20-21 Juli 2024
Hari Jumat kemarin, ketika aku menaiki kereta yang sama dengan Alivia menuju kampung halaman kami di Jawa Timur, lagi-lagi aku teringat konsep 'penumpang kereta'. Tentang orang-orang yang Allah izinkan untuk aku bertemu dengan mereka dalam beberapa waktu saja, karena nantinya setiap dari kami akan menemukan stasiun pemberhentian masing-masing.
Takdir Allah itu hebat ya. Dari era Nabi Adam hingga abad ke-21, Allah pilihkan kita untuk lahir di zaman ini. Dari sekian banyak pilihan nabi dan rasul-Nya, Ia pilihkan kita untuk menjadi umat Rasulullah. Dari sekian banyak miliaran orang, Allah takdirkan aku bertemu denganmu, teman-teman salih nan salihahku.
Tetapi pertemuan ini tidak bersifat abadi. Selayaknya aku naik kereta bersama Aliv dan kita turun di stasiun berbeda. Sesementara itu pula Allah jadikan pertemuan kita. Sebesar apapun rasa ingin terus berjumpa dan membersamai kalian, sebesar itu pulalah jaminan kita tidak akan pernah mampu mewujudkannya, jika tidak Allah satukan lagi di surga.
Sekelas Ibunda Hajar harus pergi ditinggalkan suaminya. Sekelas Rasulullah pun pergi ditinggal Ibunda Khadijah wafat. Rasa sayang terhadap manusia memang tak boleh lebih besar dari rasa sayang pada Allah.
Dear teman-teman salih nan salihahku, melihat wajah-wajah kalian membuatku teringat Allah, meredakan hingar-bingar dalam pikiran, dan membantuku mengingat dari sumber mana seharusnya aku mencari ketentraman. Berkawan dengan kalian menjadikan aku ingat mengenai status paling awal dan paling akhir seorang manusia, bahwa tugasku adalah menjadi hamba Allah, beribadah hanya kepada Allah.
2 hari kepulangan kemarin aku banyak menjumpai lagi wajah-wajah itu, termasuk menjumpai wajah Dinda dalam diri ibunya. Dalam sholat dan sujud yang aku rasakan penuh sesak mendalam akan kehilangan seorang anak, aku menemukan sosok perempuan kuat di sana. Sosok dengan hati yang lembut sekaligus tabah. Dalam sholat dan sujud itu, rasanya seperti Allah beri kesempatan untuk sholat berjamaah lagi dengan Dinda.
.
Kemudian, esoknya aku menjumpai lebih banyak kawan, di hari besar kebahagiaan salah satu sahabatku, Rosyidah Adilah. Kabarnya datang dengan sungguh mengejutkan, tapi sungguh penuh kebahagiaan.
Jika ada dua kejadian berturut-turut yang memberikanku banyak hikmah, kejadian itu adalah stasiun pemberhentian dua orang temanku ini.
Dinda, yang berhenti di stasiunnya dan dijemput oleh-Mu.
Kemudian Rosyi, yang berhenti di stasiun yang berbeda untuk melanjutkan perjalanannya dengan kereta yang lain.
Dua orang kawan yang insyaAllah sudah berada di tempat terbaiknya.
Jika Allah sudah menempatkan Dinda di tempat terbaik di sisi-Nya, Allah menempatkan Oci di tanah terbaik di muka bumi, insyaAllah. Doakan kami semua agar lekas menyusul. Jika memang raganya tidak bisa sampai ke sana, semoga ruh-ruh kami selalu rindu untuk pergi ke sana, untuk menginjak tanahnya. Dan jika sampai akhir Allah belum izinkan, semoga Ia catatkan untuk kami pahalanya.
.
Teruntuk Oci, juga semua kawan-kawan salih dan salihahku,
Uhibbukum fillah.
Barakallahu lakuma wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khair.
Semoga Allah senantiasa menyertai langkah-langkah kalian.
Mari kita saling lekat dalam doa.
Jakarta, 24 Juli 2024














