4: Sesak
"Kuatkan hatimu sekali lagi. Barangkali tinggal satu langkah menuju tenang dan damaimu"
Ada hal-hal yang tidak bisa di ungkapkan dengan baik, meskipun saya mencoba untuk menuliskannya dengan ribuan pilihan kata. Perasaan sesak saat bernafas. Beban berat di dada. Air mata yang mengalir tanpa alasan. Hanya itu yang menjadi cara untuk mengungkapkannya. Perasaan kecewa yang selalu coba dianggap "hanya fase" nyatanya menjadi beban tanpa disadari. Beribu rasa marah yang harusnya terlontar ternyata menjadi dendam yang menumpuk. Dan banyak rasa lainnya yang perlahan menjadi bola besar di dalam dada ini.
Sungguh tidak enak rasanya, setiap nafas terasa sesak dan berat yang menahan. Apalagi di tengah hari, ketika tiba-tiba tubuh seperti sedang menangis, padahal bibir tersenyum riang dan mata masih memancarkan sinarnya.
Maka, di suasana seperti ini, kita tidak perlu mencari alasan untuk menangis atau merasa marah. Coba biarkan tubuh membawa semua rasa yang selama ini dipendam, biarkan ia lepaskannya satu per satu. Pada akhirnya, hidup ini selalu tentang mengikhlaskan, bukan ? Mengikhlaskan jalan hidup yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Mengikhlaskan mimpi-mimpi itu tetap menjadi angan. Mengikhlaskan bahwa ternyata kita butuh lebih banyak kesabaran dan waktu yang panjang untuk menemukan hikmah.
Namun, bagaimanapun keadaan kita, saya harap kamu memilih untuk kuat dan tetap percaya bahwa ikhlasmu akan berbuah. Semoga kamu tetap tabah dan tegar menjalani apapun yang terjadi, hingga malam-malam seperti ini hanya akan menjadi cerita penguat.
Mari coba sekali lagi percaya bahwa pagi-pagi selanjutnya akan terus membaik. Saya, kamu, kita - akan baik-baik saja. Tubuh dan Hati ini akan terus baik-baik saja, hingga mencapai titik yang paling indah dan bahagia. Semoga untuk harapan-harapan baik ini menjadi doa yang terkabul, bukan hanya pembelajaran untuk mengikhlaskan takdir.













