KBA Semanggi Suroboyo: Kiprah Sentra Kuliner dan Budidaya Semanggi untuk Bangkitkan Ekonomi Daerah
Ditulis oleh: Nuvia Manzilina Afrah, SKL
07 September 2024
“Semanggi.. Semanggi..”
Lima ibu-ibu menjajakan dagangannya dengan lantang berbalut selendang gendong. Langkah kaki mereka dengan mantap menyusuri jalanan Benowo Surabaya sambil memikul pecel semanggi dan menyunggi kerupuk puli. Pemandangan tahun 1960-an ini menjadi asa bagi budidaya Semanggi di pekarangan rumah warga kelurahan Sememi, Benowo, Surabaya sejak tahun 2015. Pasalnya, seiring dengan banyaknya pembangunan dan pengurukan rawa, keberadaan semanggi menjadi semakin langka. Bahkan, untuk mendapatkan Semanggi, para suami dari pedagang Semanggi Suroboyo tersebut harus harus pergi ke kota sekitar seperti Mojokerto, Bojonegoro, sampai dengan Kediri.
Sebelum dibudidayakan bersama-sama oleh warga, satu dua petani telah memulai menanam semanggi lebih dulu. Dari merekalah kemudian berkembang minat terhadap pertanian semanggi.
“Tahun 1998 saat kirisis moneter, tanaman padi sulit tumbuh, jadi sekaligus untuk membantu ibu saya berjualan Semanggi Suroboyo, saya beralih dari petani padi menjadi petani semanggi”, ungkap Pak Loji, salah satu petani Semanggi di Benowo. Hingga saat ini, beliau dan para petani semanggi menggunakan lahan yang tidak dihuni dan lahan kota yang belum dipergunakan untuk melakukan budidaya.
Dibudidayakan dengan akarnya, semanggi yang dulu ditemui sebagai gulma pada tanaman padi ini, kini telah digarap oleh 39 petani dengan luas lahan mencapai 3 hektar. Budidaya Semanggi ini tergolong cepat mengingat pembibitannya yang hanya membutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk sampai di fase pemupukan. Setelah dipupuk, 15 hari kemudian semanggi dapat dipanen. Sementara untuk pemanenan berikutnya membutuhkan waktu 20 hari, tidak perlu dilakukan pembibitan ulang lagi.
Semanggi Suroboyo yang Berkembang Seiring Zaman
“Di makan enak sekali, sayur semanggi kerupuk puli, bung… mari..
Harganya sangat murah, sayur Semanggi Suroboyo
Didukung serta dijual masuk kampung, keluar kampung, bung.. Beli…
Sedap benar bumbunya dan enak rasanya
Kangkung turi cukulan dicampurnya
Dan tak lupa tempenya”
Sepenggal lirik lagu keroncong berjudul “Semanggi Suroboyo” gubahan S. Padimin di era 50-an ini memerikan komposisi makanan legendaris dari Kota Pahlawan Surabaya yang dulunya dimakan pula dengan didih/darah ayam. Namun seiring dengan perkembangan kepercayaan, saat ini didih tidak diminati lagi.
Semanggi Suroboyo memiliki keunikan yang tak ditemukan pada makanan tradisional lainnya baik dari segi bahan baku, cara penyajian, ciri khas rasa, hingga cara menikmatinya. Penyajiannya dengan mencampurkan bumbu dengan daun semanggi, tauge, daun kangkung, bunga turi, petis, dan kerupuk puli dalam pincukan (bungkus makanan khas Jawa dari daun pisang). Kerupuk puli difungsikan sebagai pengganti sendok. Ukurannya yang besar sangat pas untuk menghabiskan satu pincuk Semanggi Suroboyo. Bumbu yang terbuat dari kacang, ubi jalar, gula merah, gula putih, cabe, dan bawang putih juga menambah nilai keunikan Semanggi Suroboyo karena menghasilkan bumbu yang kental berisi dan rasa yang cenderung manis, berbeda dari bumbu pecel pada umumnya. Dalam sehari, para pedagang Semanggi Suroboyo bisa menjual hingga 50 pincuk.
Inisiasi Kampung Berseri Astra (KBA) Semanggi Suroboyo
Semanggi Suroboyo, atau yang saat ini lebih dikenal dengan Pecel Semanggi Suroboyo, kini telah mendapatkan atensi lebih sejak dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2022 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Surabaya.
Atensi tersebut dimulai dengan peresmian program KBA di Kampoeng Semanggi, Benowo, Surabaya oleh PT. Astra Internasional Tbk pada tanggal 3 September 2021. Pada saat itu, PT. Astra Internasional Tbk sedang memfokuskan diri pada program Indonesia Kreatif dan melihat potensi tersebut pada Kampoeng Semanggi.
Peresmian KBA Semanggi Suroboyo membawa dampak positif bagi budidaya tanaman semanggi. Dampak positif tersebut dipaparkan melalui program-program yang diusung, yaitu bantuan kebutuhan pokok kepada 300 lebih warga sekitar Kampoeng Semanggi, dana dan pelatihan tentang kemasan, pemasaran secara daring, hingga pengolahan semanggi secara mandiri. Dalam pelaksanaan program, PT. Astra Internasional Tbk menggandeng Universitas Wijaya Putra sehingga sukses mengubah tanaman yang dulunya dianggap liar dan gulma, kini justru menjadi salah satu poros ekonomi daerah, sentra kuliner, bahkan sumber edukasi bagi peneliti dan mahasiswa.
Memupuk Harapan Baru
Eksistensi Kampoeng Semanggi diharapkan dapat menjadi kekuatan perekonomian daerah dan menarik lebih banyak minat anak muda untuk turut melestarikan semanggi. Warga juga berharap dapat memiliki lahan pertanian tetap. Pengembangan Kampoeng Semanggi menjadi Kampoeng Wisata juga menjadi potensi yang perlu dipertimbangkan Pemerintah Kota Surabaya, mengingat semanggi belum banyak dikenal di Asia Tenggara.
















