Masakan Ibu
Setidak pandainya seorang Ibu memasak, tetapi masakannya akan tetap menjadi yang paling dirindukan oleh anak-anaknya. Begitu gak ya?
Semenjak Ibu tiada, saya menggantikan tugas Ibu memasak di rumah. Setahun terakhir sebelum kepergian Ibu, saya belajar memasak dari Ibu. Masakan Ibu juga terkenal enak di kalangan Ibu-Ibu di kampung kami. Namun, kalau nanya resep sama Ibu, seringkali yang ada bakalan bingung kalau tidak akan berkecil hati.
Bukan, bukan Ibu tidak mau berbagi resep. Akan tetapi, saya merasa kemampuan matematika logis Ibu dalam meracik bumbu sudah memasuki tahap yang "top". Biasanya kalau belajar suatu resep, ada takarannya bukan? Semisal 10 buah bawang merah, 5 siung bawang putih, 100 gram cabai. Bagi Ibu, tidak ada angka-angka seperti itu. Karena pengalamannya memasak hampir setiap hari selama 20-an tahun terakhir, meracik bumbu tak perlu lagi takaran-takaran pasti seperti itu.
Jadi, kalau mau belajar suatu resep dengan Ibu, ya harus ikutan bertempur di dapur secara langsung dengan Ibu. Mengamati dengan seksama, menghitung berapa buah bawang yang Ibu pakai, seberapa banyak garam yang Ibu tambahkan.
Meskipun punya catatan resep memasak bersama Ibu, setiap kali memasak ingatan ketika belajar bersama Ibu seperti menuntun tangan saya dalam meracik bumbu.















