Tak akan Sama Ingin ku ulang kata kata tentang dirimu dan yang telah lalu tapi apa ku sanggup merubah semuanya? yang kuhancurkan untuk dibangun kembali Tama baru saja duduk di ruang kantornya, ia langsung membuka lembar proyek yang sedang dia kerjakan. Tama, seorang pengusaha muda, umurnya baru 22 tahun, tapi ia sudah akan membangun sebuah pabrik. Tama ingin membangun sebuah pabrik kertas. Karena pacar Tama merupakan seorang aktivis lingkungan, Tama akan membuat kertas daur ulang. Pacarnya bernama Tara. Tara dan Tama sudah berpacaran sejak SMA. Mereka meraih cita-cita mereka bersama dan selalu saling membantu satu sama lain. Semua sudah siap, ia hanya tinggal menentukan lokasi pembangunan pabrik tersebut. Saat Tama sedang sibuk dengan lembar proyeknya, tiba-tiba ponselnya berdering “Halo?” Tama mengangkat telponnya “Halo, ini Tama ya? Ini gue Aldi” “ooh Aldi? Apa kabar? Tumben nelpon?” Aldi adalah teman kuliah Tama, ia sekarang bekerja sebagai broker tanah “Gue denger-denger lo lagi nyari tanah ya?” Aldi langsung bertanya to the point “iya nih, gue pengen buka pabrik, tapi masih bingung mau dimana” “gue ada tanah nih Tam, daerahnya rada jauh sih dari Jakarta. Tapi cocok buat pabrik karena masih murah dan luas tanahnya” Tama memang mencari tanah yang luas dan murah, ia tidak mungkin mendirikan pabrik di sekitar kota Jakarta, karena selain tanahnya sudah mahal, membuka pabrik di sekitar Jakarta akan lebih memperuwet keadaan kota Jakarta, dan Tama tidak ingin itu terjadi. “luas tanah nya berapa di?” Tanya Tama. “luasnya cukup lah untuk pabrik. Kalo lo tertarik mending kita ketemu dulu” tawar aldi “hmm, yaudah makan siang ini lo bisa?” Aldi pun langsung menyanggupi. Siang itu, Tama dan Aldi pun makan siang bersama. Mereka mendiskusikan mengenai tanah yang ditawarkan Aldi. Tanah itu terdengar sempurna; Luas, murah, daerahnya tidak padat. Tama pun langsung mengatur tanggal dimana ia dapat mensurvei tempat tersebut. Setelah makan siang, ia pun kembali ke kantornya. Sesampainya dikantor ia langsung menelpon Tara. “Haloo Tara!” sapa Tama dengan riang “Haloo!” sapa Tara dari sebrang sana “Tar, aku nemuin tempat yang cocok buat bangun pabriknya nih. Aldi, temen kuliah aku dulu, dia nawarin tanah ke aku. Lokasi nya bagus, tanahnya gede terus harganya murah” Tama langsung bercerita panjang lebar mengenai tanah yang ditawari Aldi tadi. Ia tampak sangat bersemangat. “hari sabtu ini aku mau survey kesana. Ikut yuk?” ajak Tama “sabtu ya? Hmm oke deh!” Tara menyanggupi. Hari sabtu pun tiba. Tama sedang dalam perjalanan ke rumah Tara. Hari ini Tama mengenakan kaos putih polos dan celana jeans. Ia dan Tara akan mensurvey tanah yang ditawarkan Aldi beberapa hari yang lalu. Aldi sendiri sudah menunggu disebuah rumah makan didekat lokasi tanah tersebut. Sesampainya dirumah Tara, Tama pun turun untuk berpamitan dengan orang tua Tara. Lalu mereka pun pergi. Perjalanan yang ditempuhnya cukup lama, mereka berkendara keluar Jakarta melawati tol selama 1 setengah jam. Mereka pun sampai di rumah makan padang tempat Aldi menunggu mereka. Langsung saja mereka duduk dikursi yang telah Aldi persiapkan. Sebelum mereka pergi ke lokasi tanah, Tama dan Tara memesan makanan terlebih dahulu karena itu memang sudah waktunya makan siang dan mereka amat sangat lapar, sedangkan Aldi sudah makan sebelum mereka datang dan sekarang ia hanya memesan segelas es teh manis. Setelah selesai makan, mereka pun langsung bergegas ke lokasi tanah yang ditawarkan Aldi. Perjalanan kesana hanya memakan waktu 15 menit. Sesampainya disana, Tara sangat terkejut dengan kondisi tanah tersebut. “lah, ini tanahnya?” Tanya Tara dengan kaget “Iya, luas kan? Udah luas, harganya murah, daerahnya juga ga ribet.” Jawab Aldi “tapi ini kan hutan, lumayan lebat lagi hutannya. Emang ini boleh dibikin pabrik?” Tanya Tara. “boleh, ini kan bukan milik pemerintah, ini milik perorangan” Aldi menjawab singkat. “Di, gue kira tanahnya itu tanah kosong, bukan hutan gini. Lo gabilang kalo hutan.” Tama menyahut “Hutan begini kan buat paru-paru oksigen sama resapan air desa sekitar sini, kalo dibikin pabrik entar desa sekitar sini gapunya resapan air dong?” Tara bertanya sedikit sewot. “ya itu kan beda lagi urusannya. Yang penting kan sekarang Tama lagi nyari tanah yang luas dan murah buat pabrik, jarang kan tanah segede gini dengan harga semurah ini?” Sahut Aldi Tama pun hanya diam saja. Setelah melihat-lihat tanah tersebut, mereka pun pulang. Diperjalanan pulang, Tara diam saja, Ia kesal. Tama pun tidak berniat membuka obrolan dengan Tara. Ia memikirkan tanah tadi dan betapa murah harganya. Setelah mengantar Tara pulang, Tama pun pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, ia melihat ponselnya, dan ternyata Aldi sudah meng-sms nya menanyakan tentang tanah tadi. Tama berbaring di tempat tidurnya lalu menatap langit-langit kamarnya Tanah tadi harganya murah ya… Tapi kalo gue bikin pabrik disana, berarti gue harus ngegundulin hutan itu kan? Tapi... kalo gue nebang pohonnya, pohonnya bisa gue pake buat bikin kertas juga Eh! Gue kan mau bikinnya kertas daur ulang? Masa iya pabrik kertas daur ulang malah ngegundulin hutan? Tapi kapan lagi harga tanah seluas itu bisa murah begitu? Batin Tama pun bertengkar mengenai tanah tersebut. Tama sedang menunggu sesorang disebuah rumah makan. 2 porsi nasi goreng dan teh manis yang sudah dipesannya sudah dingin. Seharusnya makanan itu sudah disantapnya dari 1 jam yang lalu. 15 menit kemudian “aduuuh, maaf ya lama. Tadi aku bantuin temen aku milih tanaman buat di tanam di taman kota yang baru” Tara menjelaskan alasan ia terlambat. “iya ga apa-apa kok, aku Cuma nunggu 1 setengah jam. Ha ha ha” Tama menyindir Tara dengan garing “yaaa maaf deh Tam, aku gatau bakal lama bangeet. Aku traktir deh sekarang?” Tara berusaha meminta maaf “hahaha gapapa kok becanda doang. Hmmm, ayo makan” ajak Tama Lalu mereka pun menyantap makan siang mereka dengan lahap. Setelah selesai makan, Tama memberi tahu Tara sesuatu “Tar, inget tanah yang waktu itu kita lihat kan? Yang murah itu loh” “he-eh inget kok, kenapa?” Tanya Tara “hmm.. aku kayanya jadi beli tanah itu Tar” Tama berkata dengan sedikit ragu “hah? Maksud kamu , kamu jadi bikin pabrik dihutan itu?” Mata Tara membelalak kaget “iyaaa, abis nya tanahnya murah banget Tar, kapan lagi ada tanah seluas dan semurah itu? Buat masalah hutannya, nanti aku pikirin lagi” Tama menjelaskan “tapi kamu tau kan risiko nya kalo kamu bangun pabrik disitu? Kamu gimana sih, katanya mau bikin pabrik kertas daur ulang, kok malah begini?” Tara mulai kesal “aku bakal bikin kertas biasa dan kertas daur ulang Tar. Soalnya kalo aku bikin kertas daur ulang aja, untung aku sedikit.” Tara diam “jadi rencana nya, aku bangun pabrik ditanah yang kemaren, terus pohon-pohon yang aku tebang, aku bikin kertas biasa, tapi nanti aku tetep bikin kertas daur ulang. Tapi kertas daur ulang itu bukan prioritas utama aku. Karena setelah aku itung-itung, lebih untung jual kertas biasa daripada kertas daur ulang..” Lanjut Tama menjelaskan rencananya “terus hutannya?” Tanya Tara sewot “yaa, itu urusan lain Tar. Aku juga udah cek itu milik pribadi kok bukan pemerintah, jadi mau diapain aja juga ga melanggar hukum” jawab Tama Tara diam. Ia merasa terkhianati. Padahal selama ini ia membantu Tama menyusun rencana untuk membangun pabrik kertas daur ulang tersebut. Tapi, sekarang Tama malah ingin merusak nya dengan mendirikan pabrik di tanah yang seharusnya menjadi resapan air untuk desa-desa sekitarnya. Dan bahkan, Tama mengenyampingkan pembuatan kertas daur ulang dan lebih memilih menebang pohon untuk membuat kertas biasa. Tanpa bicara, Tara langsung meninggalkan Tama. Tama pun hanya terdiam dan melihat Tara berjalan menjauh darinya. Tama sedang bersiap-siap untuk menghadiri reuni SMA nya. Jika mengingat reuni ini, yang Tama pikirkan hanya satu; bertumu Tara. Tidak terasa 3 tahun sudah berlalu sejak Ia dan Tara bertemu. Mereka terakhir bertemu ketika Tama mengatakan akan membangun pabrik di tanah yang terdapat hutan yang luas. Semenjak itu, Tara menolak bertemu dengan Tama, dan mereka pun lost contact. Tetapi, malam ini, setelah 3 tahun tidak bertemu, mereka akan bertemu kembali. Sesampainya di reuni, teman-teman Tama datang bersama pasangan masing-masing. Sedikit dari mereka yang tidak membawa pasangan seperti Tama. Disana, mata Tama terus mencari batang hidung Tara. Tapi, setelah melihat-lihat sekeliling ia tetap tidak menemukan Tara. 2 jam telah berlalu, tetapi Tara belum kelihatan. Tiba-tiba salah seorang teman Tama menyapa nya “Tam, nyariin siapa sih daritadi?” Tanya nya “hmm, gue nyari Tara nih. Dia dateng gak ya?” Tama menjawab sambil terus melihat sekeliling “lah lo belom denger? Tara kan malem ini ga bisa dateng.” “oh ya? Kenapa ga bisa dateng?” Tama sedikit kaget mendengarnya “pacarnya ulang tahun, jadi dia ga dateng” jelasnya Tama terdiam. Ia kaget mendengar kata ‘pacarnya’. “woy Tam, kenapa? Lo udah putus kan sama Tara?” temannya bertanya meyakinkan bahwa Tama dan Tara memang sudah tidak ada apa-apa lagi “eh, iya. Iya gue udah putus kok haha. Gue balik duluan deh ya?” sahut Tama. ia pun segera meninggalkan tempat reuni dan pulang kerumahnya. Keesokan harinya, Tama masih memikirkan fakta bahwa Tara sekarang sudah bersama orang lain. Tara yang sedari SMA menjadi pendampingnya itu, sekarang sudah menemukan orang lain. Ia merasa tidak ingin melakukan apapun hari ini. Tapi, ia melawan perasaan tersebut dan bergegas berangkat kekantornya. Tanpa ia sadari, ia malah menyetir kearah rumah Tara dan bukan ke kantornya. Saat didepan rumah Tara, Tama terdiam dan hanya melihat kearah rumah Tara. Tak lama Tara keluar rumah. Tara langsung menyadari kehadiran Tama didepan rumahnya. Tama pun bergegas turun dari mobil dan menghampiri Tara “Hei, Tar” sapa Tama Tara memandang lekat wajah Tama lalu akhirnya menjawab singkat “Hei” “mau kemana?” Tama bertanya dengan kikuk “pergi” jawab Tara singkat “naik apa?” Tanya Tama lagi Tara tidak menjawab dan hanya menunjuk sebuah mobil sedan yang parkir tak jauh dari mobil Tama. Didalamnya terdapat seorang laki-laki yang sedang memperhatikan mereka. “duluan ya” pamit Tara lalu pergi meninggalkan Tama. Siangnya, Tama menghampiri kantor Tara secara tiba-tiba. Tara yang melihat Tama menunggunya diruang tunggu tampak kaget “Tam, mau ngapain kesini?” Tanya Tara “Cuma mau ngajak makan siang aja kok, boleh?” Tama menajwabnya dengan pertanyaan Tara pun dengan ragu mengiyakan ajakan Tama, dan mereka bergegas menuju rumah makan terdekat. Setelah menyantap sepiring soto mie dan segelas teh manis, Tama membuka obrolan. “Tar, sebenernya gini. Gue kepengen nanem pohon nih, pohon yang kuat dan tahan lama buat ditanem itu pohon apa ya?” Tama bertanya “nanem pohon buat apaan? Buat ditebang terus bikin kertas?” Tara menjawabnhya dengan sindiran Tama tersenyum kecil lalu menjawab, “ bukan, gue kepengen bikin lahan hijau aja gitu” Tara terlihat heran dengan ucapan Tama “kita udah 3 tahun ga ketemu terus sekarang lo tiba-tiba bilang ke gue mau buka lahan hijau?” suara Tara terdengar sangat heran “iya, emang salah?” jawab Tama “ya aneh aja. Yaudah kalo lo mau tau tanaman apa yang kuat untuk ditanem jangka panjang, nanti gue kirimin daftar nama tanamannya lewat email aja ya. Gue harus buru-buru sekarang.” Tara menjawab lalu langsung bergegas pergi. Sebulan telah berlalu, Tama dan Tara menjadi lebih sering bertemu untuk membicarakan lahan hijau yang akan Tama buat. Dan, tepat hari ini, Tama akan meresmikan pembukaan jalur hijaunya. Tama mengundang beberapa teman SMA, kuliahnya, dan kolega-kolega kerjanya. Ia juga mengundang Tara. Waktu pembukaan pun tiba, Tama sedang mempersiapkan dirinya untuk berpidato ketika Tara menghampirinya “Tam, makasih ya udah ngundang gue. Gue bangga banget sama lo karena udah ngebuat jaur hijau ini” kata Tara “Iya, makasih juga ya udah ngebantuin gue buat menata nya” Balas Tama “ohiya, Tam, kenalin ini pacar gue namanya Bagas” Tanpa diduga, Tara mengajak dan mengenalkan pacarnya kepada Tama Dengan senyum yang dipaksakan, Tama menyalami tangan Bagas dan memperkenalkan dirinya. Lalu Tama berpamitan untuk mempersiapkan pidatonya. Saat untuk berpidato pun tiba, Tama memulai pidatonya. Semua berjalan lancar sampai tiba-tiba Tama berkata kepada siapa lahan hijau ini Ia persembahkan; Tara. Tara terlihat sangat kaget, ia merasa tidak enak dengan pacarnya, Bagas. Setelah pidato selesai, Tara berusaha menghindari Tama dan terus menerus bersama Bagas. Tetapi, akhirnya Tama dapat menemui Tara saat sedang sendirian “Tar, gue sebenernya masih sayang sama lo, gue kaget pas tau lo udah jadian. Maafin gue ya?” pinta Tama “maaf ya Tam, gue udah punya Bagas. Lo harusnya dulu berpikir dulu sebelum bertindak. Meski sekarang lo ngebuka lahan hijau, tetep aja kan gabisa nge ganti air di daerah sekitar pabrik lo yang sekarang rawan banjir itu?” Tara menjawab dengan sewot Daerah sekitar pabrik kertas milik Tama sekarang memang menjadi daaerah yang rawan banjir, karena tidak terdapat resapan air disana. “gue emang udah maafin lo Tam, tapi gue gabisa sama lo lagi.” Jawab Tara, lalu Ia meninggalkan Tama yang hanya terdiam. Melihat Tara pergi menjauh darinya. Ingin ku ulang kata kata tentang dirimu dan yang telah lalu tapi apa ku sanggup merubah semuanya? yang kuhancurkan untuk dibangun kembali yang telah lalu berlalulah yang sulit untuk disempurnakan seperti dulu TAMAT http://afterschool-teatime.tumblr.com/