Perkebunan #kopi #Kalibendo #Banyuwangi . . Untuk trip #WisataKopi #PO3S Info WA : 081282090676 (at Kalibendo, Jawa Timur, Indonesia)
seen from Pakistan
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Argentina

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from Hong Kong SAR China
seen from Ukraine

seen from Canada
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from China
Perkebunan #kopi #Kalibendo #Banyuwangi . . Untuk trip #WisataKopi #PO3S Info WA : 081282090676 (at Kalibendo, Jawa Timur, Indonesia)
#kopi #KaliBendo #Banyuwangi 603 mdpl (at Lereng Kawah Ijen, Banyuwangi)
Kalibendo Waterfall, Banyuwangi
Kalibendo Waterfall, Banyuwangi
When you visit East Java and Bali, it will be a great idea to choose Kalibendo Waterfall as one of your destinations. Located in a village named Kampung Anyar, Glagah District, Banyuwangi, this waterfall might give more amazing experience for you in exploring the nature of East Java. The waterfall belongs to the Agro Tourism of Kalibendo with 10 meters of height.
I…
View On WordPress
Kalibendo Pungut Biaya ke Wisatawan yang akan Pasang Tenda
GLAGAH – Pemerintah kecamatan Glagah mengaku tidak pernah mendapat koordinasi dari pihak perkebunan Kalibendo, terkait dengan adanya dugaan penarikan biaya bagi wisatawan yang akan memasang tenda di area lapangan Kalibendo, untuk menginap. Hal ini disampaikan oleh camat Glagah, Setyo Puguh Widodo. Menurutnya, hingga saat ini pihaknya belum mengetahui mengenai kemungkinan adanya tarikan biaya menginap di […] http://goo.gl/bnS8Nf 💛
Pemandangan alam yang terlampau indah di Kalibendo - Banyuwangi
dan maaf... saya tak dapat berkata apapun tentang model yang ada dalam album foto tersebut..
Exploring Banyuwangi (Part VI) : Dari Perkebunan Kali Bendo Menuju Kawah Ijen
3rd Day : (Almost) Lost in Banyuwangi
“Tidak kan menepi tidak berhenti. Itu atau ini pilihan yang saling satir. Dan sepertinya akan semakin berat. Ke cita-cita yang masih jauh di depan sana.” ~ FSTVLST
Kembali lagi di lanjutan perjalanan menjelajah Banyuwangi seorang diri. Berbekal motor suzuki smash yang 4 tahun belakangan ini menemani langkah ku dengan putaran roda kecilnya. Setelah menikmati kopi di pantai Blimbingsari Rogojampi yang disusul dengan pantai Boom di timur kota Banyuwangi serta menorehkan foto di taman Blambangan, menepikan diri di sebuah minimarket waralaba mungkin jadi pilihan yang dipaksakan. Alih-alih aku mencari warung kopi yang memang sulit dicari keberadaannya di kota Banyuwangi ini, cara instan pun sepertinya terpaksa memang dilakukan kali ini.
Setidaknya aku bertemu serombongan pemuda yang berasal Bali dan baru saja mereka mengunjungi kawah Ijen dan sedang dalam perjalanan menuju pantai Sukamade di pesisir selatan Banyuwangi. Dari mereka aku mengetahui info bahwa di camping ground gunung Ijen cuaca cerah. Tidak seperti sewaktu malam hari di Singojuruh. Dimana 2 malam berturut-turut aku disambut hujan yang untungnya turun sesampainya aku di rumahnya Tile.
Jadi bermodalkan info dari serombongan pemuda tadi, cukup yakin aku untuk berhammocking saja nantinya. Sayangnya rombongan pemuda bermotor itu tadi pergi tanpa membuang sampahnya. Padahal tepat di belakang mereka ada sebuah tong sampah yang cukup dekat dengan tempat duduk. Semoga saja mereka tidak meninggalkan sampah sewaktu berkunjung ke kawah Ijen semalam. Ataupun sewaktu di pantai Sukamade nantinya.
Oke. Cukuplah mengurusi sampah orang lain. Setidaknya aku masih mengurusi sampahku sendiri. Jadi, setelah menghabiskan dua batang rokok dan matahari yang mulai sedikit condong ke barat, menandakan aku harus bergegas melanjutkan perjalanan meski waktu masih menunjukkan pukul setengah 1 siang. Karena di balik rencana perjalanan menuju gunung Ijen, aku betul-betul masih penasaran dengan kopay Using di Sanggar Genjah Arum.
Setelah berkemas, aku langsung saja menuju ke desa wisata Using di Kemiren Kecamatan Glagah yang letaknya di sebelah barat kota Banyuwangi. Mula-mula aku melewati stadion Diponegoro yang sedang bersolek. Tentunya ini adalah salah satu venue dilangsungkannya Porprov Jawa Timur 2015 bulan Juni mendatang. Selepas jalan lingkar tak lama kemudian aku sudah memasuki gapura bertuliskan Selamat Datang di Desa Wisata Adat Using Kemiren.
Terus saja aku memacu sepeda motorku dengan santai, sambil berharap di hari sabtu ini ada pengunjung berombongan yang datang ke Sanggar Genjah Arum. Sehingga bisa memberiku akses untuk ikut masuk. Tapi, lagi-lagi hanya kekecewaan dari ekpektasi yang terlalu tinggi. Pintu gerbang Sanggar Genjah Arum yang begitu besar tertutup rapat-rapat. Bahkan tak nampak seorang pun yang bisa ditanyai untuk mencari info.
Letak sanggar Genjah Arum ini terletak di ujung desa wisata Kemiren sehingga di sebelahnya pun hanya ada sawah dan rumah paling dekat pun waktu itu tidak nampak ada tanda-tanda penghuninya siang hari itu.
Ya sudahlah, daripada berlama-lama larut dalam kekecewaan aku lurus saja berjalan. Berdasarkan informasi dari Tile, selepas desa Adat Using Kemiren ini terdapat perkebunan kopi Kali Bendo. Segera saja kupacu sepeda motorku menuju Kali Bendo untuk sekedar mengobati kekecewaan kegagalan mencicip kopay Using di Sanggar Genjah Arum.
Perkebunan Kali Bendo
Tak butuh waktu lama, setelah melalui jalanan lereng dan perbukitan dengan pemandangan yang oke punya aku melewati sebuah tempat yang sepertinya merupakan objek wisata juga. Sebuah wisata air terjun yang entah aku lupa namanya. Aku tidak berhenti di situ, karena pikirku mungkin saja nantinya dari tempat parkir yang berada di pinggir jalan, lokasi air terjunnya masih jauh. Jadi kuputuskan untuk melanjutkan hingga akhirnya menemui gapura dengan tulisan Perkebunan Kali Bendo.
Selepas memasuki gapura Kali Bendo, tak ayal aku langsung disambut dengan pemandangan kebun kopi dan rumah-rumah yang sepertinya ditempati oleh para pegawai Perkebunan Kali Bendo. Memasuki areal ini seperti kembali ke jaman dahulu. Entah jaman sebelum kemerdekaan atau jaman apalah aku sendiri tidak menyempatkan berhenti. Bahkan ternyata di perkebunan Kali Bendo ini kita bisa mencicipi kopi luwak robusta yang sayangnya aku malahan baru mengetahui setelah kembali ke Surabaya. Biarlah nanti rasa penasaran ini yang menyeretku untuk kembali ke sana.
Oke, berjalan melewati rumah-rumah dan pabrik ini serasa bernostalgia memang. Entah bernostalgia dengan masa lalu atau beradu dengan imajinasimu sendiri. Terus saja aku memacu sepeda motor hingga ke arah Licin dan meneruskan perjalanan menuju ke Gunung Ijen.
Di perkebunan Kali Bendo ini tidak hanya terdapat tanaman kopi. Masih ada cengkeh dan karet. Kudengar di perkebunan Kali Bendo ini juga terdapat air terjun dan sungai yang mengalir jernih. Terdengar menarik karena ternyata kawasan Kali Bendo ini sudah dikembangkan oleh Bupati Banyuwangi sebagai lokasi agrowisata. Bagus memang, jika menjadi satu kesatuan setelah melalui desa wisata adat suku Using. Dan dilanjutkan dengan agrowisata di perkebunan Kali Bendo ini.
Yang disayangkan dari lokasi perkebunan Kali Bendo ini banyak digunakan untuk pasangan muda-mudi untuk berduaan. Banyak kutemui di sela-sela pepohonan karet, cengkeh dan kopi. Sepertinya mereka ingin menerapkan filosofi menyatu dengan alam dengan memakai kali Bendo sebagai setting lokasinya. Jadi yang masih single ataupun hanya solo travelling siap-siap kuatkan mental,,hehe..
Anyway, daripada kelamaan di perkebunan Kali Bendo yang sejuk ini, seharusnya perjalanan ku dilanjutkan menuju Licin dan kemudian Paltuding untuk menuju Kawah Ijen. Dari informasi yang kuperoleh dari Kali bendo bisa langsung tembus sampai Licin. Tapi karena aku masih penasaran dengan Sanggar Genjah Arum, aku kembali melewati jalanan perkebunan kali Bendo hingga melewati Sanggar Genjah Arum lagi yang masih saja tertutup rapat. 3 kali penolakan nampaknya sudah cukup.
Akhirnya setelah melalui desa wisata adat Using dan bertemu lagi dengan patung Barong, kupacu motorku ke kanan dan mampir sejenak di pom bensin yang katanya Tile terakhir kali ditemui sebelum mencapai paltuding dan jika dilanjutkan sampai Bondowoso nantinya baru bertemu pom bensin lagi. Sarannya sih, penuhi saja tangki bensinnya di sini. Daripada membeli bensin eceran di jalan yang konon harganya bisa lebih mahal daripada sebungkus rokok marlb*ro.
Road to Ijen
Kembali melalui jalanan yang mulai menanjak. Tentu saja ini gunung, kawan. Sembari berdoa supaya motor ini kuat melalui jalanan gunung Ijen. Dari penuturan Tile dan ayahnya, jalanan menuju kawah Ijen ini sudah bagus karena tempo hari dipakai untuk event Tour de Ijen yang bertaraf internasional. Nah, sepeda kayuh aja kuat. Mengapa tidak dengan motorku?
Dengan kecepatan sedang aku melibas jalanan yang berkelok dan cukup menanjak, hingga sampailah aku di sebuah pertigaan yang menunjukkan bahwa itu adalah pertemuan jalan jika melalui perkebunan Kali Bendo. Sepertinya pemandangan melalui kali Bendo lebih bagus pikirku. Daripada melalui jalanan yang saat ini kulalui barusan. Jadi memang bisa dikatakan satu kesatuan wisata mulai dari desa wisata adat suku Using dilanjutkan dengan agrowisata perkebunan Kali Bendo dan ditutup dengan wisata Kawah Ijen.
Jalanan yang kulalui ini menurutku tidak ramai. Bahkan bisa dibilang sepi. Cukup was-was juga di tengah hutan yang perlahan lebat ini. Sempat pula menemui beberapa penjual madu murni di pinggir jalan yang cukup tinggi tanjakannya. Sebenarnya ingin mampir juga begitu melihat ada beberapa wisatawan asing yang berhenti. Kuurungkan niatku yang berdasarkan firasatku aku tak hendak berlama-lama di jalanan ini.
Tugu pal putih di pinggir jalan menunjukkan tulisan Paltuding. Berarti aku sudah bersiap memasuki tanjakan yang membelah bukit seperti yang dikatakan Tile. Awalnya tanjakan ini hampir tegak lurus naik dan kemudian menuruni bukit. Karena faktor keamanan, bukit ini pun beberapa tahun silam sudah dipangkas dan dibuatkan jalan yang sudah tidak seekstrim sebelumnya. Untungnya ada turunan terlebih dahulu sebelum menanjak jadi bisa mengambil jarak untuk memacu naik. Dan pula waktu itu jalanan tidak ramai, yang boleh dibilang sepi menurutku.
Di depanku ada 2 motor sepertinya sekeluarga dengan anaknya yang masih kecil. Nampak si pembonceng turun karena sepeda motornya yang berjenis matic tidak kuat membawa beban naik ke atas. Lain halnya denganku. Meski ada tambahan satu tas keril ternyata masih dengan mudah melahap tanjakan tersebut meski sedikit terengah-engah di penghujung tanjakan.
Kembali melanjutkan perjalanan menyusuri hutan yang semakin sejuk saja dengan jalanan yang berkelok dan minim tanjakan. Sepertinya memang itu tadi tanjakan yang terberat dan sudah dilalui. Lainnya aku hanya melewati beberapa tanjakan yang relatif mudah dibanding perjalanan sebelumnya.
Jalanan masih sepi dengan kabut yang mulai turun dan hawa yang mulai menusuk tulang. Sempat terpikir ingin menambah laju kendaraan tapi kuurungkan niatan itu karena aku belumlah mengenal jalanan ini. Jadi mengapa tidak kunikmati saja perjalanan di lereng gunung Ijen yang berkabut ini. Toh tidak akan kutemui udara sesegar ini di Surabaya.
"Anakku pilihlah jalan sepi mu. Sepi membuatmu punya waktu dan ruang yang cukup bagi mu. Tuk jadi bukan seperti ku" ~ FSTVLST
Exploring Banyuwangi (Part I) : A Journey To The East
Exploring Banyuwangi (part II) : Just Enjoy Your Ride!
Exploring Banyuwangi (Part III) : Baluran National Park #VisitSitubondo
Exploring Banyuwangi (Part IV) : Blimbingsari, Pantai dan Bandara. Sebuah Kolaborasi Pendongkrak Potensi Wisata di Banyuwangi
Exploring Banyuwangi (Part V) : Pantai Boom Banyuwangi
Exploring Banyuwangi (Part VII) : Touchdown, Ijen! A Highway to the Milky Way
Exploring Banyuwangi (Part VIII) : Kawah Ijen, Here I Come!
Exploring Banyuwangi (Part IX) : Ijen. A Sci-fi Journey in The Center of The Crater
Exploring Banyuwangi (Part X) : Kawah Wurung Bondowoso
Exploring Banyuwangi (Part XI) : Homecoming