Ya Tuhan, tunjukan aku jalan yang lurus, asyik dan lucu.
seen from Australia
seen from United States

seen from Singapore

seen from Russia
seen from France

seen from United States
seen from Australia

seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from Australia
seen from Netherlands
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Mexico
Ya Tuhan, tunjukan aku jalan yang lurus, asyik dan lucu.
Jangan sampai larut, ya? -Ruka Rama-
Sendiri?
Kata beberapa teman, sendiri itu berarti mengasyikkan. Kata sebagian yang lain, sendiri itu kesepian. Kataku, sendiri itu kebutuhan, yang tidak setiap saat dibutuhkan.
Pada siang hari menuju petang, suara kipas angin terdengar lebih keras dari detak jantung di tubuh seseorang. Riuh suara orang bercakap dengan yang lain, pun dengan dirinya sendiri. Pada siang itu, aku jadi rindu keheningan.
Pernah suatu malam, aku ingin mendengar suara yang entah menghilang kemana. Gigitan-gigitan kecil oleh nyamuk yang kelaparan pun menjadi sangat menjengkelkan bagiku. Pernah suatu malam, rasa sepi yang datang tanpa permisi membuatku berpikir untuk apa dia ada.
KALI INI TENTANG MENIKAH
Pagi tadi pas buka instagram, ngga sengaja baca postingan salah satu sahabat pas masih di kampus dulu. Saya ambil beberapa bagian saja, begini: ".... Kali ini tentang menikah... Siapa yang tidak mendamba akan ada jari yang menggenggam di sela jari kita? Memeluk dengan erat di tengah malam saat mimpi buruk datang menghakimi. Menenangkan saat kita terbakar api amarah. Menjadi rumah saat kita tersesat dan butuh tempat untuk pulang. Namun lagi dan lagi tidak ada satupun di dunia ini yang bisa dipaksakan. Karena kelak akan berubah menjadi keadaan yang menyiksa... " @atoillahS _____________________________________________________________ KALI INI TENTANG MENIKAH. Selasa dan Rabu kemarin adalah hari pernikahan salah satu paman saya, pernikahan terakhir dari kakek-nenek saya. Kebetulan karena tempat saya tinggal adalah di luar kota, sempat keluarga tidak memberi kabar, sampai pada akhirnya saya tahu beritanya. Sejak di Pare (tempat saya tinggal untuk menimba ilmu dan ehem mencari jodoh wkwk) saya sudah menyiapkan diri untuk menghadapi berbagai macam pertanyaan yang mungkin akan dilancarkan pada saya. Maklum, sudah kepala dua. Untuk ukuran seumuran saya di desa, ini sudah saatnya untuk menikah. Namun ya begitulah, seperti kata caption di atas, siapalah yang tidak mendamba hal itu terjadi. Namun ini karena belum waktunya saja, maka saya diharuskan untuk bersabar sedikit lagi. Saya yakin, disana juga ada yang sedang dag dig dug menunggu kedatangan saya atau turut mendoakan kedatangan saya, sebagaimana yang juga sering saya lakukan, semacam begini: "Ya Allah, jika memang si Fulan adalah jodoh saya, maka dekatkanlah kami. Namun jika ia bukan jodoh saya, maka jadikanlah ia jodoh saya." Wkwk. Bercanda! Berbicara mengenai nikah, pasti tidak akan pernah lepas dengan si jodoh. Dahulu kala, waktu saya masih kanak-kanak. Sempat terlintas keinginan untuk tidak menikah dan tidak ingin menjadi dewasa. Iya mungkin itu turut dipengaruhi oleh keadaan keluarga saya yang 'agak' kurang sempurna, karena Ayah dan Ibu tidak bisa mempertahankan pernikahan mereka sampai jannah nanti. Atau mungkin karena ap, saya juga tidak mengerti, saya begitu saja tumbuh dengan sedikit agak takut-takut dan malu jika berdekatan dengan lelaki. Namun jika ditanya mengenai perasaan suka, jelaslah ada. Namun tak pernah sampai pada kata "akad"nya anak muda, pacaran. Alhamdulillah. Banyak sekali cara-cara yang saya lakukan untuk mengurangi rasa takut-takut dan malu saya dengan lelaki itu, karena saya pikir, saya harus bisa dekat dengan mereka juga. Saya mengikuti banyak organisasi. Saya pun juga aktif di dalamnya, bahkan pernah memimpin organisasi di sekolah, pun sampai tataran kampus, bisa dibilang jejak karir politik (😆) saya mumpuni. Namun entah untuk urusan cinta, saya selalu kalah. Teman-teman dekat saya bahkan sampai bilang begini: "katanya udah sekretaris, udah strong, kemana-mana berani, ngadepin cowok-cowok sendiri pas rapat berani, nasehatin pinter banget, bikin kata-kata puitis bah jago, penulis, romantis, tapi kok masih jomblo aja hahaha." Hmm pas denger itu, pengen banget saya ngomong, please jangan tanya saya, mereka aja yang ngga pernah nembak-nembak, beraninya ngode mulu, lah emang saya lembaga sandi negara yang ngerti segala sandi dan kode? Tapi yah saya diem aja sambil manggut-manggut. Baru sekarang ini saya sering mikir sendiri, apa bener saya kurang peka? apa saya terlalu jahat? terlalu cuek? ah masa? terlalu pemilih? terlalu diem? atau terlalu-terlalu yang lain? Yang jelas semua predikat itu pernah melekat pada saya. Saya klarifikasi saja ya, bukan kurang peka, hanya saja saya takut salah membaca kode. Bukan terlalu jahat, tapi kadang saya kurang bisa mengekspresikan malu dan takut yang kadang-kadang disalahpahami menjadi jahat. Cuek? apalagi. Pada dasarnya saya itu cerewet dan rewel sekali, hanya saja itu kadang kalah dengan diamnya saya (nahlo!). Pemilih? bukan pemilih, namun begini, kadang yang datang adalah tidak dengan membawa hati mereka sepenuhnya atau masih terikat dengan yang lain, atau mereka yang datang ketika saya belum siap.
Oke benar. Itu hanya alasan saya saja. Yang benar adalah kembali ke masalah utama, takut. Entah apa yang ditakutkan, sayapun juga bingung. Saya sampai menulis beberapa kriteria untuk seseorang yang akan menjadi calon teman hidup saya di dunia dan di jannah nanti. Agak lupa-lupa sedikit, tapi yang paling saya ingat adalah, bukan anak pertama. Lucu sekali. Mungkin ini juga dipengaruhi dengan lingkungan pernikahan dalam keluarga saya. Saya menjadi banyak belajar dari gerak-gerik, kabar-kabar ketika kami lagi kumpul pas lebaran tiba. Diam-diam saya mulai mengevaluasi mereka untuk mendapatkan calon terbaik saya. Masyaallah, ternyata jodoh bukanlah hal yang seperti itu. Jodoh tidak sepenuhnya terbentuk dari beberapa kriteria, karena tugas kita adalah bukan untuk mencari yang sempurna, namun menemukan mereka yang sesuai dengan diri serta menyempurnakan yang kurang-kurang. Jodoh bukan sepenuhnya mengenai orang yang kita sukai. Jodoh itu... sulit sekali mendefinisikannya. Mungkin singkatnya adalah jodoh itu cerminan dari diri kita mungkin ya. Oleh karena itu ada pepatah (atau apalah itu) yang mengatakan bahwa, tidak benar kita sibuk mencari jodoh kita, namun yang benar adalah selagi menunggu datangnya mereka, perbaiki diri sampai siap, niscaya mereka akan datang kepada kita. Amin. Jodoh dan nikah, akhir-akhir ini menjadi trending topic dalam pikiran saya. Mungkin ini dampak dari pertanyaan beberapa sodara kemarin, mungkin juga karena telah melihat sodara-sodara yang lain datang dengan keluarga mereka. Mereka bertanya ini itu. Saya hanya tersenyum kecil. Iya, menahan sesuatu dalam hati. "siapa yang tidak ingin?" Siapa yang tidak ingin ketika ada jari yang menggenggam di sela jari kita? Memeluk dengan erat di tengah malam saat mimpi buruk datang menghakimi. Menenangkan saat kita terbakar api amarah. Menjadi rumah saat kita tersesat dan butuh tempat untuk pulang. Wkwkwk. Untuk para readersperempuans, jangan baper ya! 😆 Tentu saja, saya secara pribadi ingin. Namun ketika saya ingat kembali bagaimana masa kecil saya dan beberapa bagian dalam hidup saya, rasa takut itu muncul kembali. Jangan ditanya berapa kali rasa sakit yang pernah saya alami, karena harus menolak atau bahkan menahan rasa fitrah yang Tuhan beri pada saya sebagai seorang perempuan. Mungkin. Mungkin memang belum sampai pada waktunya. Mungkin dia (yang Tuhan gariskan untuk saya) juga sedang memantaskan diri untuk datang pada saya suatu hari nanti. "tapi jangan lama-lama ya! Pantas dirimu adalah bukan ketika kamu datang dengan membawa banyak hal untuk kau katakan atau untuk kau persembahkan. Namun pantasmu adalah ketika kamu datang dengan segala niat baik dan ketulusan, Insyaallah cukup." (berasa ngomong sama calon yang entah dimana. Iya barangkali calon saya ikut membaca postingan ini. Meskipun kemungkinannya entah berapa persen. Jodoh dan nikah itu rahasia Tuhan. Saya ambil positivenya saja. Kan barangkali 😊) "ya, kamu, ya... dimanapun kamu berada, sedang bersama siapa, jaga diri baik-baik, jangan datang terlalu lama.. hihihi... " Dilarang baper!🙊🙈 Sekian tentang menikah kali ini, besok-besok saya tambah lagi. Probolinggo, 15 September 2017
Pada titik tertentu, kita akan mengalami dan menyadari kekurangan kita. Pada waktu itulah kita tahu bahwa kita harus belajar.
Ucapan mas Feri Latief di kuliah umum Budaya Dalam Lensa, kemarin pagi.
Ayo kita buat kesepakatan. Tiap malam kita bertemu dalam doa. Pasti mengasyikkan. Setuju?
Bawa Asyik Aja Ya kan? #Astungkara #PernahTua #TetapSemangat #Zumba #ZumbaFitness
#NgurahSuryaKusuma Youtube Channel: Ngurah Surya Kusuma
Saya menemukan template mengagumkan ini di CapCut. Ketuk tautan untuk mencobanya! https://www.capcut.com/tv2/ZS5tfHRwh/ suasana asyik desa