Hai istri tercintaku, kamu pasti tak asing kan dengan judul ini bukan?!Butuh keberanian yang lebih untuk melukiskan kata pada puisi itu.Serta detak jantung yang berdegup sewaktu menyerahkan padamu.Mungkin kata-katanya tak seindah puisiku yang belakangan.Tetapi percayalah itu ku renda dari hatiku yang paling dalam.Polos kata-katanya, tapi jujur pada perasaannya.Dengan tangan yang gemetar gugup,…
#istritercinta Selama ini ibu memang sosok yang paling dekat denganmu. Buatmu ibu sosok yang bisa lebih mengerti kalian ketimbang ayah. Buatmu ibu juga sosok yang selalu penuh dengan kelembutan dalam mengurus dan menghadapimu. Berbeda dengan Ayah yang waktunya untukmu sedikit sekali, kalian bisa bertemu seharian penuh paling di saat akhir pekan saja. Ditambah sosok ayah yang lebih keras dan kaku dari ibu, membuat kamu sering segan bahkan takut dengannya. #Blog inspirasi dan informasi gaya hidup #kekinian yang memotivasi para #millenial muda untuk lebih berprestasi dan meraih #sukses agar kesuksesan itu bisa saling berbagi pada rakyat kecil yang lebih membutuhkan serta beramal intelektual pada kaum bodoh yang niatnya memiskinkan umat dan menghancurkan bangsa ini! Setuju?! 😘💗😘 Dishare atau tag temen-temen kamu yang perlu info ini ya! Stay positive dan semangat terus!!!! 💗 #ayahindonesia #Fradhyt_Fahrenheit_Adhyatman #fradhyt_ayah_millenial #fradhytfahrenheit #ianadhyatman #neatdaddy . . . . . . #papahmuda #marketingindonesia #istritercinta #motivasipagi #ayahmuda #quotesindonesia #microblogindonesia #moviemaking #katabijak #keluargaku #gymindonesia #trendingindonesia #asuransipendidikan #viralindonesia #soccer #istri #bawel (at Pondok Indah Jakarta Selatan) https://www.instagram.com/p/CIsCkzYLHP7/?igshid=a6wtp38122me
Petugas catatan sipil sempat tidak percaya kalau istriku adalah lulusan S2 (Magister), karena di kolom Kartu Keluarga tertulis pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga. Dan sebenarnya status pekerjaan ini tidak ada yang aneh menurutku. Memang selama ini mindset masyarakat, sekolah tinggi ditujukan untuk mencari pekerjaan yang “berkelas”. Tidak sedikit yang beranggapan demikian, namun ada juga berpikir bahwa sekolah itu tujuannya untuk mencari ilmu, bukan yang lain, kalau pun nantinya mendapat suatu pekerjaan yang WOW itu merupakan bonus dari pencapaian ilmu itu sendiri. Ya, aku sepemikiran dengan pola pikir yang kedua. Khususnya untuk wanita yang nantinya akan menjadi seorang ibu, tentu harus punya perbekalan ilmu yang banyak, pemahaman agama, pola pikir yang cerdas, dan shalihah dengan jurus-jurus jitu dalam mengasuh dan membesarkan anak.
Jadi ingat apa yang pernah diucapkan Dian Sastro,
"Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas."
Adalagi yang disampaikan oleh Moh Hatta,
“Jika kamu mendidik satu laki-laki, maka kamu mendidik satu orang. Namun, jika kamu mendidik satu perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.”
Ya, begitulah pentingnya dari menuntut ilmu dan sekolah tinggi (khususnya). Kami juga meyakini hal itu, mengingat zaman sekarang era terus berkembang, tekonologi yang semakin canggih (internet oriented), dan banyaknya pola kehidupan yang sudah menyimpang (narkoba, free sex, dan kenakalan remaja yang lain). Oleh karenanya sebagai madrasah yang pertama ibu/calon ibu harus punya perbekalan yang matang, baik ilmu agama ataupun ilmu lain di kehidupan ini. Tentunya kita berharap anak-anak kita nanti bisa terkondisikan dengan baik, jauh semakin di depan dari generasi kita saat ini.
Jujur aku sendiri sudah merasakan bagaimana lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang minim pemahaman agama, dan minim ilmu lainnya karena keluargaku kesemuanya hanya berkancah di Sekolah Dasar. Jauh sekali perpedaan kehidupan dan pola pikirnya. Berharap generasiku ke depan bisa lebih baik lagi (amiin).
Dan sebagai motivasi untuk kita, ternyata keutamaan menuntut ilmu juga tertulis di dalam Al-Quran:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11)
Tapi, yang namanya manusia tempat khilaf yang mudah dinilai salah, tentu ada saja yang pro dan kontra. Seringkali kita mendengar kritikan-kritikan yang tak enak didengar.
“Buat apa wanita sekolah tinggi-tinggi, toh nantinya juga cuma sibuk di dapur, nggak jadi pejabat, toh juga Cuma sibuk ngurus anak”.
:-)
Anggap saja kritikan itu sebagai pengingat yang mencerahkan, dan memang kok wanita tugasnya seperti yang tersebut di kritikan tadi, tapi wanita berilmu tentu punya derajat yang tinggi di mata Allah kan? Seperti pada ayat yang tertulis di Alquran tadi, dan menuntut ilmu itu adalah kewajiban seorang muslim.
Teruntuk istriku :
Tak apa jikalau ada orang yang mengatakan bahwa kau lulusan S2 tapi nganggur di rumah, gelarmu jangan menjadikan kau sombong, tapi buktikan bahwa Engkau memang bisa mendidik generasi dengan lebih baik lagi. Kita jadikan sebagai bahan intropeksi diri untuk terus berbenah. Ku akui kesibukanmu di rumah mengalahkan kesibukan wanita karir. Lelahmu yang tak pernah berhenti dari pagi hingga malam namun aku belum bisa memberi sesuatu yang lebih baik untukmu. Aku bersyukur memilikimu. Aku memilihmu seorang, tapi sebenarnya aku menentukan kelanjutan atas generasi mendatang. Aku memilih dirimu seorang, tapi sebenarnya aku menentukan separuh agamaku, karena sesungguhnya berawal dari menikah kita akan menjalani ibadah terpanjang di kehidupan ini. Aku hanya memilih satu, tapi kau akan menentukan anak dan seisi rumahku akan dibentuk seperti apa. Aku bersyukur memilikimu, jika ada suatu kebaikan maka perlu kita syukuri, jika ada suatu keburukan, itu adalah kesempatan kita untuk berbenah bersama. Istriku, aku mencintaimu, terimakasih kau tlah menjadi istri terbaikku, dan terimakasih kau tlah menjadi ibu terbaik untuk anakku. Maaf jika ada suatu kekurangan, semoga kekurangan itu bisa semakin mempererat ikatan kita dan semakin mendekatkan ke Tuhan kita. Semoga cita-citamu untuk terus berbagi ilmu segera terkabulkan, amiin..