Menanggapi #5paragraf
Hari Ke tujuh, tantangan menulis 30 hari
Most of the time kita lebih mudah menanggapi sesuatu daripada berinisiatif memulai sesuatu. Mudah mengomentari foto di IG orang, postingan di tumblrnya, cuitan di twitternya, status whatsappnya, namun sulit berinisiatif memulai sesuatu yang memang semestinya jadi prioritas kita.
Karena itu, menanggapi apa yang jadi perhatian kita kadang-kadang bisa jadi cara yang efektif agar kita senantiasa berproses. Menyiasati perasaan kosong semu yang ditimbulkan dari kebingungan saat ini harus melakukan apa padahal ada banyak kewajiban yang belum ditunaikan. Makanya penting bagi kita untuk menuliskan rencana, dan mengevaluasinya tiap saat agar kita selalu punya prioritas untuk ‘ditanggapi’ di saat muncul kebingungan semu itu.
Bedanya, kali ini yang kita tanggapi adalah target-target kehidupan kita sendiri yang perlu rincian lebih lanjut untuk bisa terlaksana. Kadang-kadang kita sering menunda pekerjaan dengan dalih prekondisi: “Ah ntar dulu deh ngerjain ini, karna harus nyiapin apanya dulu baru bisa dikerjain”. Begitu terus sampe matahari terbit dari departemen store. Ngerjain apa-apa mesti ada syarat yang terpenuhi dulu, padahal nanti lupa juga syaratnya apa.
That’s why we should stick to the target. Tetap fokus dengan target, dengan menuliskannya, dengan mengubek-ngubeknya, dengan mencari solusi atas hambatannya. Jika kita benar-benar menginginkan amanah kita selesai. Itu masih lebih baik daripada kita mondar-mandir tiap platform medsos hanya berharap bisa menemukan sesuatu yang tidak kita cari.
Makanya kadang-kadang aku punya ide yang aneh juga. Bikin akun ganda untuk saling berdiskusi. Supaya the other me bisa mengingatkan diri sendir kita mulai oleng dari tujuan. Tapi kok kesannya jadi malah kayak punya kepribadian ganda hahaha. ya gitu deh. intinya, silahkan reply. Tapi kadang-kadang diri sendiri pun perlu di-reply.
Tangerang Selatan, 8 Juni 2020.















