Bagaimana kabarmu di sana, sayangku? Apa engkau mulai bosan dan mengutuk dunia atas segala kepenatan yang menghimpitmu? Adakah rasa kesal atas semua masalah yang berulang menerpamu? Aku merasakan ada jerat keputusasaan di dalam hati dan kepalamu yang terlanjur lelah itu. Aku melihat kesedihan selalu berhasil memudarkan harapan yang perlahan menghilang di raut wajahmu.
Apa yang engkau risaukan? Dunia tak seindah yang kau bayangkan dahulu? Kau tak sepenuhnya salah, tetapi juga tak sepenuhnya benar. Hidup tak seburuk itu. Kau hanya sedang resah, sayangku. Air yang biasa kamu gunakan untuk bercermin mulai keruh dan menghitam. Kemari, mendekatlah padaku. Aku akan kenalkan kau dengan teman-temanku, cermin yang niscaya memantulkan kekhidmatan di tengah hiruk-pikuk dunia fana. Perkenalkan, mereka adalah anak-anak senja.
Kau datang di saat yang tepat, karena mereka tak bisa setiap saat dapat dilihat. Aku hanya bisa menemui mereka pada saat batas antara dua dunia mulai bersilangan. Mereka muncul seiring cahaya matahari yang semakin meredup hingga membuat rona langit menjadi jingga kemerah-merahan. Coba kau rasakan hawa kehadiran mereka, damai dan menyejukkan bukan?
Berhentilah sejenak di sini, mereka akan menghampirimu. Ketika mereka mengulurkan tangan, maka jabatlah dengan erat. Sudahkah derai-derai kegetiran lenyap dari dirimu? Uluran tangan mereka mengajarkan kita untuk tidak meributkan perbedaan. Sebab, kita memang dilahirkan dalam keberagaman.
Aku tahu kehadiran senja hanya sesaat. Memang ada masa yang digariskan untuk sebuah kebahagiaan ataupun kesedihan. Aku ingin kau menikmati kehidupan yang juga sesaat ini. Duduklah bersama mereka di tepi pantai, di tepi bumi, yang mana semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam yang memecah ombak. Menyenangkan, bukan? Sedikit waktu bersama mereka ini mengajarkan kita untuk memberi penghargaan pada setiap tapak jalan yang pernah kita lewati.
Perlahan sangat pelan, hingga petang mulai menjelang. Cahaya kelam mesra menyambut malam. Ketika arak-arakan awan bergerak menutupi langit yang jingga, anak-anak senja akan mulai berlari. Anak-anak senja berlari sekuat tenaga saling bersisian, saling mengejar untuk kembali ke tempat di mana mereka akan berpulang. Tak ada yang disesalkan, tak ada rengekan untuk menahan diri saat lonceng tanda waktu mereka pulang telah memanggil. Justru mereka terlihat lebih bahagia ketika satu-persatu bergiliran untuk menghadap kepada-Nya.
Begitulah mereka, anak-anak senja. Sekumpulan manusia yang sekali memberi arti, sesudah itu pergi tanpa banyak tapi.
Surabaya, 6 November 2016