[Bertamasya Ke Masa Kecil]
Biarpun dahulu panjat pinang adalah perlombaan bagi pribumi. Hiburan bagi penjajah Belanda, sekaligus sebagai bentuk penghinaan. Mana peduli kami, disaat itu anak seusia 9 tahunan menganggap puncak nasionalisme sebatas bisa menggapai bendera diatas, lalu dengan sebangga-bangganya mengibarkan.
Seminggu sebelum tanggal 17 Agustus 2005. Saya dan tujuh teman lainnya berembuk untuk menjadi juara panjat pinang di tahun itu. Suasananya persis di rumah Laksamana Maeda 75 tahun yang lalu. Cuma beda level saja, kami berembuk untuk menyusun siapa yang berada paling bawah, hingga siapa yang berada paling atas. Sedangkan para tokoh bangsa, berembuk untuk menyusun teks proklamasi.
Tepat pada tanggal 17 Agustus 2005. Rencana yang kami susun ternyata tidak sesuai rencana. Panitia mensyaratkan setiap kelompok harus terdiri dari 6 orang. Sedangkan kami terdiri dari 7 orang. Dengan sangat berat hati, akhirnya kami hompimpah untuk mengeksekusi satu orang. Alhamdulillah bukan aku ternyata. Satu orang teman akhirnya harus bergabung dengan kelompok lain.
Tetapi kisah akhirnya seringkali mengejutkan. Bukan tim kami yang akhirnya menang. Tim lawan dengan satu kawan yang yang terpaksa harus kami depak justru menjadi juara. Yah sudahlah, yang penting sudah berjuang. Mungkin kami terlalu berencana, tetapi kurang berdoa.
Seperti mimpi yang tak pernah terbeli untuk menjadi juara lomba panjat pinang. Padahal sudah belasan kali mungkin mengikutinya. Nak, tak apa jika suatu hari mungkin kamu ingin melanjutkannya. Tapi itu tak begitu penting. Lebih penting ingat pesan dari Sultan Sjahrir bahwa “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Untuk sebuah kata merdwka. #hutri75 75 #illustration #komik https://www.instagram.com/p/CD-fBceg9vb/?igshid=ecpcsml40yh5
















