Mengapa aku senyum-senyum sendiri ketika membalas pesan dari dia?
Mengapa aku terus memikirkan dia dimanapun aku berada?
Kenapa aku terus membaca berulang-ulang percakapanku dengannya ketika dia tak kunjung membalas pesanku?
Ketika malam sudah mulai datang bersama kegelapannya, mengapa aku masih rela menunggu balasan pesan darinya? Padahal mataku sudah sangat berharap ingin dipejamkan segera. Ada kekuatan apa ini?
Ketika aku sudah mulai memejamkan mata, mengapa ada rasa yang bercampur menjadi satu? Rindu, gelisah, resah, sedih, senang, bahagia?
Bahkan sekarang ketika sholatpun aku mengikutsertakan dia dalam do’aku.
Apakah ini rasa cinta yang kau anugerahkan kepada makhlukmu yang lemah ini? Ah, rasanya tidak mungkin. Ini semu, ini aneh. Ini belum saatnya. Ini belum dihalalkan.
Padahal aku belum pernah pernah bertatap muka dengannya. Padahal aku belum pernah berbicara langsung kepadanya. Padahal mendengar suaranyapun hanya dari suara maya yang disimpan disocial medianya.
Ya Allah, jika memang ini cinta yang Kau anugerahkan kepadaku, aku mohon jaga sampai ijab qobul tiba. Jaga sampai rasa yang menumbuhkan dosa ini, berubah menjadi pahala yang berlimpah.
Tapi, jika ini rasa yang dikembangkan oleh hawa nafsu karena syaitan yang terkutuk, lindungi aku dari segala godaannya.
Aku mohon, beri aku kekuatan untuk mengendalikan rasa ini.
Ketika dia dengan nada santai berbicara kepadaku:
“Jangan kepoin profilku, nanti kamu fans, soalnya sudah banyak korban”
Lidahku kelu, tak bisa menjawab apa-apa, lalu dengan jari yang bergetar, aku berusaha untuk menjawabnya:
Karena merasa menyombongkan diri, kamu memohon ampun kepada Allah. Seketika itu pula ada getaran yang aneh, ini getaran apa?
Ya Allah, ini waktu yang sangat singkat untuk aku menjatuhkan rasa cinta kepadanya.
Ya Allah, lindungi aku dari rasa ini. Ampuni segala kekhilafan ini.
Ya Allah, saat ini aku sedang berproses mendaki gunung kemenangan menuju-Mu. Jangan biarkan aku tergelincir kebawah sebelum aku mencapai puncak-Mu, hanya karena rasa cinta yang semu ini. Jalanku juga baru belum seberapa jaraknya.
Biarkan aku terus memperbaiki diri. Bukan karena dia, bukan karena mereka, bukan karena siapapun. Tapi karena-Mu semata.