99% obsesi 1% kagum
Apa pantas kamu mengklaim kondisi ini sebagai cinta? Jangan bercanda!
seen from Japan

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Japan
seen from Japan

seen from Japan
seen from Malaysia

seen from Japan

seen from China
seen from United States
seen from El Salvador
seen from Denmark
seen from Denmark

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Australia
99% obsesi 1% kagum
Apa pantas kamu mengklaim kondisi ini sebagai cinta? Jangan bercanda!
Puas-puasin main-mainnya sekarang. Tapi nanti seriusnya ke aku aja. Pulangnya juga ke rumahku. Yang deket dari mana-manamu
Dengan sarat nggak lama-lama kalo main, kata abang.
Ya aku nurut aja sih bang:)
Revisi
Kalau musik kita sumbang, mari perbaiki bersama. Mungkin ada kunci yang salah atau kita lupa menyisipkan separuh cinta sebagai pelengkap.
Apabila puisi semalam jauh dari sempurna, mari kita sempurnakan bersama. Tidak perlu dengan metafora dan majas yang membuat kita semakin lelah. Hanya beberapa kata tapi dengan makna yang menyasar hati.
Kita adalah dua yang berbeda, yang berusaha menjadi satu untuk selamanya. Menjadi tidak sempurna itu biasa, tapi jangan sampai tidak lengkap. Karena kita akan menjadi sempurna dengan melengkapi.
Kita selalu menjadi sempurna dengan saling merevisi tanpa perlu selalu menyakiti
Kediri, 02 Mei 2019
"Nanti kita sambung lagi ngobrolnya"
Semacam kalimat penutup atas ketidaktertarikan terhadap topik yang sedang dibahas, atau manusianya, entahlah. Tapi yang jelas kata 'Nanti' berarti sebulan lagi atau mungkin akan lebih lama.
Dan benar memang, kalau tidak tertarik ya mau bagaimana juga akan tetap jauh. Kecuali jika ada keperluan mendadak, mungkin waktu akan mengijinkan kita untuk duduk lebih lama. Namun selebihnya, ya sekedar menyapa. Hidup memang selucu itu, kalau semuanya dibaperin ya mampus lah kau.
Hal yang Paling Gila
X : "Hal gila apa yang pernah kamu lakukan ketika menyukai seseorang?" katamu ketika senja turun dari balik jendela kamar indekosmu.
G: "Banyaaakk" kamu mengangkat sebelah alismu. "Seriusan mau bahas ini?"
X : "Gimana?" singkat padat penuh kerutan.
Aku tertawa sebentar sebelum menjawab pertanyaan itu.
G : "Eemmm, yang paling gila dari banyaknya usahaku ketika menyukai orang adalah aku selalu pulang paling akhir, meningkatkan kinerja otakku untuk belajar hal baru yang bikin mimisan kadang muntah karena saking kerasnya." aku melirik ke arahnya. Kerutan dahinya semakin kentara. "Aku bahkan sampai ikut diskusi di beberapa tempat untuk bisa menanggapi setiap ucapannya. Waahh, kalau dipikir lagi, yang ini tuh paling repotin dan butuh tenaga 10 kali lipat."
X : "Siapa?" dia terdengar tidak sabar.
G : "Belum selesai ceritanya."
X : "Siapa?" tanyanya lagi semakin tidak sabar.
G : "Eh pas ini aku juga belajar main piano loh, tapi dia nggak tau. Soalnya dia ini hidupnya buat main musik dan hobinya gambar sama bikin orang kesel." dia menarikku mendekat. Mengancamku dengan tatapan mata sayu tapi penuh kasih. "Curang!" aku berniat untuk menjauh. Aku lupa kalau tangannya lebih panjang dari tangan manusia normal.
X : "Siapa?!" aku bergeming. Sengaja untuk membuatnya sangat kesal dulu. "Kamu terlalu serius usahanya buat dia. Pasti nggak dapet." ledeknya.
Aku menggeleng.
G : "Yang ini berhasil kok. Terbayar semuanya, tapi ya gitu. Orangnya lamaaaa banget buat nyadar. Sampai harus ditunggal ke Jepang dulu baru sadar." aku terkekeh ketika melihat wajah kesal dan jailnya berubah menjadi wajah penuh lega dan entah apalagi.
Dia tidak berbicara apa-apa lagi. Hanya memelukku dengan diam dan erat.
X : "Terimakasih" katanya ketika pelukan itu lepas dan dia juga mengecup dahiku. "Mau main piano bareng?" lanjutnya yang kubalas dengan anggukan.
Malam itu senja luruh di pangkuan bumi. Dengan hujan yang dibawanya, malam berhasil meredam seluruh suara. Seolah hanya denting dan detak yang kami ciptakan yang sedang membumi. Malam dengan hujannya yang dingin adalah sihir yang membuat kami terlampau hangat.
Kediri, 27 April 2019
Basa-basi dan kepo bisa jadi udang dibalik renyahnya peduli?
Hayoloh! Bener nggak nih? Kadang sih gitu... Eh nggak deh, kalau peduli ya peduli tapi ada sih keponya dikit. Halah😐😑
Kalimat yang dirangkai si pesakit itu masihkah ia kalimat?
Keping-keping kalimat dan tanda baca yang tegas itu satu-satu dipungutnya. Tidak ada alasan khusus, "Hanya kasihan pada kalimat yang tak bersalah. Selalu saja jadi incaran segala perubahan rasa" katanya setiap kali kutanya mengapa ia melakukannya. Bahkan noda merah seringkali hinggap pada ujung kalimat itu tapi anehnya dia tetap memungutnya. Suatu hari saat purnama menjelang, aku melihatnya di pinggir taman. Ia masih melakukan hal yang sama; menyatupadukan kalimat dengan tanda baca yang tegas. Jemarinya semakin penuh darah tapi ia melakukannya hingga selesai. "Apakah sebegitu pentingnya kalimat-kalimat itu bagimu?" aku mendekat dan melihat jari-jari itu semakin menipis. "Begitulah, aku menyukainya. Kau tau, kau akan menemukan beragam ucapan dengan beragam intonasi. Juga berbagai macam emosi. Itu membuatku bahagia" jawabnya masih memungut tanda baca terakhir. Dia memperlihatkan kalimat yang selesai dia susun, "!@#%[&&!%@;**&@^]^!^[%%!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" begitulah rupa kalimat itu. Tak terbaca seperti umpatan yang di sensor. "Aku menyukai mereka selain aku bahagia tapi juga lubang dijantungku dapat ditambalnya" dia mengahadap lurus padaku. Cahaya purnama tembus tepat dijantungnya seperti lampu diskotek yang kelap-kelip di seluruh penjuru ruang. Aku tidak menjerit tidak juga lari. Aku hanya mematung ditempatku. Menyaksikan dia terbahak dan pergi melewatiku. Wajah yang sangat kesakitan, tawa yang begitu mengerikan. Aku hanya bisa mematung ditempatku. Dalam ruang hampa, April 2017
Aku tidak mau menerka untuk siapa kamu ada. Tanya yang terselip dalam cerita harianmu itu seolah meminta jawaban kepada angin yang tidak pernah mau kembali. Tapi kamu masih saja bicara, masih bercerita hal yang sama. Aku bosan pada dirimu yang mengaku sudah dan lelah, yang berkata telah menyerah dan melepaskan tapi nyatanya rasamu untuknya semakin menajam. Tak sadarkah kamu bahwa sukmamu tidak dicipta untuk hal itu? Dunia tidak sesempit sudut pandangmu yang itu-itu saja. Jika saja hujan bulan Maret ini mampu menyeretmu hingga ombak mengempaskan tubuhmu ke dermaga, mungkin kamu akan sadar sepenuhnya jika sebuah kata "melepaskan" hanyalah huruf tak berguna jika di ulang-ulang tanpa dirasa. Slorok, 18 Maret 2017 Kepada hujan yang tiba-tiba menderas saat aku berusaha menebas jalan.