Dibalik kedewasaan, ada jiwa yang tetap rindu dilihat, diperhatikan, seperti anak kecil yang tak pernah lelah mencari pandang
____________________________________________
Di balik kedewasaan yang tampak kokoh, ada jiwa yang masih menyimpan keinginan sederhana: untuk dilihat, untuk diperhatikan. Seiring waktu, kita seringkali berpura-pura bahwa kebutuhan itu sudah lenyap, bahwa kita sudah cukup mandiri dan tak lagi membutuhkan perhatian. Namun, seperti anak kecil yang dengan tulus mencari pandangan orang-orang di sekitarnya, jiwa yang dewasa pun sesekali tak bisa menghindar dari kerinduan itu. Bukan hanya untuk diakui, tapi untuk merasa dihargai dalam keheningan dan dalam cara yang tak selalu tampak.
Seiring bertambahnya usia, bentuknya memang berbeda. tidak lagi sekadar sorotan mata atau tepukan di punggung. Terkadang dalam kesendirian, dalam percakapan yang terlewatkan, atau dalam ruang-ruang kosong yang tak terisi, kita kembali menginginkan perhatian itu. Mungkin kita tak lagi memintanya dengan kata-kata, namun ada getaran halus di dalam diri yang mengharapkan ada yang peduli. Seperti anak kecil yang tak pernah lelah mencari pandang, jiwa kita yang dewasa pun terus menanti, meski tak terucap.
Selamat merindu manteman!













