapi resepsionisnya antusias bgt ketika saya dan teman saya tanya-tanya, jadilah kami berakhir mengisi formulir untuk pemeriksaan (gratis).
Sebelum pemeriksaan, kami diminta untuk sikat gigi dan diajarin cara nyikat gigi yang benar. Masing-masing sisi 10 hitungan, dengan arah gosokan membulat dan tekanan sedang, jadi lamanya sikat gigi yang baik cuma 2 menit. Dan cuma boleh berkumur 2 kali setelah sikat gigi. Kalau sikat giginya sendiri boleh dilakukan lebih dari 2 kali sehari. Tenang, sikat dan pasta giginya disediain kok, dan boleh dibawa pulang, lumayan..
Setelah nunggu sebentar, nama kami dipanggil. Namanya juga pemeriksaan, ga banyak yang dilakuin, cuma periksa gigi dengan alat khusus kayak pulpen yang ada kameranya dan bisa disambung ke komputer. Jadi, kita bisa liat dosa-dosa kita ke gigi kita di layar komputer. Setelah selesai, kami dikasih lembar hasil pemeriksaan gigi. Lembar ini juga bisa dijadiin surat rujukan loh.
Karena harganya yang murah, dekat rumah, dan buka 24 jam setiap hari, dari Gandaria City saya meluncur ke RS Sari Asih untuk rontgen panoramic. Alurnya: datang - isi formulir rawat jalan dengan pembayaran umum - kasih formulir ke unit radiologi - ambil no antrian untuk ke unit radiologi - nunggu nama dipanggil - rontgen.
Alat rontgen panoramic di sini agak aneh sih, kata teman dan adik saya yang udah pernah tapi di RS lain, biasanya disuruh gigit sesuatu ketika di-rontgen. Kalau saya, malah disuruh nyengir sampai proses rontgen-nya selesai. Akhirnya, bibir saya malah jadi gemetaran karena pegel nahan untuk nyengir, lol. Setelah selesai, nunggu beberapa menit sampai nama dipanggil dan dikasih note untuk melakukan pembayaran di kasir.
Totalnya Rp143.000: administrasi Rp18.000 dan biaya radiologi Rp125.000. Setelah bayar di kasir, balik lagi ke unit radiologi, nunjukin kwitansi pembayaran, lalu dikasih hasil rontgen panoramic-nya.
Malamnya, saya balik lagi ke dokter gigi saya. Benar kan! saya disarankan untuk melakukan operasi kecil pencabutan si gigi bungsu.
Dokter gigi saya nawarin untuk melakukan operasinya di kliniknya aja, nanti beliau akan hubungi temannya yang SpBM untuk saya, dengan harga 1,5-2 juta. Karena saya mau cari referensi soal harga, prosedur BPJS untuk odontektomi, dan dokter SpBM yang bagus, saya ga mengiyakan dulu. Konsultasi gitu doang ke dokter gigi saya dihargai Rp50.000.
Berikut saya share hasil tanya-tanya via telpon dan datang langsung seputar biaya odontektomi:
1. Klinik Gigi dan Mulut RS Pusat Pertamina (ga bisa BPJS)
Per satu giginya Rp4,5 juta
Jadwal dokter: setiap hari di jam kerja
2. Poliklinik Gigi & Mulut, RSUPN DR. Cipto Mangunkusumo (RSCM) (kayaknya ga bisa BPJS)
Per satu giginya Rp6,5 juta
Jadwal praktek: Senin-Jumat, 09:00-12:00
3. Usada Insani (ga bisa BPJS)
Per satu giginya Rp2,590 juta
Jadwal dokter: Selasa, Kamis, Sabtu, pkl 19:00-21:00
4. RS Sari Asih Ciledug (bisa BPJS, tapi antriannya mulai Maret 2015. Kalau daftar Februari 2016, bisa-bisa dioperasinya tahun 2017 :O )
Harga non BPJS: per giginya sekitar Rp2,5 juta
Jadwal Praktek: Selasa dan Sabtu, 15:00-17:00
Setau saya, harga di atas belum termasuk untuk tebus resep obat.
Setelah bingung mau operasi dimana, saya akhirnya memantapkan hati untuk operasi di RS Usada Insani. Selain lebih murah, dokter SpBM satu-satunya di RS itu juga sudah senior, jadi menurut saya pengalamannya sudah banyak. Selain itu, juga cocok dengan jadwal beliau.
Saya memang merencanakan untuk ditindak hari Sabtu malam. Sabtu biar besoknya masih bisa istirahat di rumah, dan malam biar sudah ga ada tanggungan solat wajib. Ngeri juga pas abis wudhu gusinya pendarahan lagi.
Sabtu pagi saya telepon RS Usada Insani untuk pendaftaran ke klinik spesialis bedah mulut. Saya dapat no urut 4 dan kira-kira akan ditindak pukul 19:40. Saya sampai di TKP pukul 19:35, mepet bgt -_-
Karena saya belum pernah sama sekali diperiksa/ditindak di RS itu, saya daftar diri dulu di bagian rawat jalan. Setelah itu, masuk ke ruang tunggu spesialis. SpBM no 18.
Ternyata sudah ada sekitar 3-4 orang yang menunggu untuk periksa di SpBM. Entah itu berdasarkan antrian, atau saya yang keselak karena datang terlambat. Pukul 20:20 saya akhirnya masuk ruangan.
Sebelum duduk di depan meja dokter, saya dikasih kartu anggota RS Usada Insani. Kemudian saya bilang ke dokter kalau gigi bungsu sebelah kiri saya impacted, saya juga menyerahkan hasil rontgen panoramic saya.
Setelah mengamati hasil rontgen saya, dokter meminta saya untuk duduk di kursi pemeriksaannya. Well, dokternya to the point sih, langsung bilang kalau memang gigi bungsu saya impacted tapi mahkota giginya masih belum keluar semua. Saya bilang aja saya mau minta dicabut saat itu juga. Dokter: "yakin? Sudah siap mental?". Saya: "iya" (dalam hati: disiap-siapin ajalah, kalo engga nanti ga beres-beres, haha).
Kemudian sisi kanan dan kiri gusi saya di sekitar gigi bungsu yang bermasalah dibius lokal. Terus diminta keluar ruangan dan menunggu sampai kebas/baal/mati rasa. Sambil menunggu, saya diminta ttd persertujuan pengambilan tindakan. 15 menit kemudian, saya masuk lagi ke ruangan, kumur-kumur, lalu dimulailah pembantaian.
Karena ngeri ngeliat peralatan dokternya yang serem-serem dan silau sama lampu kerja dokternya, akhirnya saya merem. Saya sempet takut sih karena saya masih ngerasain nyeri dan ngilu ketika operasi berjalan. Takutnya obat biusnya belum bekerja sempurna.Tapi dokternya tetep nyuruh saya untuk diam dan jangan bergerak.
Saya juga denger suara alat (kayak suara alat buat scaling gigi, tapi lebih keras) selama operasi berlangsung, kalau ga salah setelah gusi saya dirobek. Mungkin karena mahkota giginya yang tumbuh baru sedikit ya, jadi dokternya bersusah payah cabut giginya.
Selesai dicabut, gusi saya langsung dijahit. Saya sempet liat kalau benang jahit yang dipake itu benang jahit biasa :O (warnanya putih, sempet nyenggol hidung saya juga makanya jadi kerasa tekstur benangnya). Tapi saya sih yakin aja sama dokternya.
Selesai operasi, saya diminta gigit kasa yang diletakkan di atas gusi yang baru dijahit. Biar pendarahannya berhenti. Asisten dokternya kasih liat gigi yang dicabut. Gede banget! Tapi saya ga mikirin lagi mau bawa pulang gigi itu, atau hanya untuk foto.
Saya masih shock dan mau cepet pulang. Adik saya yang nemenin saya lalu ke kasir untuk pembayaran. Totalnya Rp2.670.170 (administrasi Rp25.000 + resep/obat ruangan Rp55.170 + tindakan Rp2.590.000). Selesai dari kasir ternyata masih harus nunggu lagi untuk resepnya. Resep sudah di tangan gantian selanjutnya nungguin untuk obatnya selesai diracik. Ada kali 1 jam. Sementara adik saya ngurus resep dan pembayaran, saya nunggu di mobil sambil terus-terusan ngeluarin lendir berdarah dari mulut.
Untung bawa tisu ekstra di mobil. Kalau engga, bingung juga mau buang dimana itu lendir, iyuh. Untuk nebus resep, masih harus bayar lagi Rp87.619. Isi obatnya Cefixime 100mg dan Mefinal 500mg, Tramal 50mg, Dexamethasone 0,5mg yang diracik jadi satu kapsul.
Saya bingung juga gimana kelanjutan nasib saya. Ga ada instruksi apa-apa dari dokter selain buang kasa setelah 1 jam dan balik lagi seminggu kemudian untuk lepas benang jahit.
Masih bingung, akhirnya saya browsing. Hasil browsing malah bikin saya makin bingung.
Ada yang bilang jangan banyak meludah, jadi darah yang keluar ditelan aja. Sebaliknya, ada yang bilang jangan menelan darah yang keluar karena berbahaya bagi kesehatan…
Bodo amat! Saya malah ke Alfamidi buat beli es krim, sempet denger juga sih katanya disarankan untuk makan es krim setelah tindakan odontektomi. Sambil menyelam minum air, kebetulan saya lapar tapi ga memungkinkan buat makan, lol.
Hari ini hari kedua. Ga sakit, nyeri, ataupun ngilu sama sekali. Tapi saya tetap jaga supaya cepet sembuh, cuma makan bubur ayam (beserta sate dan kerupuknya. God, I love to eat), es krim, dan minum air dingin.
Hope everything works well sampai nanti selesai dilepas benang jahitnya.