Beberapa waktu lalu, kalian sempat merilis split album bersama Umanzuki, sebuah band free jazz asal Italia. Bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu dan memutuskan untuk berkolaborasi?
Paw: Awalnya, saya bermain di last.fm. Satu hari, saya di-add oleh seseorang yang ternyata juga punya band jazz bernama Umanzuki. Dari situ kita saling bertukar shout dan komentar. Dia mengirimkan materi band-nya kepada saya melalui direct message, lalu setelah didengarkan saya tertarik dan suka. Lalu dia saya kirimkan materi Kultivasi, dan respon dia baik. Lantas, saya terpikir untuk membuat split album bersama mereka, dan saya ajak mereka. Terus apa ya? Kok lupa.
Manggala: Lama confirm-nya.
Paw: Kami lama sekali menunggu konfirmasi dari mereka. Lalu saya meng-add Facebook dia, kan? Aku lupa lho.
(Kultivasi berdiskusi sendiri dan tertawa)
Manggala: Setelah bertemu di last.fm, dia mendadak me-like Kultivasi di Facebook dan menanyai Wednes melalui message tentang kelanjutan split album kita. Akhirnya, jadilah split album itu.
Bagaimana reaksi mereka saat melihat persona Mafioso kalian?
Wednes: Mereka tidak terlalu melihat ideologi Mafioso kami. Kami memberikan materi Kultivasi, lalu mereka tertarik, dan kita deal bersama-sama. Mereka juga memainkan free-jazz dengan improvisasi, dan mereka sangat tertarik dengan musik kita. Akhirnya, kami mencari netlabel di Indonesia. Soalnya, kelihatannya mereka agak ‘malas’ mencari netlabel di Eropa. Tapi tidak tahu juga sih. Jadi ya begitu. Tapi reaksinya, kelihatannya mereka senang. Soalnya, setiap kali kami meng-update melalui Facebook pasti di-like.
Wisnu: Tapi waktu itu di Belgia…?
Wednes: Itu bukan label. Cuma ada blog yang membagikan musik kita.
Kalian juga sempat dinominasikan di ICEMA. Bagaimana pengalaman kalian semasa dinominasikan dan plesir ke Jakarta?
Wednes: Pertama, kami senang bisa ke Jakarta karena benar-benar kehormatan bisa dinominasikan dan masuk awards. Kami juga senang karena di Jakarta bisa menemui begitu banyak kejadian baru yang tidak pernah kami alami di Yogyakarta. Semua aspek, sebenarnya. Tidak cuma musiknya, tapi juga…
Wisnu: Makanannya…
Wednes: Makanannya enak dan gratis! Tata panggung-nya, performer-nya, semua menambah pengalaman bagi kami.
Saya ingin menanyakan soal free-jazz. Kalian memainkan musik yang disebut-sebut sebagai free jazz, atau jazz yang bebas, atau kalau menurut kalian, jazz yang beda. Tapi, menurut kalian, apa makna ‘kebebasan’ dalam berkarya dan bermusik? Apakah skena seni Indonesia, bukan cuma yang mainstream, tapi juga di ranah indie, sudah apresiatif dan terbuka terhadap ide-ide baru, jazz yang beda, dan penampil yang masih ‘hijau’ dan baru? Ataukah masih eksklusivis?
Wednes: Sebelum di Kultivasi, saya sempat bermain-main di scene noise. Kalau saya amati, pada awal saya bermain apresiasi dari skena indie itu sendiri masih sangat sedikit. Tapi beberapa tahun terakhir, skena kita mulai lebih terbuka. Semakin banyak yang bermain, semakin banyak yang mengapresiasi.
Akbar: Sampai dibikin website-nya, Jogja Noise Bombing.
Wednes: Ini berbicara dari kacamata musik noise ya. Kami juga memainkan musik improvisasi/free/experimental. Di Yogyakarta, kami mulai menggiatkan website Jogja Noise Bombing. Menurut kami, ditambahkannya kategori Best Noise/Experimental di ICEMA kemarin juga menunjukkan bahwa skena indie kita semakin membuka diri. Tapi, jika dibandingkan dengan genre indie lain, contohnya indie rock, scene musik improvisasi memang belum seramai itu.
Manggala: Menurut kami, bahkan media-media mainstream sudah mulai terbuka. Contohnya di Kompas.com ada chart G20 yang tidak hanya memainkan musik dari label mayor tapi juga memainkan musik-musik indie. Lalu apa namanya itu yang di TvOne? Radioshow. Mereka juga sering memutar musik-musik metal yang tidak ‘mainstream’. Jadi, menurut kami sudah lebih bebas.
Sekarang Kultivasi memainkan jazz/experimental, sedangkan sebelumnya sempat berkutat di skena noise. Sementara dulu, bahkan di ranah indie sekalipun, skena itu masih ‘kecil’ dan kurang diapresiasi oleh indie itu sendiri. Tapi bagaimana jika seandainya, satu hari, yang kalian lakukan menjadi besar dan mainstream? Apakah kehilangan ‘esensi’-nya?
Wednes: Kami sendiri tidak terlalu peduli. Kami membuat musik karena karena kami senang; sejak awal intinya itu. Untuk respon dari luar, kami santai-santai saja. Kami juga tidak menyangka bisa mendapatkan respon seperti ini. Soalnya, siapa sih yang mau mendengarkan musik yang benar-benar asal-asalan seperti kami? Kami tidak berekspektasi lebih untuk itu, jadi santai saja. Jika kedepannya menjadi besar, itu kenikmatan mereka. Toh, kami juga menikmati musik yang kami ciptakan untuk kenikmatan kami sendiri.
Akbar: Kami main begini ya nyantai, kalau ke depannya menjadi besar ya alhamdulillah. Positif positif saja lah, kalau bisa diambil positif ya tidak apa-apa.
Menurut kalian, Kultivasi ingin memainkan musik yang membuat kalian senang. Tapi, sebelumnya, apakah kalian secara tidak sadar atau sadar ‘membatasi’ diri dalam berkarya? Maksudnya, ‘oh, gue tidak mau memainkan musik yang seperti ini nih!’ Seberapa bebas-kah free-jazz yang kalian maksudkan ini?
Manggala: Yang penting, ‘free’ itu menuruti kata hati. Free itu sesuai kata hati.
Wednes: Mungkin kita membatasi dalam alam bawah sadar, namun tidak membatasi dalam artian genre atau teknis, namun lebih ke apa yang disebut Manggala tadi. Kata hati itu. Kami tidak membatasi unsur apapun masuk ke dalam musik kami. Biasanya prosesnya begini: kami langsung ke studio. Di situ, kita brainstorming untuk membuat komposisi-komposisi langsung. Jika kita semua sepakat dengan pemikirannya, kita akan masukkan meskipun tadinya tidak kepikiran untuk memasukkan unsur itu ke dalam komposisi.
Akbar: Kebetulan ide-ide kami sangat asing.
Wednes: Pernah sekali kita membuat satu komposisi dan berpikir, ‘Kayaknya tidak masuk ini.’ Tapi semua anggota sudah semangat dan setuju, ya sudah, tidak apa-apa. Kami bersepakat untuk memainkan unsur itu meskipun tadinya tidak terpikir. Jadi memang tidak ada batasnya, tapi bla bla bla blah…
(Anggota Kultivasi tertawa)
Wednes: Pokoknya kata hati itu lah!
Akbar: Paham kan?
Manggala: Batasan ‘free’ itu dari masing-masing. Setiap orang punya batasannya masing-masing.
Wednes: Ya, begitu. Batasannya dari kami. Jadi, batasannya tidak ditentukan oleh pakem-pakem luar.
Bahkan oleh pakem free-jazz sekalipun…
Wednes: Ya. Soalnya, kami juga sering memasukkan unsur-unsur lain.
Contohnya unsur apa?
Wednes: Paling dekat noise. (tertawa) Soalnya, latar belakang kami memang dari skena noise.
Kelihatannya dalam komposisi-komposisi kalian, ada elemen ‘main-main’. Bukan dalam artian asal-asalan, namun kalian seperti bersenang-senang dalam lagu itu. Tidak hanya dari musiknya. Contohnya, dari performance ‘Dengarkanlah Walau Hanya Satu Nada’, atau dari judulnya seperti ‘Metro Xinwen versus Liputan 6 (Jeremi Teti)’. Menurut kalian semua, apa komposisi paling aneh, paling nyeleneh, dan paling gila yang pernah kalian buat bersama-sama? Dan apa cerita dibaliknya?
Manggala: Yang paling aneh? Dulu sempat terpikir untuk membuat lagu bersendawa.
(tertawa)
Manggala: Belum pernah dibikin, kan?
Paw: ‘Hercules Anak IPA 1’. Di lagu itu semua orang bebas bermain. Semua personil kami bersenang-senang sendiri-sendiri, tapi secara bersamaan.
Akbar: ‘Hercules’ juga. Jika kita main di tempat selain ini tadi, lagu itu harusnya jadi lagu penutup. Lebih bebas di musik, ya gitu lah.
Wisnu: Ya, sama. Di ‘Hercules’ kami bermain dengan spontanitas walau di setiap pementasan mungkin jadinya berbeda-beda.
Wednes: Sama sih. Saat merekam itu, kami benar-benar bebas. Itu bukan saat yang ditentukan untuk merekam sebuah lagu. Saya memainkan efek, Paw bermain drum, Manggala dan Wisnu bermain alat yang lain dan mengisi vokal. Itu pun tidak direncanakan bersama-sama. Itu yang paling gila. Saya juga tidak mengira akan muncul kata-kata lucu dan improv dari mereka.
Menariknya, hampir semua personil menyebut bahwa lagu yang paling ‘gila’ adalah ‘Hercules Anak IPA 1’. Jadi bagaimana reaksi kalian saat tahu lagu itu yang dinominasikan masuk ICEMA?
Wednes: Senang, tapi juga sedih. Kami senang karena dinominasikan, tapi sedih karena sementara kami melabeli diri sendiri sebagai band jazz, justru lagu eksperimental kami yang masuk nominasi Best Noise/Experimental. Tapi juga senang. Nah, gimana itu?
Akbar: Saya sih lebih ke senangnya. Terima positifnya saja.
Sebenarnya saya teringat wawancara dengan Zoo saat mereka bercerita tentang ‘Suplemen’ di album Prasasti. Mereka berimprovisasi di lagu itu, dan bagi mereka Suplemen menjadi semacam ‘potret’ emosi mereka di momen rekaman itu, karena itulah mereka tidak bisa mengulangi-nya lagi di atas panggung. Sementara, Kultivasi juga ber-improvisasi. Apakah, kalau begitu, kalian juga kesulitan mengulangi lagu-lagu kalian di atas panggung?
Manggala: Kami memiliki filosofi sebelum awal tahun 2013 ini. Filosofi kami dulu, yang mungkin sekarang masih kami pakai, adalah: “Masterpiece atau karya yang baik itu adalah karya yang tidak bisa diulang.” Bayangkan jika Mona Lisa diulang lagi, bukan masterpiece lagi namanya.
Wednes: Jika terlalu banyak improvisasi, jelas-jelas kami tidak bisa mengulanginya lagi.
Akbar: Saat memainkan lagu-lagu kami yang ‘bisa diulang’, pada akhirnya beda-beda juga chord-nya.
Wisnu: Pattern-nya juga.
Wednes: Jadi ada yang memainkan pattern, sementara yang lain berimprovisasi. Ada yang seperti itu, ada juga lagu di mana semua personil berimprovisasi. Waktu berhenti dan durasi juga berbeda-beda. Semuanya tergantung energi kami di atas panggung. Misalnya, jika kehabisan energi, ya kami berhenti. Mungkin sama dengan Zoo. Favorit kami memang sesi improvisasi di panggung, karena kami bebas mengeluarkan apa saja dari masing-masing personil.
Akbar: Yang jarang improvisasi mungkin drum ya?
Wednes: Karena drum harus jaga pattern.
(Paw tertawa)
Paw: Tapi kadang berimprovisasi juga tanpa sadar. Mengalir saja dengan lagunya.
Saat pertama kali mendengar Kultivasi, band pertama yang terpikir adalah Sungsang Lebam Telak. Apa pendapat kalian tentang SLT? Dan bagaimana reaksi kalian jika orang selalu menghubung-hubungkan Kultivasi dengan SLT?
Wednes: Awalnya terbentuk, kami sama sekali tidak terpikir Sungsang. Tapi pada waktu itu, beberapa personil kami memang rajin mendengarkan komposisi-komposisi John Zorn, seperti Naked City. Pengaruh kami memang dari situ. Untuk membuat jazz yang ‘beda’ dan bisa menyaingi anak-anak Jazz UGM itu. Tapi, jatuhnya beda dan tidak persis seperti ranah itu. Untuk Sungsang, saya pribadi sudah mendengarkan musik mereka sejak lama. Komentar saya, komposisi mereka benar-benar dahsyat dan luar biasa. Benar-benar improvisasi. Saya tidak habis pikir, tidak bisa dijelaskan. Mengenai respon masyarakat, kami juga sempat terpikir seperti itu. Ketika kami membuat ‘Persona’, album pertama kami, kami berpikir “Kok ini terlalu ngawur ya?” Tapi secara durasi, kami jauh lebih panjang daripada Sungsang. Lagu mereka tidak pernah lebih dari satu menit, bahkan ada yang cuma beberapa detik. Kalau kami menikmati saja. Paw dengan pattern drum monotone, lalu kami semua mengisi dengan improvisasi. Kami juga sempat berpikir; kalau tidak membuat beberapa pattern, misalnya pattern biasa dengan intro dan sebagainya, lagu kami jadi ‘Sungsang banget’, dan kami juga tidak mau begitu. Masa ada Sungsang 2?
(tertawa)
Wednes: Kita harus bikin diferensiasi juga. Secara tidak langsung, kami juga membedakan. Ya gitu pokoknya. Ada yang mau nambahin?
Akbar: Aku bingung.
Paw: Aku juga bingung.
Wednes: Aku juga bingung!
(tertawa)
Manggala: Lihat kedepannya saja. Mungkin karakter kita akan terbentuk.
Tapi bagaimana komentarnya jika orang selalu mengafiliasikan Kultivasi dengan Sungsang?
Wednes: Oh, tidak apa-apa! Kami sendiri tidak masalah.
Akbar: Nyantai, itu lho. Selow saja, nyantai.
Wednes: Mungkin orang mengafiliasikan karena melihat label kita sama-sama free-jazz. Namun jika dilihat live langsung, mereka akan tahu siapa sebenarnya Kultivasi (dikatakan dengan nada misterius).
(Tertawa)
Akbar: Ha-ha-ha-ha.
Manggala: Ditulis ha-ha-ha-ha.
Dari masing-masing personil, apakah petuah dan nasihat bagi para calon pendengar Kultivasi dan para pembaca Gigsplay?
Manggala: Didengar, dilihat, dan disimak.
Paw: Nikmati.
Akbar: Insyaallah Barokah.
(tertawa)
Wisnu: Dengarkan musik kita dengan melihatnya.
Wednes: Terbukalah pada hal-hal baru, karena kita tidak tahu hal-hal baru tersebut akan menjadi apa di masa depan. Jika kita terbiasa terbuka pada hal-hal baru, mungkin kalian akan menemukan sesuatu yang sangat luar biasa di hari-hari ke depan.
Dan apa petuah dan nasihat bagi mas Editor?
Manggala: Dear Editor, open your mind!
(tertawa)