"Dan ibu-ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqoroh ayat 233)
Hari itu aku membaca satu artikel tentang weaning (penyapihan). Penulis itu berpendapat (yang kurang lebih seperti ini) bahwa kesempurnaan penyusuan menurut Alloh adalah 2 tahun. Setelah itu bukan lagi menyusui, apakah ada yang lebih menganggap sempurna jika lebih dari 2 tahun, padahal Alloh telah jelas menfirmankan dalam Al Quran (2:233). “Maka sadarkah kita? Sebenarnya kegagalan proses pmenyapih adalah kegagalan awal negosiasi antara ibu dan anak. Periksalah bagaimana dialog iman kita padanya!” tandasnya. Sila baca selengkapnya di sini
Ketika membaca point terakhir itu rasanya makjleb banget di sini. Kira-kira bisa ga ya menyapih Raffa saat 2 tahun nanti? pikirku. Ya, ketika itu Raffa berusia kurang lebih satu tahun. Masih ada kesempatan yang lebar untuk proses weaning. Sebenarnya bukan karena ingin berhasil untuk bernegosiasi dengannya, bukan„ bukan itu ekspektasinya. Ya, karena kami juga bukan orang tua yang sempurna. Setidaknya kami sudah mencoba, berhasil atau tidak itu urusan belakangan.
Dalam proses weaning ini aku tidak menggunakan olesan-olesan tertentu ada diputingku agar dia menjauh seperti jamu, lipstick, dll. Itu sama saja mengajarinya berbohong. Aku ingin proses weaning yang penuh dengan cinta.
Sejenak aku teringat dengan kisah negosiasi Nabi Ibrahim as sebelum menyembelih putranya yang masih kecil,Nabi Ismail as. Aha!! Kenapa tidak aku adaptasi kisah itu? Bisikku dalam hati.
Setiap kali menyusuinya aku selalu sounding dia. Karena hanya saat itu waktu terlama dia fokus mendengarkanku. Berhubung Raffa belum bisa bicara maka semua sumber suara berasal dariku. Untuk dubbing suara raffa jg aku dengan agak diimut-imutin nadanya hehe. :p
B: Mas Raffa„ tahu ga? Alloh menyuruh Bunda untuk menyapih mas Raffa ketika 2 tahun„ menurut mas Raffa gimana?
R: Taati perintah Alloh Bunda, insya Alloh Bunda akan mendapatiku sbg anak yang sabar.
B: Alhamdulillah„, Bunda bangga sama mas Raffa, anak yang sholeh„, ingetin Bunda kalau lupa ya„ ,muachhhh„, :-*
Yah, seperti itulah soundingku padanya dan terus kulakukan berulang-ulang saat menyusuinya selama satu tahun.
Mendekati usia 2 tahun tampaknya aku sendiri yang belum ikhlas menyapihnya. Kadang juga aku sodor-sodorin (maaf) PD ku padanya. Karena aku benar-benar kecanduan menyusuinya. Bagaimana tidak? Alangkah nikmatnya seorang ibu yang bisa menyusui langsung bayinya, membelai wajahnya yang mulus, menatap bola matanya bergerak kesana kemari, gerakan bibirnya yang lucu mengisap-isap ASI, mengecup keningnya dengan mesra. Masha Alloh indahnya masa-masa itu.
Eng Ing Eng„,
ternyata ketidakikhalasanku itu membuat weaning yang direncanakan setahun sebelumnya menjadi tertunda. Alhamdulillah, Raffa akhirnya mengingatkanku dengan gigitannya yang luar biasa. Aku sempat menangis semalaman karena lukanya sampai berdarah-darah. Sakiiit sekaliiii. Saat itu juga aku tersadar„aku salah karena menyalahi kesepakatan dengannya. Astaghfirullohaladziim.. lalu aku minta maaf ke Raffa dan berusaha tidak mengulanginya lagi. Atas kelakuanku itu, aku pun harus menerima konsekuensinya. Weaning tertunda satu bulan dihiasi dengan tantrumnya raffa pengen nenen bundanya. (Kadang pengen jitak diri sendiri„ gara-gara elo juga sih!).
Kadang saya sounding dia dengan kalimat seperti ini.
B: Mas Raffa belum ikhlas ya disapih? Insya Alloh Bunda udah ikhlas menyapih mas Raffa, maafin Bunda kalau salah ya„ Iya Bunda yang salah udah nglanggar kesepakatan kita„, kita mulai lagi dari awal yaa…
Inget ga? Dulu percakapan kita mas Raffa, mas Raffa mau jadi anak yang sabar kan?
R: inget Bunda„,
B: Alhamdulillah„, mas Raffa mau ya„ mau disapih ya?
R: Insya Alloh Bunda„
B: Alhamdulillah„,
Dan Alhamdulillah karena ijin Alloh ketika dia berusia 2 tahun 1 bulan„ Raffa benar-benar ikhlas disapih.
Itulah kisah Weaning with Love ku yang jadinya malah ribet hehehe„, tapi kita nikmatin aja kok. Jadi kuncinya menurutku harus ikhlas dulu, gunakan strategi yang tepat, dan yang paling penting juga harus telaten. Dari WWL ini juga aku mengambil hikmah bahwa kisah-kisah dalam Al Quran benar-benar miracle jika kita mengambil pelajaran darinya dan menerapkannya dalam setiap lini kehidupan kita.
Alhamdulillaahilladzii bi ni’matihi tatimmush shoolihaat