Siang hari yang sangat panas, kakiku sudah mulai mengeluh untuk segera mencari tempat teduh untuk bersitirahat. Aku melihat ke belakang, ke barang yang ada di tempat dudukan belakang sepedaku. Rasanya aku ingin menangis, dagangan susu kedelaiku masih setengah lebih yang belum terjual. Hari ini hari Minggu dan hari sudah semakin siang, harus aku jual kemana lagi susu kedelai ini? Beginilah hidupku, tapi dulunya tak begini. Semenjak Bapak bangkrut dari usaha meubelnya dan kehilangan banyak pekerjaan, Ibu mulai berdagang sayuran di pasar demi mencukupi Mas dan adekku. Sayangnya, jualan Ibu tidak terlalu laris dan Bapak masih depresi karena kebangkrutannya. Sekarang Mas jauh dari kita, dia malu dengan kebangkrutan Bapak dan pergi dari rumah. Lalu, masak iya aku mengikuti langkah Mas dan meninggalkan kedua orang tuaku dan Adek tidak makan berhari – hari di rumah? Saudara dari keluarga Ibu dan Bapak pun sudah tak mempercayai kami, entah apa dosa kami. Bagiku, ini sudah sangat sulit buat aku lalui. Untuk anak berumur 17 tahun seperti aku. Terutama demi Adekku, aku rela diolok – olok di sekolah menjual susu kedelai atau dagangan lainnya, aku rela dicemooh ketika rasanya kurang enak padahal aku membuatnya sendiri dengan bahan yang alami, aku juga rela uang penghasilanku buat makan keluargaku. Namun, kalau dagangan setiap hari jarang laku, apa aku harus cepat rela begitu saja? Aku sangat sinis dengan kalimat yang mengatakan, “Hidup itu keras”, jika yang mengatakannya adalah seorang yang tak pernah hidup susah. Tahu apa mereka soal hidup keras? Untungnya, aku tak lama mengumpat soal kehidupan. Ibu selalu bilang “Tetep syukuri, kita masih mending. Ada yang lebih kesusahan daripada kita.” kalau aku ketahuan mengumpati kehidupan. “Bu, susu kedelai, Bu, biar tambah seger panas – panas gini.” Aku mencoba menawarkan ke seorang Ibu yang sangat cantik dan berdandan mewah di pinggir jalan. Namun, ia hanya memandangku sinis, melengos, lalu berlalu. Aku mendesah pasrah, semakin ingin menangis. “Pak, haus, Pak? Jual susu kedelai saya ini.” Aku mencoba lagi ke segerombolan Bapak – bapak yang sedang asyik menonton bola. “Siang – siang minum susu? Malam aja, Nak, biar greget!” Tipe suami kurang ajar, katak udalam hati. Aku apatis dengan perkataan si Bapak itu, aku pergi saja dengan dagangan sebanyak ini. Jam 3, dan masih setengahnya. “Oke, aku harus berjuang buat bisa hidup besok!” tekadku. Kebetulan aku melewati Taman Sore di Perumahan Fajar Mentari, banyak anak – anak kecil disana. Siapa tahu ada yang mau susu kedelai, kesukaan anak – anak. “Dek, mau susunya?” baru aku menyodorkan susu kedelaiku, semua anak – anak itu mengerumuniku dengan sekejap. Mereka mengambil satu per satu susu kedelaiku dan memberiku uang pas Rp 2.000,00. Subhanallah, Alhamdullillah, betapa bersyukurnya aku. Daganganku langsung ludes saat itu juga. Aku sengaja mampir sebentar di Taman Sore untuk menikmati udara sore dan ramainya tawa anak – anak itu. Selesai menikmati alam-Nya yang menakjubkan ini, aku segera ingin pulang memberi keluargaku nasi sarden. “Mbak, Mbak.. Mbak yang jual susu kedelai.” Teriak seorang ibu – ibu sambil setengah lari menghampiriku. “Maaf, Bu, susunya sudah habis.” “Mbak ini gimana to? Habis minum susu kedelainya Embak anak saya langsung pingsan tahu nggak to! Tuh, anak tetangga yang minum juga pingsan!” ibu itu menunjuk ke kerumunan rumah hijau. Arah mataku mengikuti tangan Ibu itu menunjuk. Aku terkejut, beberapa anak pingsan dan orang tua di sekitarnya panik. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi, tapi kenapa Oh Tuhan? Kenapa harus akuuuuuu yang mengalami semua ini?! *terinspirasi dari kisah nyata seseorang*