Jarak antara kos dan kantor hanya berjarak 500 meter. Yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 5 menit.
Ritual berangkat 15 menit sebelum jam masuk kantor itu sudah kulakukan selama 3 tahun lebih. Tanpa perlu berdesak-desakan dalam transjakarta atau jadi pindang dalam metro mini.
Jadi kalau suatu waktu aku harus pergi untuk suatu urusan (misalnya kayak beberapa hari lalu.. aku harus mengurus dokumen beasiswa ke dikti), begitu sampai di tempat aku bakal keleyengan. Setelah duduk 3 jam dalam kopaja yang terjebak kemacetan sampai pantat tepos dan baju basah oleh keringat.
Karena tidak terbiasa.
Padahal dulu sejak sd nggak pernah aku ke sekolah nggak pake angkot. Bahkan jaman sma harus berangkat jam setengah 6 pagi dan harus ganti angkot sampai 3 kali untuk sampai di sekolah.
Begitu kerja malah jadi lembek begini. Padahal aku tinggal di Jakarta, kota yang keras, yang menuntut penduduknya untuk punya mental dan fisik sekuat baja. Karena yang lemah akan mengikuti prinsip seleksi alam, kalah dan tersingkirkan dari persaingan.
Hidup yang menempamu lebih keras akan membantumu lebih kuat. Beda dengan kondisi seperti misalnya kamu tiap hari bisanya kemana-mana naik mobil diantar sopir, berangkat dari teras rumah dan sampai tepat di tujuan tanpa pernah menapaki trotoar jalan yang kamu lalui. Trotoar itu asing begitu kamu keluar dari mobil. Lalu bagaimana caranya kamu bertahan hidup di dunia asing itu?
Cobalah untuk mengenali setiap sudutnya. Mungkin nggak harus dengan gelantungan di metromini setiap hari. Tapi cicipilah sesekali. Supaya kita mengenal kota yang kita tinggali. Suasananya, jalan-jalan dan sudutnya, kehidupan sehari-hari penduduknya. Taruhan deh, buat yang kemana-mana naik mobil, pasti nggak ngeh sama jalan.
Dulu pas jaman SMA, aku sering banget nyasar kalo naik angkot. Tapi hikmahnya aku jadi tau jalan-jalan di Bandung dan membuktikan sekali lagi, its not true that women cant read maps.
Kenali, supaya begitu kamu keluar dari zona nyaman dan harus berhadapan dengan dunia asing itu, kamu nggak kaget dan bisa bertahan. Lagipula, nggak selamanya kan kita akan tetap berada di zona nyaman. Karena hidup pasti selalu ada siklusnya.
Ah, bukan mau nakut-nakutin kok. Kalau nggak mau nurutin juga nggak apa-apa. Sekedar saran saja.
Karena tetap saja, hitungannya keadaan memaksaku nggak melakukan hal serupa. Haha..
So, kita lihat saja nanti. Begitu tinggal di Eropa nanti, yang dengan kecanggihan teknologi dan peradaban yang maju memberi banyak kemudahan bagi para manusia, apa aku bakal lebih lembek dari sekarang?
Welcome to the jungle!