Suatu hari, jika Anda sedang sangat marah, cobalah rasakan kemarahan Anda sendiri.
Dada sesak bergemuruh? Kepala ingin meledak? Kepalan tangan terasa panas?
Nah, persis setelah Anda berhasil memunculkan kesadaran di tengah kemarahan, bayangkan satu, dua, atau tiga syaitan sedang membisiki Anda. Menaiki Anda dari belakang. Menggenggam jantung Anda. Semuanya menyeringai licik.
Sekarang, apa yang Anda pikirkan dan rasakan? Kalau itu saya, saya akan tersadar: "Tunggu dulu. Ada yang sedang berusaha memanipulasi saya agar saya melakukan keburukan. Enak saja, saya tidak mau dikendalikan oleh mereka."
Dengan melakukan teknik tersebut, saya merasa jauh lebih kuat dari amarah saya. Saya merasa mampu mengontrol diri sendiri–meski karena saya masih belajar, terkadang kontrol tersebut terlepas juga barang beberapa detik.
Orang-orang psikologi mungkin punya penjelasan mengenai hal yang semacam ini–silakan berbagi jika Anda yang membaca mengetahuinya.
Yang ingin saya ketengahkan adalah bagaimana Islam memperkenalkan konsep “syaitan”.
Menurut guru-guru saya, ia lebih berupa sifat daripada “spesies” makhluk tersendiri. Ia bisa dimiliki manusia dan jin.
Dalam banyak literatur Islam, kurang lebih kita diajarkan untuk menjaga diri dari syaitan, mengidentifikasi kehadirannya, hingga melawan gangguannya.
Jika memang syaitan bukanlah makhluk, melainkan sifat yang bisa ada pada diri kita, berarti Islam mengajarkan kita untuk menjaga diri dari diri kita sendiri, mengidentifikasi kehadiran sifat kita sendiri, hingga melawan diri kita sendiri.
Jadi, masalahnya bukanlah pada sesosok makhluk gaib yang sentuhannya membuat kita lupa diri–yang kita sebut syaitan, karena kemungkinan sosok makhluk tersebut tidak ada. Masalahnya adalah diri kita sendiri.
Ketika kita marah, kemarahan itu dijaga dan diperbesar oleh diri kita sendiri. Ketika kita bermaksiat, maksiat itu terwujud karena pilihan kita sendiri.
Namun, Islam memberikan sebuah alat untuk mengendalikan diri kita sendiri, melalui konsep “syaitan”.
Kita diajak mundur sejenak dari kondisi kita saat marah, mengisolasi kemarahan kita dengan mengatakan bahwa itu datang dari syaitan, sehingga dengan sisa kesadaran yang ada, kita tidak mengizinkan kemarahan menguasai seluruh bagian diri kita.
Begitu pun ketika godaan kemaksiatan datang. Dengan sisa kesadaran yang masih bekerja, melakukan pemisahan “ini diriku” dan “ini dari syaitan” membuat kita–yang masih memiliki kebersihan hati, merasa perlu melawan bisikan itu habis-habisan.
Silakan coba metode ini, jika Anda baru mendengarnya (mungkin sebagian Anda sudah memikirkan dan melakukannya juga). Tetapi, mohon jangan jadikan ini sebagai referensi. Saya bukan ‘ulama. Saya hanya orang biasa yang senang mengobservasi dan memungut pelajaran.
Mohon luruskan jika ada kesalahan.
Wallahu'alam bi-shawab.