LIBUR 2 PASANG KARRIMOR BUTUT
Asalamualaikum salam sejahtera buat semua, pasti sehat semua kan? Ya kalo ada yang lagi kurang sehat dinikmatin aja semoga sakitnya menjadi kafarotul dzunub, aamiiin.
Akhirnyaaa kepengen nulis cerita ini juga di tengah 2 buku bacaan yang baru saya beli dan ada 2 buku lagi yang mau saya baca juga nantinya jadi ada 4 buku deh haha, juga di tengah-tengah rutinitas ngopi saya hehe. Oke, seperti yang sudah-sudah seperti pada tulisan saya sebelumnya. Sebelum masuk tulisan atau cerita ada patongan atau beberapa bait lagu yang saya selipkan untuk membukanya dan lagu berjudul “AKU TIDAK” dari Budi Doremi ini menjadi pilihan saya karena yaa.. Karna emang sesuai sih dari keadaan sama liriknya haha
Lebaran adalah momen emas dimana para buruh baik yang berdasi maupun yang engga, baik yang makan siang di restoran maupun warthug, baik yang minum kopi di starbak maupun warkop sampe kopi gunting (saset) pinggir jalan untuk liburan. Perlu di catet mas sekeren apapun kerjaan situ, pake dasi di ruangan ber-ac tapi kalo situ masih kerja sama orang ya sama aja buruh! Jadi misal ada sekawanan buruh yang demo nuntut ini itu terus bikin macet, kalian yang kerja kantoran jangam teriak “Dasar buruh kerjaannya demo mulu bikin macet doang!” yaa. Karna inget situ juga buruh lho mas hehe
Seperti pada libur lebaran biasanya kita akan dihampiri pula oleh sebuah kultur atau budaya yang dinamakan MUDIK. Hampir setiap orang di ibukota melakukan tradisi ini kecuali orang betawi. Mengingat udah beberapa tahun keluarga saya ngga mudik, bapak saya mencetuskan ide tahun ini harus mudik, alih-alih beliau juga mau reunian sama temen-temen smpnya. Saya yang cuma tim hore cuma bisa iya sementara abang dan adik saya yang menjadi team inti juga cuma bisa ngangguk doangan. Gagasan ini semacam perintah komandan kepada anak buahnya yang ngga bisa ditolak.
Sebenernya seperti libur-libur lebaran pada tahun sebelumnya saya lebih suka menikmati susana ibukota yang lengang sambil nyemilin nastar juga minum kopi. Kapan lagi kan jakarta begini, tapi apa boleh buat..
Sambil puasa di bulan ramadhan saya berpikir keras untuk mencari akal agar nanti sampai di kampung halaman ngga stuck di rumah saja. Dan pucuk dicinta dila pun tiba anak terakhir di keluarga saya ini meminta sekalian liburan ke malang biar disana ngga bete di rumah aja katanya. Semua mengiyakan dan saya pun tersenyum penuh kemenangan haha. Padahal sebelum dila minta sekalian libur ke malang pun saya sudah mengatur rencana agar bisa colongan trip dengan membawa carrier dan pulang terpisah dengan keluarga. Mengingat di jawa timur gunung buanyak banget dan dari kampung halaman saya aksesnya ngga jauh-jauh amat ketimbang jakarta. Tapi rencana ini sepertinya ngga bisa berjalan mulus sepertinya dan saya berpikir “yaudah lah nanti aja pas sampe jakarta jalan lagi, lumayan kan itung-itung jadi 2 hari liburan” begitulah bunyinya.
Menjelang hari raya dikala masjid dan musolah semakin ada kemajuan yang signifikan dari shafnya (maksutnya makin maju shafnya makin sedikit jamaahnya), semakin ditinggalkan sementara pusat-pusat perbelanjaan semakin ramai. Tibalah berita duka entah kenapa mudik tahun ini dibatalkan, padahal persiapan hampir 80 persen. Batal deh semua rencana trip dan trip colongan. Mungkin ini indikasi dari awal saya sudah agak males-malesan buat mudik dan akhirnya beneran ngga jadi mudik. Oke kita stay di jakarta, jakarta ramai hati ku sepi dan jakarta udah sepi hati ku masih tetep sepi juga. Yerahhh brooo..
Dit tengah sepinya jakarta juga sepinya hati saya belum juga kehabisan akal buat gendong ransel lagi. Mulai cari-cari info lagi dan bikin ulang rencana trip yang berkali-kali diundur karena bentrok sama acara lain terus dengan bung ridwan yanh biasa dipanggil aki yang tidak lain tidak bukan cs kentel saya dari kecil hehe.
Tujuan masih tetap sama yaitu daerah jawa timur mengingat kami baru sekali memijakan kaki di dataran tinggi sana yaitu argopuro yang menurut saya masih menjadi gunung terbaik yang pernah saya daki karena pesonanya. Sempat berpikir untuk trip ke dataran terendah yaitu pantai atau laut, telanjang dada lari-larian menyusur pantai atau berjemur dengan kolor motif bunga-bunga serta berenang dan menyelam bersama nemo dan dori. Tapi.. Kayaknya itu bukan kita banget dan kami mengurungkan niat tersebut dam tetap memilih gunung :’)
Waktunya kita menentukan destinasi. Lalu terbersit Gunung Raung dengan puncak Sejatinya tapi untuk saat itu sepertinya tidak memungkinkan. Kemudian Lawu tapi engga juga deh kayaknya buat saat itu. Akhirnya pilihan kita stuck di Semeru, untuk kriteria gunung dengan waktu tempuh lebih dari sehari semalam. Tapi sepertinya kita kurang bersemangat dengan pilihan kita ini. Kenapa? Yo know lah semenjak film 5cm booming, semeru itu udah kayak apa? Setiap ketemu pendaki dijalan terus ngobrol pasti ada yang nanya “Udah naek gunung kemana aja bang? Semeru udah belom?” kebayang kan orang kayak apa yang nanya begitu. *Ngelus dada* (dadanya ridho roma)
Pencarian kita belum berakhir.. Mao naek gunung aja ribet amat bang! Huft
Sampai pada akhirnya kami teringat pada teman masa kecil kami dulu yang harus berpisah saat tanah moyang kami tersentuh sebuah rencana demi serakahnya kota (bkt) haha. Dia suka traveling, hiking, malahan dia terbilang lebih nekat dan ekstrim dari kita, karna kalau dia udah angakt carrier bisa sampe sebulan ngga pulang ke rumah. Sebut saja Yakub biasa dipannggil “Be” karna namanya kalau disebut seperti memakai hukum tajwid qolqolah, yang sejak kecil menggemari Iwan Fals, kopi, dan rokok. Terkadang kami meet up kalo kata anak jaman sekarang sharing pengalaman, gears, sampai kerasnya kehidupan. Kami berdua ingat betul kalau dia belum lama baru dari gunung Arjuno.
Tanpa berpikir panjang kami mencari kontaknya dan mulai sharing akses menuju Arjuno. Sama seperti kami dari awal melakukan pendakian dia belum pernah juga mengagendakan Semeru dengan alasan malas karena ramai. Setelah berbincang cukup lama ditemani kopi sachet yang diberi tambahan es batu kami sampai diujung pertanyaan umum newbie. “Gimana Be treknya?” sambil tertawa dia menjawab “Udah lu naek aja, treknya pokonya enak dah! Haha” mendengar jawaban tersebut aki yang seperti biasa lebih banyak diam sangat ingin meng-Kamehameha yakub pada saat itu, tapi tidak jadi dia mengurungkan niatnya.
Finally, kami mencoret semua list gunung-gunung sebelumnya dan fix menuju Arjuno via jalur Tretes sebagai gantinya. Dengan cepat kami memberi kabar kepada beberapa teman yang sebelumnya ingin ikut agar bisa cepat memebeli tiket kereta. Tapi nihil, yang awalnya bilang mau ikut satu persatu menarik kembali ucapannya karena acara dan kesibukan masing-masing. Nah lo terus gimana dong? Kalo cuma berdua ngga jadi naek dong? BRANGKAAATTTTT ! mundur sebelum berperang bukan moto kami hehe. Walaupun standar pendakian gunung adalah 3 orang tapi kali ini kami tidak mengindahkannya. Kalo bisa jangan ditiru yaa, tapi kalo udah kebelet mah jalan aje udeeeehhh haha.
Sudah lama saya merencanakan trip berdua dengan anak manusia yang satu ini tapi selalu gagal, terakhir rencana trip berdua ke Rinjani tapi gagal karena akhirnya 3 orang crew memutuskan ikut juga. Mungkin ini saatnya 2 mahluk marjinal ini melepas penatnya cuma berdua, guna menghilang sejenak dari membosankannya hipokrisi dan slogan-slogan ibukota, dari penatnya pertanyaan dan tuntutan hidup dari mereka yang menurut kami hidup mereka itu terlalu mengikuti arus itu bukan kami dan kami tidak bisa seperti kalian, juga dari patah hati. Kami ingin kembali berdaulat dan kembali belajar menaklukan diri sendiri dari kesombongan diri ini dengan lagi-lagi membuktikan pada diri ini bahwa kamu bukan siapa-siapa dan tidak bisa apa-apa. Gunung menempa kami, gunung menampar kami, aku yang lebih besar dan lebih kuat memaku bumi saja bisa hancur apalagi kalian. Mereka seakan membuktikan bahwa ada yang jauh Maha Besar darinya yaitu Sang Ar-Rahman Ar-Rahim yaitu Allah Azzawajala.
Sehari sebelum keberangkatan tidak lupa kami mengecek sepatu trekking tipe Karrimor Summit yang kondisinya cukup mengenaskan. Sepatu ini adalah sepatu pertama kami yang kami beli bersama dan sampai saat ini masih kami pakai yang kami beli dari olshop lewat Cod (romantis banget yaa). Dengan kondisi jebol disana-sini dan track record 2x Sol 1x Lem mengharuskan kami memakai jasa tukang sol lagi. Beberapa hari sebelumnya sempat terbersit di kepala saya untuk membeli sepatu trekking baru, tapi setelah saya pikir dengan harga yang cukup lumayan merogoh kocek lebih dalam lagi saya memutuskan untuk mengurungkannya. Sepertinya lebih baik uangnya dipakai untuk tambahan trip buat jaga-jaga diperjalanan. For your info lagi-lagi beli barang original dengan yah yang lumayan itu menurut saya cukup worth it sih karena ada harga ada kualitas. Entah sudah berapa kali perjalanan kami lalui berdua dengan sepatu yang menurut kami penuh histori tidak terlalu banyak juga tapi banyak hal berat yang sudah kami lalui bersama mereka. Kondisi mereka yang lusuh dengan jebol sana-sana akibat medan keras mengingatkan saya akan kami berdua banyaknya hal yang kami lalui, 2 teman kecil main bersama, tumbuh bersama, sampai sekarang besar bersama, menjelajah bersama dengan 2 pasang karrimor bututnya. Dari sini judul tulisan ini berasal hehe.
Semua persiapan beres, kami berangkat dengan cara estafet naik angkot dari rumah lalu menggunakan kereta dari stasiun cakung transit di stasiun jatinegara lalu stasiun pasar senen. Sore hari sebelumnya kami sudah packing sedikit dengan agak kelimpungan karena beberapa gears di homebase yang tidak jelas kemana rimbanya karena dipakai sana-sini sampai tidak tau ada dimana lagi dan akhirnya kami memutuskan meminjamnya dari yakub, masalah selesai akhirnya rampung ter-packing 2 buah carrier ukuran 38 liter dan 60 liter yang menjadi teman kami selama trip kali ini.
Sampai di stasiun cakung sambil sedikit merapikan carrier dan menggendongnya setelah turun dari angkot, munculah mba-mba dengan biji pepaya di pipi melempar senyum di sabtu pagi cerah dimana kebanyakan orang liburan tapi dia malah masuk kerja, biar bisa liburan ke bulan katanya haha. Selamat bekerja kakak hehe
Kereta berangkat pukul 11.30 kami dan kami tiba di stasiun sekitar pukul 10.45. Belanja cemilan sebentar, sambil aki curi-curi pandang sama mb cashier. Kita lanjut boarding pass, nah disini terjadi sedikit ketegangan antara saya dan polsuska bahwa tidak boleh membawa gas portable di dalam kereta. Saya sedikit mengadu nyali disini, saya tantang mereka untuk membongkar carrier saya yang sangag penuh dan sudah pasti sangat merepotkan kalau harus mengeluarkannya satu-persatu mengingat diblakang saya antrian cukup panjang.
Akhirnya kami di perbolehkan lewat dan salah seorang dari mereka bilang “Bener ya ngga ada gasnya? Awas nanti diatas saya cek lagi, kalo sampe ada saya suruh turun” kami berlalu sambil Aki bergumam “Enak aja gua beli tiket bayar pake nyuru turun” lalu kami tertawa jahat. Apa boleh buat saya harus berbohong karena ada 4 kaleng gas di dalam carrier saya dan kalau saya serahkan kepada mereka, saya masak pakai apa? Beli lagi Harga gas portable sekarang hampir sama kek gas 3kg bro :“)
Lepas berjam-jam tidur, mondar-mandir di rangkaian, akhirnya kami sampai di surabaya kurang lebih 3.30 pagi. Ternyata kegabutan di kereta berlanjut di stasiun yang masih teramat pagi itu kita bingung mau ngapain. Ke musolah pintu masih di kunci ke masjid di dekat stasiun sama juga. Yaudah lah kita senderan melukin carrier sambil makan pop mie aja. Kebanyakan penumpang lain juga sama, sama-sama nunggu matahari terbit tanda memulai aktivitas.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu sedari tadi tiba yaitu adzan subuh, sebuah lantunan tak terbantahkan mengiringi kami menuju pagi. Setelah kita selesai solat subuh di masjid dekat stasiun, kami bergegas mencari taksi untuk menuju pasar turi karena bis yang menuju terminal Bungur Asih ngga ada yang lewat stasiun surabaya gubeng. Ketika nanya angkot sama satpam sebuah gedung, ternyata kabar buruk yang di dapat. Dia bilang “Percuma mas kalo mau naik angkot, ini kan hari minggu waktunya CFD ya angkot adanya nanti siang mau naik taksi aja, udah gitu surabaya lagi kedatangan tamu asing dari beberapa negara”. Huft banget yak, menurut saya pribada kita berdua terlalu cepat untuk naik taksi sekarang (ngirit ongkos). Kemudian saya nanya lagi “Kalo jalan kaki lewatnya mana pak?” Pak satpam menjawab “Waduh jauh banget mas kalo jalan kaki, bisa sejam lebih” sambil dia menunjukan arah kana saja kami harus berjalan. Terima kasih pak satpam atas informasinya, dengan berat hati kaki memutuskan jalan kaki.
Ternyata benar apa kata pak satpam jarak dari stasiun surabaya gubeng ke stasiun pasar turi itu JAUUUUUUH! Entah berapa lama kami berjalan, kalau tidak salah kurang dari 1 jam sih. Belum naik gunung udah jalan entah berapa kilo ditambah bawa kulkas 2 pintu di pundak fyiuh.. Tapi cukup menghibur suasana kota pahlawan pagi itu selain lagi cfd juga banyak polisi lagi jaga dijalan ada acara fun bike juga.
Sampai di stasiun pasar turi hasil dari menggunakan GPS, kami langsung menuju lampu merah di perempatan lampu merah dekat stasiun dan langsung menuju terminal Bungur Asih menggunakan bus damri. Damrinya beda banget sama di jakarta, disini damrinya agak reot hehe.
Sampai di terminal bungur asih kami langsung mencari bus yang menuju ke pandaan. Entah akibat antimo atau memang saya pelor, saya lagi-lagi tidur di bus. Dan setelah beberapa saat, saya dibangunkan oleh aki “bray bray bangun bray, kata keneknya udah sampe” saya cukup tersentek dan langsung buru-buru menuju keluar dan membuka bagasi untuk mengambil carrier. Beberapa saat setelah mobil pergi dan saya mulai tersadar kami berada di pinggir jalan di depan sebuah komplek perumahan besar. Jancuk! Kita turun bukan di terminal tapi dipinggir jalan! pr lagi untuk kami mencari dimana letak terminal pandaan, maaf saya ngomong “jancuk!” sekali lagi.
Setelah berkali-kali dihampiri tukang ojek dan kami menolaknya. Kami memutuskan untuk bertanya ke kantor polisi di pinggir jalan dan percuma saja tidak membuahkan hasil, jawabannya muter-muter bikin pusing. Yang cuma kami mengerti dari jawaban pak polisi cuma “kalo jalan kaki mah jauh mas”. Kami keluar dari kantor polisi dan memilih bertanya kepada warga sekitar. Kami menemukan seorang bapak di teras rumah pinggir jalan, entah itu rumahnya atau bukan tapi yang penting ada jawaban. Setelah saya bertanya bla-bla-bla ternyata beliau tidak terlalu bisa bahasa indonesia, Sabarin kitaa Ya Alloh..
Kalau masih bahasa jawa biasa saya masih lumayan mengerti dan bisa membalasnya walaupun sebisanya, tapi ini bahasa jawa halus. Malah saya sempat dikira tuli karena saya selalu menjawab “iya, iya, dan hah” sampai-sampai beliau berbicara agak keras si telinga saya. Padahal mau di berbicara sekeras apapun kami tetap tidak mengerti bahasanya -_-. Sampai pada akhirnya kami ada di titik saling mengerti, mungkin bukan karena bahasa melainkan dengan hati (celah). Dan beliau membantu kami menyetop angkot yang menuju ke terminal (terima kasih bapak berbahasa jawa halus).
Sedikit percakapan kecil di dalam angkot dengan supir, ternyata lagi-lagi semua jalur dialihkan karena CFD dan jarang angkot atau bis yang lewat arah terminal pagi ini. Dan angkot yang kami naiki ini salah satu angkot yang agak bandel memilih tetap narik walaupun dia harus memakai jalur alternatif untuk menuju terminal.
Sampai di depan terminal kami turun dan alhamdulillah nya langsung ada angkot berwujud mobil carry atau espass agak lusuh yang katanya cuma ada sampai siang hari saja untuk menuju ke tretes. Supir baik, harga bersahabat, kami langsung menuju ke pintu pendakian tretes.
Sampai di pos pendaftaran yang diurus oleh BKSDA langsung, disana terlihat cukup ramai terlihat pendaki sedang packing atau rapih-rapih untuk pulang. Kami langsung dihampiri petugas untuk mengisi daftar pendakian dan mengurus Simaksi. Beberapa pertanyaan diajukan oleh petugas “Sebelumnya sudah pernah kesini belum mas? Terus tau jalurnya ngga?” semua jawaban itu kami jawab singkat dengan kata tidak sambil nyengir kuda dan dia membalasnya dengan geleng kepala hehe. Mungkin yang ada di pikiran petugas tadi (Yang begini nih yang bikin gua repot kalo pada nyasar!).
Selesai mendaftar kami memilih sudut depan pos pendaftaran tadi dekat dengan beberapa orang pendaki yang isinya lakian semua. Sambil bergantian untuk ganti baju dengan aki, saya ikut bergabung dengan mereka dan disambut dengan segelas teh panas.
“Darimana mas?” kata seorang dari mereka, “Dari jakarta bang” jawab saya singkat. “Alhamdulillah akhirnya ketemu sama orang jakarta juga” sahut seorang dari mereka. “Lah emang ngga ada lagi yang dari jakarta bang?” jawab saya, “Ada si, rombongan kemaren, tapi yang berduaan kayak ente kagak ada bang. Yakin bang mao naek hari ini berduaan doang?” sahutnya. “Hehe iya bang insya allah, abisnya mao gimana lagi, sampenya baru sekarang, kalo naeknya besok keburu abis waktunya entar hehe” jawab saya.
Sambil menyeruput teh panas saya melanjutkan obrolan guna mengajukan beberapa pertanyaan. “Bang di pos pondokan aman?” tanya saya, mengingat dari informasi yang saya dapat penambang belerang yang menginap disana suka usil, dari mulai memalak hingga mencuri peralatan gunung pendaki. “Nggg gimana ya? Ya banyakin doa aja deh bang, kemaren kita si rame jadi enak aja. Emang si hawanya gitu” jawab seorang dari mereka. Ini kok jawaban rada janggal ya, ditanya apa jawabnya apa gumam saya dalam hati. Lalu mereka berbisik “Kemaren malem si katanya, ada rombongan 6 orang baru sampe belokan situ ada yang dicekik lehernya terus balik lagi ga jadi naek!”. Oalaaah ternyata dia menafsirkan pertanyaan keraguan saya tentang penambang, malah diartikan dengan keraguan mereka dengan cerita setan-setanan disini hehe. “Yaudah naeknya hati-hati ya bang, soalnya ente cuma berdua doang. Ga ada lagi yang naek hari ini. Melihat dari daftar data pendaki kami mengaminkan omongan mereka, karena yaa memang hari ini cuma kami yang naik selebihnya orang yang turun hehe. Ridwan selesai ganti baju, kini giliran saya tidak lupa berterima kasih untuk tehnya dan berpamitan dengan mereka. Doakan kami sukses jakartans! :”)
Setelah ganti baju dan packing ulang, saya baru sadar bahwa bukan hanya pasak saja yang tertinggal tapi juga kaus kaki saya, jadilah pendakian kali ini saya tanpa kaus kaki dan bersiap kaki lecet-lecet huhuuu.
Pendakian kami mulai dengan berdoa dan ketika di pintu masuk kami bertemu dengan beberapa petugas yang sedang ngobrol. “Misi pak” sapa kami, “Yoo mas monggo, berduaan aja? Jawab mereka. "Iya pak hehe” jawab kami, “Waduh, yakin mau naiknya hari ini berduaan aja?” tanya mereka ragu. “Iya pak hehe, abis mau gimana lagi” jawab kami mantap. Kesimpulannya dari semua orang yang kami temui pagi itu, semuanya meragukan kami berdua. Dan kami cuma bisa cengengesan, dibawa asik ajelah!
Trek diawal perjalanan peluran dengan batu-batu terususun rapih, hutan pinus, dan beberapa kuda sewaan terlihat mondar-mandir mengangkut pengunjung karena di daerah tretes ini banyak sekali resort dengan suasan persis seperti puncak di bogor namun jalannya lebih kecil.
Belokan yang mereka cerita ada orang dicekik kemarin kami lewati saya menyebutnya belokan valentino rossi liukannya yang cukup aduhai dan setelah itu langsung tanjakan, huft. Terus melewati area kemah yang cukup ramai di depannya ada warung yang cukup terkenal entah saya lupa apa nama warungnya persis sebelum Pos 1.
Melewati Pos 1 jalur berubah drastir yang tadinya batu-batu cor-an menjadi bebatuan besar dengan letak tidak teratur malah kalau diinjak terlalu keras batu-batunya melejit, sangat tidak nyaman treknya ditambah saya tidak pakai kaus kaki.
Kabut perlahan turun, beberapa kali kami bertemu pendaki turun dan bertanya apakah pos 2 masih jauh? Lalu mereka menjawa dengan tegas “MASIH MAS” yerah pada jujur amat~ Sampai dibalik kabut yang cukup tebal kami bertemu dengen beberapa orang yang dari penampilannya pasti bukan pendaki tapi penduduk setempat. Kami diberhentikan sebentar. Saya dan ridwan waspada, tapi untungnya meraka cuma meminta bekal air kami sedikit untuk pulut (lem perangkap dari getah) untuk jebakan burung. Dan ketika kami jalan kami dipanggil kembali “Mas jalannya pelan-pelan aja kalo kabutnya tebal, takutnya ada macan!”. Hadeh.. Okee masss makasih loh, setelah setan-setanan, tukang palak, sekarang ada lagi macan. Ini baru namanya tes mental!
Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 2 jam kami tiba di Kokopan atau biasa disebut juga Kokopan yaitu pos 2 dari jalur pendakian via tretes, kenapa disebut begitu karena disini ada aliran air yang bocor di dinding tanahnya, juga ada aliran air yang cukup melimpah di sudutnya. Kami memutuskan untuk makan siang dan beristirahat disana, kalau tidak salah waktu itu sekitar pukul 2 siang. Setelah berleha-leha istirahat sampai kurang lebih pukul setengah 3 kabut tidak juga hilang. Karena jarak pandang yang sangat dekat karena tebalnya kabut, kami ragu untuk melanjutkan perjalanan ditambah kami juga tidak membawa senter pemecah kabut. Dan alhamdulillah di sekitar pukul 3 kabut menghilang, perjalanan kami lanjutkan. Beberapa kali kami berpapasan dengan para pendaki yang hendak turun sambil bertanya-tanya tentang penambang belerang yang sedikit tukang palak dan sedikit klepto. Dan benar saja apa yang kami takutkan terjadi. Ada beberapa pendaki yang dipalak makanannya dan kehilangan carriernya.
Hari mulai gelap, headlamp kami pasang. Trek menuju pos 3 semakin berat karena semakin menanjak ditambah batu-batu besar di trek yang ketika dipijak meleset sangat menguraa tenaga kami. Ada 2 tanjakan yang sangat jujur di jalur menuju Pos 3. Kenapa sangat jujur? Karena tingginya begitu jelas dari bawah membuat kami malas untuk menjajakinya. Turun aja yuk? Hehe Sampai kami bertemu rombongan pendaki yang terakhir dan kembali bertanya situasi di Pos 3 atau pondokan. Dan mereka membenarkan semua cerita pendaki lain bahwa ada yang dipalak makanannya dan satu tas carrier full yang ditinggal pada saat muncak dicuri. Hadeh betr banget masa digunung ada preman sama malingnya yak, kondisi seperti ini persis seperti yang pernah kami alami di gunung Sindoro via Kledung, huft. Setelah meminta saran untuk tempat camp yang aman. Mereka memberi saran untuk tetap camp di pondokan atau pos 3. Karena penambang belarang pada saat itu tidak tidur di pondokan mereka, melainkan tidur di jalur arah ke gunung welirang. Alhamdulillah, setiap saat Allah menolong kami. Karena jika kami harus camp di lembah kidang, cukup horror juga menurut saya. Coba bayangkan 2 orang di tengah padang savana dan hutan pinus di gunung yang kebanyakan orang bilang angker pula, mayan deh buat uji nyali.
Sampai di Pos 3 Pondokan, kami memilih tempat dekat hutan pinus posisinya memblakangi pondokan dan agak keatas sedikit dari jalur menuju ke lembah kidang. Kami sesegera mungkin membuka tenda karena cuaca pada saat itu cukup dingin dan menusuk tulang. Selesai mendirikan tenda, kami membuat makan malam, teh, dan menikmati beberapa snack yang kami bawa.
Cuaca pada malam itu cukup sunyi dan senyap, angin bertiup cukup kencang. Langit bertabur bintang, saya yakin tidak lama kemudian milky way mucul, tetapi kondisi kami cukup kelelahan menghadapi trek Arjuno. Kami menikmati setiap tetes keringatnya, setiap nyeri sendi sampai keram kaki yang kami dapat. Kami tersenyum lepas, kemerdekaan para penikmat lelah, yang rela berjalan jauh untuk mencari hakekat manusia dan arti dari pulang. Malam, izinkan kami melepas penat malam ini. Sekitar pukul 1 malam saya terbangun karena terkejut oleh lolongan keras suara anjing. Come on.. apalagi ini.
Suara terdengar begitu dekat, saya yakin ukuran anjing ini cukup besar terdengar dari lolongannya. Mengingat peristiwa di Argopuro saya langsung membangunkan Ridwan yang sedang tertidur lelap karena kelelahan. Ridwan bangun, kami berdua menikmati suasana chaos di seketar tenda. Suara menggeram mengelilingi tenda kami, beberapa kali terdengar suara lolongan dari arah lain. Kami takut mereka saling memanggil dan berniat mengepung kami lalu melucuti kami seperti perang gerilya, lebay yak? hehe. Tapi asli waktu itu suasanya chaos beneran deh. Dan akhirnya sekitar pukul 2 kami bisa tidur kembali. Akhirnya sang surya menampakkan sinarnya. Kami membuat sarapan dan segera packing, bergegas meninggalkan pondokan guna menghindari penambang belerang usil dan..