Jembalang
Terhapuslah semua semangat itu. Entah sedang terkubur atau telah hilang oleh terjangan angin itu. Yang ku tahu kini hanyalah diam dan termenung. Tapi taukah kau, bahwa dahulu ada seorang bijak yang mengatakan bahwa renungan akan membawa kesejukan. Aku berharap orang itu benar. Walau aku belum yakin apakah sekarang aku sedang termenung atau terlamun.
Aku sedang jenuh dengan semuanya. Inti otakku seperti terpaku ketika aku membuka pintu rumahku dan paku itu terasa semakin bertambah selama aku berada di dalam kamar. Bayangkan….. Di tempat yang telah menjadi tempurung hampir selama hidupku. Aku masih bisa merasakan karat dari paku-paku itu meresap dan merusak sel kehidupanku ketika menutup mata. Tempurung ini semakin menyempit dan mendempet tulangku. Melahirkan sudut-sudut sempit yang menyesakkan.
Tikus-tikus rumah menjadikan lemari pakaianku seperti hotel berbintang untuk bermadu dan sarang laba-laba yang menghiasi kamarku seperti payung-payung hijau di hutan hujan tropis. Kubuka semua folder musik, tapi tak ada satupun yang dapat mendinginkan kepala. Dentuman drum, distori gitar dan lengkingan itu membuat semua enzim lambungku bereaksi .Dan semua poster-poster itu seakan hendak keluar untuk menyergap dan menyerangku.
Aku ingin tidur sambil berteriak. Semua ini benar-benar tak kumengerti. Kini semua yang telah menjadi bagian hidupku membuatku muak. Apakah semua itu telah hilang ? Apakah iblis dalam jiwaku telah terbangun dan mencoba merengut kehidupanku ? Padahal beberapa hari kemarin semuanya baik-baik saja. Aku bertoleran pada tikus-tikus dan laba-laba yang berbagi tempat di kamarku. Semua musik dan poster itu telah menjadi kebangaanku selama ini. Aku bahagia dengan semua itu. Semua itu cukup !!!
Dulu tempat ini adalah surga dan aku sebagai Tuhannya. Dimana aku bisa berbaring tenang dan aku bisa menjadi segalanya. Semua selain diriku adalah umat yang selalu akan menyembah dan mencium jari kakiku. Namun kini aku merasa berada di lantai neraka paling dasar. Seluruh tubuh selain kepalaku terkubur. Aku sudah tidak menjadi Tuhan. Aku telah menjadi sang terhukum.
Tubuhku melepuh karena panas dan mataku sudah buta oleh lidah-lidah api. Aku benci kamarku, aku benci rumahku dan terlebih lagi aku benci diriku sendiri. Aku malu. Manusia adalah monyet yang berinovasi. Manusia adalah monyet yang selalu merasa tidak puas. Itulah alasan mengapa mereka turun meninggalkan pohon dahulu. Mungkin mereka sadar bahwa pohon tidak akan selalu menjadi surga dan ada saatnya untuk menjadi neraka.
Aku tidak menunjukan sifat-sifat itu. Aku seperti monyet yang terperangkap dalam tubuh manusia. Aku begitu terlena dengan menjadi Tuhan di kamarku dan hanya menjadi titik di luar. Harusnya kupecahkan cermin itu yang mengatakan bahwa aku akan selalu menjadi yang terhebat. Aku bodoh. Cermin itu belum pernah keluar dari kamarku.











