NHW#3 : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah
Untukmu Calon Imamku
/1/.
kalau suatu saat kamu membaca ini, ini ditulis untukmu. ditulis dari hati yang paling tulus, entah berapa puluh hari sebelum kita bersatu.
kalau suatu saat kamu membaca ini, maka kamu telah menemukan satu dari beberapa hal yang menjadi kesukaanku. menulis. kamu beruntung. ah, tidak, lebih tepatnya aku yang beruntung, bisa berbagi denganmu tentang isi kepala ini.
hai kamu, apa kabar? aku berharap mudah- mudahan kamu sedang dalam keadaan sehat. Surabaya hari ini sedang cerah, entah nanti siang. mungkin akan jadi mendung atau hujan sekalian. cuaca bulan februari cenderung cepat berubah-ubah. tapi orang bilang hujan februari adalah hujan yang paling warna warni, kadang deras, kadang lembut, kadang gerimis juga kadang panas sambil air tetap turun. warna-warni, kan. kamu suka hujan?
kali ini aku ingin bercerita kepadamu. kamu mau baca? tenang, aku tidak sedang galau saat ini, saat masih menunggumu. aku percaya Allah menciptakan manusia itu berpasangan, kalau tidak bertemu di dunia, maka semoga Allah mempertemukan di akhirat, di surga-Nya. aku berusaha bersabar dalam hal itu, dan berusaha menyibukkan diri dengan lainnya. nah, aku akan bercerita lainnya.
kamu tahu, salah satu hal yang pasti akan aku tanyakan ketika nanti kita bertemu adalah, "bagaimana kamu menerima masa lalu seseorang?" seseorang yang aku maksud itu umum, tapi dibalik itu aku menerima jawaban itu untuk diriku sendiri. setiap kita punya masa lalu kan, dan tidak semua orang bisa menerima masa lalu dengan baik. orang cenderung menghakimi. aku ingin, kita menjadi sepemikiran untuk saling menerima, menerima diri sendiri dan menerima satu sama lain dengan penerimaan yang utuh.
aku masih belum baik, tentu saja. selama aku menunggumu, aku berusaha untuk berubah lebih baik. aku tidak sesibuk orang-orang memang, yang banyak ikut kegiatan ini dan itu. pribadiku cenderung pendiam, aku pemikir, aku tertutup dalam banyak hal, aku harap kamu mau mafhum akan hal itu. tapi sedikit demi sedikit aku mau berubah. berkomunitas, belajar berkomunikasi, bertemu banyak orang. aku belajar, agar aku bisa bersosialisasi juga dengan baik. aku dengar berumah tangga itu separuh dari agama, ibadah terpanjang dalam hidup. karena itulah, sebelum mencapai tangga kehidupan di sana, aku belajar mempersiapkan diri sebaik mungkin. menuntut ilmu ke sana kemari, meski kadang rasanya seperti kebanjiran, hingga bingung mana yang nantinya akan digunakan.
kuharap kelak kita akan terus semangat belajar bersama, meniti tangga bersama, saling bekerja sama mencapai tujuan bersama.
sudah sepanjang ini suratku untukmu, tapi aku belum juga mau berhenti..
aku suka membaca, aku suka juga menulis, lebih tepatnya lagi aku ingin bilang, aku lebih leluasa menyampaikan sesuatu dengan tulisan. jadi, harap maklumilah bila racauanku kali ini panjang.
kau tahu? selain membaca dan menulis, aku suka juga membuat kerajinan. merajut, menganyam, berkreasi. aku suka berkebun, aku suka naik gunung, aku suka main alat musik, tapi tidak pernah berhasil memainkannya. kamu percaya aku pernah belajar main gitar? dan aku memang pernah belajar, meski tiga bulan lamanya aku hanya menambah kapal di tangan semakin tebal. aku hanya bisa satu kunci, kunci C dan itu mengesalkan. satu-satunya alat musik yang bisa aku mainkan dengan mahir adalah snaredrum. ya aku dulu anak drumband, Kapten. jadi, jika kamu nanti melihat aku sedang tidak baik hati, maka aku pasti akan menenggelamkan diri ke dalam hal-hal di atas, merajut salah satunya. tapi tidak untuk naik gunung sendirian, aku tetap butuh kamu untuk menemani. pun itu jika kamu mau dan juga suka. kalau kamu punya hal kesukaan? coba ceritakan?
/2/.
Kapten, mereka bilang aku itu orangnya sabar. sabar, pendengar itu potensiku kata mereka. meski tak jarang aku merasa seperti sering uring-uringan saat sedang ada banyak masalah. aku garis bawahi dua kata itu Kapten, biar jadi pengingat diriku bahwa ada kebaikan dari diri kita yang dilihat orang lain. ah, maksudku aku bisa percaya bahwa aku juga punya sisi baik. sisi baik yang Allah tampakkan sehingga membuat banyak orang nyaman bercerita kepadaku. itu bukan kebaikanku Kapten, aku yakin itu adalah hal-hal baik yang datang dari Allah. aku punya beberapa teman yang aku tak sadar mereka merasa nyaman bercerita kepadaku, mereka bilang mereka seperti menemukan telinga yang lebar jika bercerita kepadaku. beberapa di antara mereka bahkan adalah orang asing, teman maya, bahkan kita belum pernah bertemu. kamu tahu? aku heran, kenapa ini bisa terjadi. tapi mungkin itu cara Allah mempertemukan kita dengan orang-orang baik di berbagai belahan bumi ini.
lalu aku jadi berpikir, orang memang butuh didengar, sama seperti diriku yang kadang ingin didengar, bukan maksud mereka untuk berkeluh kesah, tapi untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. lalu, mungkin Allah memang menganugerahkan rasa nyaman itu pada mereka, agar kita bisa saling membantu dan mengingatkan dalam hal kebaikan. minimal Allah menyentil diriku dengan cerita mereka, Allah ingin aku dan semua teman-teman itu belajar sabar dan bersyukur. untuk tidak larut dalam kesedihan, tidak berlebihan dalam kebahagiaan dan bersyukur untuk tiap keadaan. Allah ingin aku belajar untuk mendengarkan, mendengarkan orang lain, mendengarkan sekitar dan mendengarkan diri sendiri.
Allah punya tujuan menciptakan kita manusia ini di dunia kan, aku percaya jalan menuju Allah ada banyak macamnya. kalau sekarang kebaikan kecil yang bisa kita lakukan adalah menjadi pendengar, maka mungkin Allah sedang ingin kita berjalan lewat sini.
lagi-lagi, ini ladang belajar untuk ilmu sabar dan syukur.
nah, kan, tanpa sadar aku jadi memanggilmu beberapa kali dengan sebutan Kapten. gapapa kan ?
berawal dari hobi-hobi itu, mereka bilang aku juga kreatif, Kapten. mereka sering kagum (yang menurutku justru biasa saja?) karena aku belajar merajut benang dan tali kur hanya lewat youtube. yah, sebonek itu. hanya belajar lewat video online itu. hahaha. bahkan aku berencana belajar menjahit dengan online juga. konyol ga sih? tapi aku percaya, kalau aku berusaha pasti ada jalan. selama itu bisa dicoba, kenapa tidak? aku tidak akan menyerah dalam belajar.
/3/.
lalu aku ingin sedikit bercerita kepadamu tentang keluargaku. sederhana. itu kata yang aku ingat tiap kali ingat atau ditanya bagaimana keluargaku. kamu tahu? kami terbiasa hidup sederhana sedari dulu, meski kadang ada rezeki berlimpah tapi ibu mengajariku untuk berhemat, membeli barang-barang ketika butuh, meminta buku ketika perlu, menggunakan uang sebijak-bijaknya. “jangan dihambur-hamburkan untuk hal yang tidak berguna” begitu mungkin kira-kira pesan tersirat dari ibu dibalik ceramah beliau yang panjang. barangkali dari itu, aku belajar untuk hidup sederhana, untuk selalu bersabar (terhadap keinginan-keinginan yang menggoda), belajar bersyukur dengan apa yang dipunya, dan tidak iri dengan apa-apa yang tidak dipunya.
aku percaya bahwa, apa-apa yang ada di kita adalah terbaik untuk kita, apa-apa yang ada di orang lain adalah terbaik untuk orang lain, bukan untuk kita. masing-masing punya rejekinya.
dari keluarga ini juga aku belajar untuk punya daya juang yang kuat, sedari SMA aku belajar merantau, sekolah dengan mencari beasiswa agar tidak merepotkan orang tua yang sudah susah payah bekerja. kamu tahu? aku tidak tega meminta mereka tiap kali ada iuran ini dan itu.
lalu sekarang kembali terpikirkan, apa tujuan Allah melahirkan aku di tengah-tengah keluarga ini. ternyata setelah melewati puluhan tahun dari masa kecilku, hidup tidaklah mudah. banyak sekali godaannya. banyak sekali tantangannya. aku bersyukur telah dilahirkan di tengah-tengah keluarga kecil ini. keluarga yang teramat menyayangiku dan mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan.
rasanya setiap kali mengenang semua itu, aku terharu. aku terharu dengan perjuangan mereka dahulu. rasanya cinta kasih mereka teramat besar bagiku, dan aku tetap tidak mampu membalasnya. kerap aku rindu mereka jika lama tidak pulang dan menuliskan kenangan-kenangan bersama mereka waktu aku kecil. lalu aku menangis. aku cengeng, ya. hahaha
/4/.
jika dalam waktu dekat ini kamu membaca ini, mungkin kamu sedang selingkaran pertemanan denganku. maka, mungkin kamu tahu seperti apa lingkunganku sekarang. lingkungan tinggal, lingkungan kerja, lingkar pertemananku juga. atau setidaknya kamu menemukan tulisan ini tercecer di halaman mesin pencari saat kamu entah sedang mencari apa.
jadi, selama ini aku tinggal di lingkungan yang kadang menyenangan tapi jauh di dalam lubuk hati juga bukan hal yang mudah. ada beberapa yang tidak sesuai dengan prinsip hati nurani, tapi lagi-lagi aku teringat temanku, hanif namanya, menyarankan, “bahwa kejujuranmu bisa jadi alasan untukmu memperbaiki sistem kerja di sana. tidak banyak orang jujur yang berada di posisimu.” setiap kali aku down dengan pekerjaanku, kalimat ini sedikit banyak membantuku untuk bangkit dan bersemangat lagi.
“belum saatnya berhenti.” kataku berulang kali.
barangkali ini juga rencana Allah meletakkanku di sini, di ‘meja’ ini, di lingkungan tempat tinggal sekarang. tidak ada yang bilang ini mudah, ke depan mungkin akan banyak tantangan. aku mau terus berjuang hingga Allah memilihkan jalan yang lebih baik lagi. sekarang aku hanya ingin me-nik-ma-ti. aku ingin bahagia dengan pilihan yang telah aku jalani.
/./
siapapun kamu, aku berdoa semoga kita sama-sama terus belajar untuk terus memperbaiki dan memantaskan diri. hingga kelak kita menjadi partner yang saling mengingatkan dalam hal kebaikan.
aku belum ingin mengakhiri surat ini, tapi ternyata sudah panjang sekali. mudah-mudahan kamu tidak kelelahan ketika membacanya.
jaga kesehatan ya, semoga kamu selalu dalam lindungan Allah.
salamku untukmu. :)










