5 : Jarak Aman
Bagi saya, hal paling menyiksa dari jatuh hati adalah mengagumi tanpa bisa memiliki. Berharap diam-diam orang tersebut memiliki perasaan yang sama. Melihatnya tersenyum lalu ikut tersenyum, padahal senyumnya saja bukan untuk saya. Mendoakannya lebih sering dari mendoakan diri sendiri.
Situasi yang menyebalkan ! Tapi hati memang keras kepala. Hati memilih jalannya sendiri. Mengabaikan semua kemungkinan terburuk, mengabaikan realita ketidakmungkinan untuk bersama. Mempercantik perasaannya sendiri, membuat diri ini bahagia meski tau pada akhirnya akan jatuh hati lalu kembali belajar mengikhlaskan.
Entah kenapa hati bisa begitu tega ? Mengulang-ulang cerita yang sama. Kagum->Senang->Jatuh Hati->Mengikhlaskan. Tidak bosan, tidak belajar. Seperti candu-kagum dengan orang yang hanya bisa dilihat dari jauh.
Tapi tau tidak? Ternyata hati melakukannya bukan karena tidak belajar dari pengalaman, melainkan ia menjaga jarak aman. Mengagumi dari jauh adalah jarak aman untuk menjaga kita dari patah hati paling besar yang mungkin terjadi. Ia menjaga dengan kerasnya, membiarkan kita hanya menyukain kebaikan yang terlihat saja. Hati jauh lebih tahu, bahwa jika semakin dekat kita akan mengetahui hal-hal baru yang mungkin akan mengecewakan.
Lihat betapa hebatnya tubuh dan jiwa ini-menjaga tanpa syarat. Ia sudah tau apa yang harus dilakukan untuk menghindaran kita dari rasa sakit yang lebih besar. Jadi, jangan lupa berterima kasih. Kita sudah hebat sampai di sini, meski cerita kita masih sebatas mengangumi dari jauh.
Meskipun jatuh hati dalam diam menyiksa tapi patah hati jauh lebih menyiksa. Mmari nikmati saja momen ini, karena percayalah, suatau saat kita akan bertemu waktu dan orang yang tepat untuk menyambut cinta-tanpa ada patah hati di dalamnya. (semoga, aamiin)














