Hari Cerah
Terik matahari hari ini, padahal semenjak semalam hingga pagi tadi angin kencang berhembus tiada henti seakan badai akan datang. Sungguh ku tak menyangka, namun di sisi lain ku takut.
Takut sewaktu-waktu badai tiba-tiba datang menyergap, dan menghentikan semua rencana.
Sama halnya seperti hidup ini.
Kadang ku merasa takut saat semua berjalan baik dan begitu indah, rasa khawatir itu muncul. Entah sampai kapan kondisi baik-baik ini terus berlanjut.
Sambil memandang langit yang begitu biru dan teriknya mentari di siang ini, ku berpikir "Jika rencana-rencana di hari cerah akan rusak ketika tiba-tiba hujan dan badai datang, lalu untuk apa berharap?".
Termenung ku lagi sambil menghela napas, memikirkan hal-hal yang terjadi belakangan ini. Semua seperti roller coaster, sedih, senang, amarah, campur aduk dalam satu timeline dengan berbagai macam orang yang berbeda. Bertemu banyak orang baru dalam pekerjaan dan pertemanan, sungguh membuatku belajar banyak hal baru. Bahkan mengenal orang-orang yang menarik dan membuat nyaman. Namun selalu pertanyaan yang sama menyeruak. "Sampai kapan?"
Kalut
Sungguh manusia tidak pernah puas, diminta, diberi, bahagia, menjadi khawatir, lalu meminta lebih, dan terus demikian.
Aku sungguh bersyukur di titik ini, apa boleh tetap baik-baik saja seperti ini? bolehkah? bisakah? Ya, sungguh ku egois.
Hidup itu berputar, ku tau. Hakikatnya ya seperti itu. Tapi, sedikit saja ku ingin egois, tidak, bukan sedikit. Ku ingin ini selamanya? boleh?
Ku tentu tidak dapat membaca takdir, masa depan, atau hari esok. Ya karena ku sebagai manusia hanya bisa berjaga-jaga dan bersiap. Namun hakikatnya manusia dalam hatinya lebih suka bersiap untuk hal baik, berharap lebih tepatnya. Ketika bersiap-siap untuk menghadapi hari terburuk apakah sanggup? membayangkannya pun sudah kalut. Jangan pernah biarkan hatimu terjatuh terlalu dalam kebahagiaan apapun itu, secukupnya saja, bisakah? susah.
Hidup itu perjalanan, orang, tempat, dan momen itu datang dan pergi, tak ada yang abadi, memori dibuat sebagai pengingat, namun sungguh melupakan dan melangkah kedepan adalah hal berat yang harus dihadapi selanjutnya jika kau terlalu bahagia, karena kau tak pernah berpikir untuk berpisah.
Tapi pada hakikatnya ya kita tidak dapat menghentikan itu. Hanya bisa berharap, maupun sekuat apapun dengan keegoisanku, belum tentu bisa.
Tahukah kamu bahwa sudah ada hitungannya berapa kali kita akan bertemu seseorang hingga pada akhirnya berpisah dan tak bertemu lagi? Dalam satu garis panjang hidup kita sebagai individu pasti akan bersinggungan dengan garis orang lain, tapi entah sampai kapan dan bagaimana polanya tak ada yang mengetahui.
Hanya bisa jalani sebaik-baiknya.
Tapi....
Tapi ku tak ingin menyerah semudah itu, boleh kah?
Boleh kah masih....
Di sini saja, setidaknya saat ini (terlalu egois jika ku katakan untuk selamanya).
Sungguh ku tak paham, tapi ku ingin mencari tau.
Hari cerah, sungguh menyebalkan...
... untuk ku yang cengeng ini.














