Cashless Euphoria
Budgeting penting untuk dilakukan. Sebenarnya saya tidak suka mencatat pengeluaran, tapi rasanya saya seperti seonggok kotoran yang nyelip di kuku jempol ketika melihat Pak Ryan selalu rajin mencatat struk-struk belanja SETIAP HARI. Apalah saya yang sok-sok-an sibuk dibanding dia yang beneran sibuk. Jadi demi kehormatan dan harga diri (?) saya memaksakan diri untuk disiplin dengan kantong belanja saya sendiri.
Sebelumnya, saya yang mentalnya tidak mau ribet, selalu menjunjung tinggi pembayaran tanpa fisik uang. Ya halooo milenials, ini sudah industri 4.0, masa masih ribet soal pembayaran, padahal tinggal gesek, tap, dan pindai barcode. Saya mengunduh semua jenis dompet digital, dan mengisi sejumlah uang di masing-masing akun. Ovo, Gopay, Dana, Link Aja. Yang mana yang saya pakai untuk pembayaran? Yang memberikan cashback paling besar. Jika disertai malas mencatat pengeluaran, fenomena ini sesungguhnya adalah malapetaka.
Mbak Prita menjelaskan istilah Cashless Euphoria. Secara psikologis, manusia tertarik dengan iming-iming diskon dan atau cashback, yang secara kasat mata mungkin memang menguntungkan. Tapi dompet digital menggiring manusia untuk bersifat konsumtif yang berlebihan. Jika saya sedang jalan-jalan, sebenarnya tidak ada rencana dan tidak terlalu ingin beli Chatime, tapi ketika lihat poster cashback 30% maksimum potongan Rp12.500, saya pun kemudian ikut mengantri. Saya membayar dengan dompet digital seharga Rp28.000, merasa beruntung dapat cashback Rp8.400, tapi sesungguhnya saya telah kehilangan Rp19.600 alih-alih untung. Saya jadi terbawa euphoria diskon, padahal saya sedang tidak butuh asupan minuman gula berkalori super tinggi.
Untuk para pemula dengan pemasukan yang biasa-biasa saja, cashless euphoria ini harus diawasi. Pencatatan pengeluaran penting dilakukan, terutama untuk pembayaran-pembayaran yang menggunakan dompet digital. Kita harus bijak dalam menggunakan akun-akun digital, boleh digunakan tapi dengan tujuan yang sudah ditetapkan. Misal untuk belanja bulanan di Griya, sedang ada promo Gopay 10%, maka boleh digunakan. Kita harus memutuskan akan digunakan untuk apa saja dompet-dompet digital itu.
Karena sebelumnya saya telah membuat pos-pos pengeluaran, maka saya membagi apa yang harus dibayar dengan dompet digital, transfer bank, dan mana yang harus dengan uang tunai. Sebagian besar untuk belanja bulanan, bensin, asisten rumah tangga, saya menggunakan uang tunai yang sudah saya bagi-bagi jumlahnya lalu dimasukkan ke dalam “amplop”. Ini sebagai pendisiplinan diri saya, kalau sebelumnya sekali ke Superindo bisa habis Rp600.000 padahal saya merasa tidak beli apa-apa (?) dengan membatasi jumlah uang yang dibawa, menentukan apa saja yang mau dibeli, akan menghemat apa-apa yang tidak perlu. Balik lagi ke keinginan vs kebutuhan.
Setelah pendisiplinan terhadap uang meningkat, saya bisa mulai menggunakan dompet digital sepenuhnya. Jika saya sudah keluar dari lingkaran cashless society, yang tergiur membeli sesuatu karena cashback bukan karena butuh, maka saya bisa dengan tenang kembali menggunakan dompet-dompet digital.










