7: pelan-pelan
"pelan-pelan nanti juga kita sampai" "pelan-pelan nanti juga paham" "pelan-pelan ....." Ya, ternyata pelan-pelan adalah mantra yang berhasil membuat saya bertahan sampai saat ini. Ternyata, kata yang diulang-ulang itu membuat saya mengerti cara menentukan batasan dengan orang lain dan lingkungan. Ternyata, karenanya saya mengerti kalau hidup ini harus di nikmati setiap detik dan menitnya. Saya mengerti bahwa saya harus membiarkan segala macam perasaan hadir dan lepas satu-per satu—pelan-pelan. Termasuk untuk meneruskan jatuh kepadamu. Mantra ini menyelamatkan untuk berhenti dan mundur dengan teratur. Ternyata, dengan pelan-pelan, saya memahami bahwa melanjutkan jatuh kepadamu berarti membiarkan saya masuk ke hutan penuh jebakan itu. Kamu perlu tau, tuan, hanya dengan satu jam saya mengenalmu dan membiarkan hati ini mengambil perannya, ia sudah merusak ritme jantung yang selama lebih dari 20 tahun saya tata untuk berdetak dengan tenang. Dan itu tandanya, saya tidak baik-baik saja. Membiarkan hal ini terus berlanjut ternyata hanya membuat saya semakin sadar bahwa denganmu, saya tidak mendapat rasa tenang dan cukup. Selama lebih dari 20 tahun saya hidup dengan kepercayaan diri dan rasa bangga dengan diri ini. Ternyata semuanya runtuh di hadapanmu, tuan. Saya tidak lagi merasa cukup dengan waktu yang 24 jam ini. Saya tidak lagi merasa cukup dengan hal-hal baik yang hadir di hidup ini. Saya tidak lagi merasa cukup dengan apa yang saya punyai. Dan, lebih buruknya lagi, saya hampir sepenuhnya mempercayai bahwa saya tidak cukup untuk diri saya. Maka sekarang, saya pelan-pelan kembali menata hidup yang sudah lebih dari 20 tahun ini, untuk kembali kepada ritmenya. Kepada kehidupan yang ia percayai, yang selalu merasa tenang dan cukup. Kepada hidupnya yang butuh ruang dan waktu lebih lama untuk memberi perasaannya lepas—pelan-pelan. Saya belajar, dengan pelan, tuan, bahwa untuk mengenal dan jatuh kepada orang lain, saya harus siap dan pelan-pelan percaya kepada orang lain. Saya juga harus pelan-pelan percaya bahwa saya cukup untuk orang lain. Maaf tuan, saya tidak bisa melanjutkan ini karena ternyata saya tidak cukup berani dan percaya bahwa saya akan baik-baik saja bersamamu. Saya juga tidak cukup yakin bahwa saya cukup untukmu. Saya pastikan ketika saya kembali, rasa percaya dan cukupku ini sudah tumbuh jauh lebih kuat dan tenang. Jika tidak denganmu, maka saya ucapkan terima kasih atas pembelajaran yang berharga ini. Namun, jika denganmu adalah akhir dari pencarian ini, maka saya ucapkan maaf karena kamu harus menunggu lebih lama untuk membiarkan saya selesai dengan diri saya sendiri.















