Anda telah ditambahkan dalam grup “Napak Jero 2023”
Tetiba ponsel menampilkan notifikasi demikian. Nomor WhatsApp telah ditambahkan kembali ke dalam grup Napak Jero 2023 untuk memudahkan koordinasi antar peserta serta penyelenggara. Romo Irtikandik sesegera mungkin membagi informasi terkait hal-hal teknis dalam Napak Jero. Kali ini, perjalanan dilaksanakan pada tanggal 1 sampai 5 Juni 2023, dengan rute Novisiat Batu – Kolumbarium Parantijati (Pandanlandung) – Gereja Katolik St. Yusup (Ngrejo) – Gua Maria Sendang Purwaningsih (Donomulyo).
Sehari sebelum keberangkatan para peserta yang datang dari berbagai kota berkumpul dan mendengarkan instruksi serta tips perjalanan. Hari pertama di Novisiat Batu diakhiri dengan ibadat malam dan devosi kepada Sakramen Mahakudus. Matahari sama sekali belum terlihat di hari selanjutnya, hal ini dikarenakan para peserta memulai perjalanan pada pukul 04.00 WIB. Mereka akan memulai perjalanan pertama mereka menuju Kolumbarium Paranti Jati, Pandanlandung Malang. Para peserta harus menempuh sekitar kurang lebih 20 km untuk sampai ke Kolumbarium. Medan yang ditempuh pun beragam termasuk tanjakan dan bebatuan yang cukup terjal. Sesekali mata dimanjakan dengan pemandangan gunung yang menyembul dari balik hamparan perkebunan jeruk yang siap panen. Di hari pertama para peserta mendapat kesempatan untuk singgah di Rumah Sosial Belas Kasih untuk sejenak mengistirahatkan kaki. Setelah singgah, segera saja para peserta melanjutkan perjalanan mereka menuju tujuan akhir di hari itu.
Kolumbarium dan Taman Doa Paranti Jati, menjadi tempat istirahat mereka di malam hari. Setelah menutup kegiatan di hari pertama dengan perayaan Ekaristi, para peserta berbagi pengalaman berjalan mereka di hari yang pertama. Ada yang merasakan kram, sehingga harus tertinggal dari teman seperjalanan namun malah mendapat kesempatan untuk berkontemplasi. Salah satunya adalah Christian yang baru pertama kali mengikuti kegiatan ini. Ia merefleksikan sesuatu hal tentang berjalan naik dan turun. Ketika berjalan naik, tubuh butuh tenaga dan perjuangan lebih di jalan menanjak, namun ketika berjalan turun, tubuh tak perlu banyak tenaga. Demikian pula dengan “naik” untuk menjadi baik butuh banyak perjuangan tak semudah “turun” lalu jatuh ke dalam dosa.
Keesokan harinya para peserta memulai perjalanan lebih awal. Pemanasan dilakukan pada jam 03.10 dan mereka mulai berjalan meninggalkan Kolumbarium pada pukul 03.30 WIB. Hari ini mereka berjalan menuju Gereja Katolik St. Yusup, Ngrejo, Kepanjen. Tercatat di peta Google, mereka harus menempuh kurang lebih 30 km untuk bisa sampai ke tujuan. Ritme berjalan tak semulus hari pertama, wajar karena rasa sakit di kaki yang masih tersisa setelah menyelesaikan perjalanan hari pertama. Tak sedikit yang harus berjalan dengan langkah terseok. Tak banyak pula peserta yang saya jumpai. Pasalnya, ketika berjalan mereka banyak menemukan jalur selain yang tertera pada peta Google. Begitulah Napak Jero, prosesnya akan berbeda pada masing-masing pribadi namun bertujuan sama. Hal ini diamini oleh beberapa peserta yang saya jumpai di titik temu. Pengalaman mereka berbeda satu dengan yang lain, ada yang melewati sungai kecil, ada yang tersesat di rimbunnya perkebunan tebu, ada pula yang tertidur di kios milik warga. Bu Ari dan Pak Agus Sur adalah yang pertama kali sampai di pintu gerbang gereja. Pak Agus Sur sampai dengan membawa buah tangan, yakni satu batang tebu untuk melepas dahaga. Semakin sore para peserta berdatangan. Beberapa peserta harus dijemput dengan paksa karena hari semakin gelap dan tidak memungkinkan untuk mereka menyelesaikan perjalanan di hari kedua. Setelah seluruh peserta kembali, malam itu ditutup dengan perayaan Ekaristi bersama umat Stasi Ngrejo.
Pada hari terakhir, rute yang harus ditempuh sekitar 33 km untuk sampai ke tujuan akhir. Dari Stasi Ngrejo, para peserta memulai perjalanan pada pukul 04.15 WIB. Seperti pada hari sebelumnya, mereka memulai perjalanan dengan pemanasan dan doa. Suasana masih gelap dan hening karena penduduk setempat belum memulai aktivitas mereka di luar rumah.
Ada yang menarik terkait rute di perjalanan hari ketiga. Para peserta diharuskan menyeberang dengan menggunakan perahu motor untuk memangkas jarak kurang lebih sekitar 12 km. Jika hanya dengan perjalanan darat tanpa menyeberang danau, mereka harus menambah 12 km untuk sampai ke tujuan. Dermaga penyeberangan terletak di sebuah tempat wisata bernama Wisata Rajut Indah tepatnya di Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung. Penyeberangan ini memangkas perjalanan sehingga bisa langsung sampai di Kecamatan Kalipare. Cuaca panas dan kondisi jalanan yang berdebu menambah lika-liku perjalanan hari itu. Satu persatu para peserta saya temui dengan langkah yang tak seoptimis hari-hari sebelumnya. Dalam perjalanan, perkebunan tebu di kanan dan kiri tak sengaja menjadi peneduh perjalanan mereka.
Ketika berjalan, ada satu cerita menarik tentang buah semangka. Salah satu frater yang turut menjadi peserta membawa buah semangka utuh dari sebelum menyeberang danau. Semangka tersebut ia beli dipasar. Ia berpikir bahwa meski buah ini menambah beban bawaan, ia meyakini semangka tersebut bisa menjadi pelepas dahaga nantinya. Benar saja, setelah beberapa kilometer berjalan dari dermaga Kalipare, semangka tersebut menjadi penghilang dahaga di tengah panas terik. Semangka tersebut juga menjadi cerita tersendiri untuk Santy, salah satu peserta Napak Jero dari luar kota. “Semangka yang dibawa frater kemarin adalah semangka terenak seumur hidup saya!” begitu ujarnya. Buah yang selama ini hanya sekadar buah tiba-tiba menjadi penyegar di teriknya matahari. Itulah Napak Jero, membuat para pelakunya kembali menyadari secara penuh hal-hal sederhana yang ternyata sangat berharga.
Singkat cerita, para peserta satu persatu sampai ke tujuan akhir, Gua Maria Sendang Purwaningsih, Donomulyo. Kali ini ada hal menarik tentang siapa yang menjadi paling akhir mencapai tujuan. Waktu semakin malam bahkan menjelang hari selanjutnya, beberapa peserta mengkonfirmasi belum dekat dengan tujuan di hari terakhir. Mau tak mau mereka harus dijemput demi keamanan dan keselamatan mereka. Satu peserta bersikeras untuk tetap menyelesaikan perjalanan. Dengan segala sisa tenaga yang ia punya, ia berhasil sampai di Gua Maria sebelum tengah malam. Ia berhasil mengalahkan dirinya, ia berhasil melampaui batas dirinya.
Selalu ada cerita-cerita menarik dari Napak Jero. Cerita tentang semangka, cerita tentang mengalahkan ego diri, cerita tentang kontemplasi dan masih banyak lagi. Satu benang merah kembali saya dapatkan dari kegiatan ini, mungkin dalam praktiknya kita akan bersama-sama dalam berjalan, menemukan teman seperjalanan, bergurau dan saling berbagi dengan teman seperjalanan. Sampai pada akhirnya lelah mengharuskan untuk fokus dengan diri masing-masing. Pada saat itulah masing-masing pribadi berkesempatan untuk mencari/menemukan jawaban, berkontemplasi, dan menyadari hal-hal yang menjadi tujuan menyelesaikan perjalanan.
Napak Jero menjadi kesempatan untuk kita yang sudah terlalu riuh dan membutuhkan kesempatan untuk melambat dan menikmati. Hal yang selama ini sangat sederhana seperti keberadaan buah semangka di tengah terik matahari adalah hal yang (mungkin) jarang disadari dan disyukuri. Mungkin banyak hal yang kita lewatkan termasuk senyum dan kemurahan hati seseorang yang menawarkan tempat berteduh dan segelas air. Napak Jero membantu Anda menyadari hal-hal sederhana itu.