Non-fiksi Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya
Bulan lalu, saya mencoba kembali peruntungan saya pada non-fiksi. Saya mencoba membaca: “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya” karya Dea Anugrah. Buku ini adalah kumpulan tulisan non-fiksi Dea rentang tahun 2016-2018 di berbagai media. Saya menyenangi karya Dea pada awalnya dalam cerpen “Bakat Menggonggong”. Dan beberapa kali membaca tulisannya dari media tempat ia bekerja. Dan saya cukup senang tulisan-tulisan non-fiksi Dea itu.
Buku ini mengumpulkan beberapa liputan yang cukup bahkan sangat menarik. Gaya pembawaanya juga kadang tidak terlalu liputan sih saya rasa. Haha Dari 20 tulisan, saya menandai kurang lebih 9 tulisan yang menurut saya menarik. Salah satu yang cukup berkesan adalah liputan “Kebebasan dan Keberanian”, mengenai sebuah Barbershop ‘aneh’ di Jakarta. Juga “Di mana ada penulis, di situ ada cemooh” tentang perseteruan penulis dan kritikus (meskipun saya tidak tau banyak nama-nama yang diangkat”. Atau “Tua seperti Clint Eastwood”, yang membahas sosok tersebut sebagai legenda dengan cara yang saya sukai.
Ada banyak hal lain lagi yang saya sukai dari kumpulan tulisan ini. Terutama mungkin bagaimana fakta-fakta dan data itu saling dibenturkan sendiri, saling dipertentangkan misalnya dalam “Mengutuk dan Merayakan Masturbasi”. Atau meskipun tidak banyak nama dan istilah ataupun keterangan tempat yang diangkat, saya masih bisa mencernanya dengan berusaha memahami konteksnya. Membaca non-fiksi semacam ini menjadi semacam kegiatan mengisi kepala yang menghibur. Haha
Beruntunglah kita di zaman yang serba digital, buku masih punya cukup tempat. Kegiatan membaca, meskipun menurun secara kualitas dan kuantitas, masih saya berusaha lakukan. Karena ada hal-hal dari buku yang tidak saya dapatkan di medium lain. Dan buku bisa jadi jalan keluar yang menyegarkan dari aktivitas digital.
Sisi lainnya, saya jadi lebih banyak mengumpulkan buku-buku sastra. Kumpulan Puisi, Kumpulan Cerpen, Novel atau Esai-esai yang bercerita. Ya, saya sadar sih, bacaan-bacaan ini lebih ke menghibur diri dibandingkan mengisi kepala. Haha bagi banyak orang buku-buku yang mengisi kepala tentu saja Non-fiksi. Yang sayangnya, sulit buat saya menyelesaikannya. Tidak banyak buku non-fiksi dalam daftar bacaan saya. Pun ketika saya berusaha untuk menuntaskan buku non-fiksi, saya lebih sering mentok di tengah. Keburu malas melanjutkan. Dan efek yang tidak saya senangi adalah, ketka saya belum selesai dengan itu, saya juga jadi enggan melanjutkan ke buku yang lain. Untuk mengatasi hal ini, saya mungkin perlu belajar untuk ‘poligami buku’. Agar terbiasa membaca dua atau lebih buku dalam satu rentang waktu, sehingga ketika mentok pada buku yang satu, bisa pindah dan tidak merasa perlu menyelesaikan buku yang sebelumnya itu terlebih dahulu.
Semoga saja sih saya bisa menemukan minat yang sama dalam membaca buku non-fiksi seperti membaca buku ini. Tapi yang lebih penting sebenarnya terkait perbukuan kalau kata penyair Rusia Joseph Brodsky (yang saya kutip juga dari buku ini):
Ada kejahatan yang mengerikan daripada membakar buku, yaitu tidak membacanya.
Jagalah diri kalian dari api neraka meskipun hanya dengan bersedekah sepotong kurma. (HR. Bukhari)
Begitu besar kekuatan sedekah. Mulai dari membersihkan dosa-dosa kita hingga menjaga dari api neraka. Maka apa yang kita tunda? Mari perbanyak sedekah sekarang juga. Semoga sedekah kita mendapat ridho-Nya hingga mengantarkan kita ke surga
Untuk kamu, Wo. Hei apa kabar? Semoga baik selalu. Hmm gimana kuliahnya, lancar kan? Aku buat surat untukmu, walau aku tau kamu takkan membacanya tapi semoga kamu dapat merasakannya. Dulu kamu pernah menanyakan perihal sebutan/sapaan 'Aku-kamu' antara kita. Jujur saja, aku masih belum terbiasa dengan kata itu masih nyaman dengan 'lu-gue' tapi disurat ini aku ingin lebih sopan padamu ehehe. Wo, maaf dulu aku jauh dari harapan kamu. Tapi aku memang belum bisa, ada alasan lain yang kupunya, akhirnya aku melepasmu. Maaf, aku melakukannya untuk tak menyakitimu lebih jauh. Kuharap kamu tak berpikir yang bukan-bukan tentang hal ini. Wo, terima kasih sudah menjadikanku 'sesuatu' dalam hidupmu. Terima kasih atas sebuah rasa yang tulus. Terima kasih atas segalanya. Sukses dan bahagia selalu Wo. Jeng.
Sore ini jadwal saya libur memasak, bukan libur siih lebih tepatnya. Tapi sudah masak tadi pagi. Menyadari hal ini, kami sudah menyusun rencana untuk pergi jalan-jalan agak jauh dari rumah sore hari ini. Eh, tahunya ibu bingung mau makan pakai lauk apa... di rumah sudah masak bakwan jagung, lodeh kacang panjang, dan telur ceplok. Semua menunya pantangan makanan ibu yang biasanya batuk danasam urat tinggi.
"lauk apa ya? cuma ada bakwan sama lodeh kacang" kata ibu.
Sebenarnya pecel pun masih ada, hanya saja saat ibu seperti ini jadi ingat semua pantangannya. Ini lebih rumit dari baby picky eater. hehe. bathinku. Lalu ibu bilang masih ada tahu di dalam kulkas, kode awal agar aku menggorengnya juga sebagai lauk ibu. Padahal inipun masuk pantangan makanan ibu. Ah, ya beginilah seni merawat orang tua. Mungkin ibu seharusnya sudah harus makan healthy atau raw food semacam salad buah atau sayur dengan saus mayo seperti kebanyakan teman yang memulai hidup sehat. Atau sekedar oat, chia seed dan granola.
Bukan tidak mencoba, ibu pernah mencicip semuanya. Dan tak cucok, kembali lagi ke makanan rumahan ala kami yang kerap membuat saya bingung pilih menu apa kalau semua di pantangin. Mungkin dokter harus bilang "boleh, asal tak berlebih" untuk melegakan sedikit rasa khawatir ibu dan mengurangi ke-picky eater an nya. Toh ibu, tergolong yg kadar gula, tekanan darah dan asam uratnya relatif normal dan naik tak terlalu signifikan akibat makanan. Bisa jadi kalau memang sakit, itu hanya karena sugesti yang telah menancap dalam yang akhirnya mempengaruhi tubuh.
Tidak menutup kemungkinan, ketika saya tua nanti mungkin juga berfikir macam-macam urusan kesehatan, dan termakan sugesti-sugesti seperti ini saking khawatirnya.
Itulah uniknya hidup, kita seringkali dihadapkan pada situasi yang sama sekali tidak diharapkan dan dibayangkan sebelumnya. Bahkan bisa jadi rencana jalan-jalan yang sudah dibuat jauh-jauh hari nyatanya bisa saja berubah karena hujan deras disertai angin kencang yang membersamai petir keras.
Begitu juga dengan cita-cita. Seolah selalu ada celah untuk tidak melanjutkan ikhtiar dan berhenti sebelum sampai pada tujuan awal. Jadi, ingatlah... kita boleh berencana. Allah lah penentu segala. Bukannya berhenti ikhtiar yang harus dilakukan, tapi ikhtiarlah dengan segala kerendahan hati mengharap hasil yang terbaik dari kita mampu lakukan.
Bagaimana rasanya bahagia??
Menyenangkan..
Aku bahkan lupa rasanya dibahagiakan seperti ini.
Lalu sapa yang kau runut sepanjang hari ini membuatku yakin dan percaya bahwa setiap orang berhak untuk bahagia dan dibahagiakan.
Aku takud…
Takud sedetik bahagia cepat menjadi setahun derita,,,,
Aku sadar,,,
Bahwa bahagia itu ada, nyata dan tak ada sia-sia.
Kini bahagiaku menguap menjadi rindu,
Rindu tertawa bahagia bersamamu seperti yang kau jelang hari ini,
Lalu rinduku pun menguap menjadi doa,
Doa semoga bahagia ini terus ada dan nyata, bukan semu atau fatamorgana belaka.
Kau ada, utuh
Bahagiamu yang kau bagipun hanya satu untukku.
Kini saatnya aku bersandar pada Tuhan,
Hanya untuk sampaikan rasa terima kasihku karna DIA telah mengirimkan bahagiaku lewat dirimu,
Kau pengantar yang baik
Semoga kotak bahagia yang kau sampaikan padaku hari ini tak salah alamat, dan tak hanya dibagi hari ini saja,
Semoga selalu ada, nyata dan selamanya...
Note : Surat ini bukan tertuju pada siapapun orangnya, surat ini hanya sebentuk surat cinta tanda terima kasih dari wanita yang kembali menemukan kebahagiaan yang selama ini baginya adalah sebuah fatamorgana, dan seorang pria yang mengenalkannya kembali pada kebahagiaan, semoga kita semua menemukan orang yang seperti itu*