Exploring Singapore (Part V) : Red Alert at Borderline
3rd Day : Bounce Back to Singapore
“Cities were always like people, showing their varying personalities to the traveler.” ~ Roman Payne
Santap siang di negeri seberang. Ah, sepertinya tidak berlebihan. Ini sekaligus pertama kali aku menginjak sebagian kecil tanah dari sebuah benua terbesar, Asia. Ya, karena Johor Bahru yang letaknya di ujung semenanjung Malaya ini merupakan bagian dari pulau besar yang kita sebut Benua Asia. Oke, cukup. Kembali tersadar dari kekenyangan, aku memiliki tujuan untuk mencari kantor pos untuk membeli sejumput kartu pos sebagai oleh-oleh dan tentunya mengirimkan kartu pos dari negeri Jiran ini ke Indonesia.
Berdasarkan peta yang terletak di pinggir jalan di dekat Kuil Kaca Arulmigu Sri Rajakaliamman tadi, aku hendak berjalan kaki menuju lokasi kantor pos Johor Bahru. Kupikir tidak begitu jauh, mungkin sekitar 30 menit paling lama berjalan kaki. Akhirnya, diputuskan kami berpisah jalan. Aku berjalan sendiri mencari kantor pos, sedangkan Tiffany, Reny dan Yunita hendak berjalan-jalan di dalam mall Galeria Kotaraya ini. kami pun janjian untuk ketemu di depan pintu masuk mall pukul setengah 3 sore. Jadi kupikir 1 setengah jam cukup lah untuk perjalanan pergi-pulang balik.
Mulailah aku berjalan keluar mall dan segera bertanya kepada seorang sekuriti mall untuk memastikan tempat yang hendak kutuju. Rupanya benar adanya dan lanjutlah aku berjalan bermodalkan foto peta Johor Bahru yang untungnya tadi sempat kufoto di handphone.
Menyusuri jalan raya yang ramai dan sedikit lebih ruwet di jalanan sini dibandingkan dengan Singapura. Untungnya lampu penyeberangan untuk pejalan kaki masih ditaati. Melewati bangunan besar yang ternyata namanya Bangunan Sultan Ibrahim. Yang entah aku tak tahu bangunan apa itu. Sepertinya bangunan kuno, karena tercantum di dalam peta wisata Johor Bahru. Mulai memasuki daerah komplek perkantoran yang menurutku nampak agak sepi. Tidak seramai di dekat Kotaraya tadi. Kupikir mungkin karena ini hari Sabtu. Dan baru tersadar pula sambil sedikit berharap semoga kantor pos di Malaysia hari Sabtu tetap buka.
Ketidaklengkapan pencarian informasi membuatku kecewa sekali lagi karena ternyata kantor pos Malaysia hari Sabtu pada minggu pertama di awal bulan adalah hari libur selain hari Minggu tentunya. Nampaknya hari ini keberuntunganku mulai memudar. Ya, setidaknya aku melihat-lihat sebagian kecil dari kota Johor Bahru ini. Niat hati sebetulnya hendak ke Masjid Raya Johor Bahru, tapi sepertinya cukup jauh untuk berjalan kaki. Jadi sebelum aku melangkah kembali ke titik pertemuan kami nanti, aku beristirahat sejenak di bawah pohon dekat kantor pos tersebut. Nampak di depanku jalan raya dan selat Johor. Nampak pula bangunan Woodland dan gedung-gedung yang di Singapura.
Sementara sewaktu aku berisitirahat, ada seorang bapak-bapak beretnis Melayu yang mendatangiku. Ia menyapaku dan berkata bahwa ia kehabisan uang untuk pulang. Kupikir orang ini mungkin hanya peminta-minta atau pun hendak berniat tidak baik. Jadi serta merta kutolak pula secara halus, bahwa aku juga sedang menunggu teman untuk menjemput karena juga tidak memiliki uang untuk pulang.
Setelah dia berangsur menjauh, aku pun segera beranjak dari tempat itu. Menyeberang dan hendak kembali ke Galeria Kotaraya dengan sedikit memutar. Tidak melewati jalanan yang tadi. Belum genap 10 langkah seusai menyeberang jalan raya, di sebuah bangku yang terletak di atas trotoar, seorang bapak-bapak beretnis India memanggilku dan meminta sejumlah uang untuk makan. Terang saja langsung kutolak dan hendak lanjut berjalan, ia belum menyerah rupanya. Lanjut ia meminta rokok, sepertinya ia melihatku sudah dari kejauhan tadi sewaktu aku istirahat di bawah pohon sambil merokok. Ya, baiklah. Sekedar rokok kuberi dia sebatang. Toh, rokok di Johor Bahru ini harganya memang lebih mahal daripada di Indonesia tapi masih lebih murah daripada di Singapura.
Ia pun langsung mengucapkan terima kasih dan aku langsung saja melanjutkan melangkahkan kaki melewati pinggiran jalan raya yang bersebelahan dengan Selat Johor. Toko-toko di pinggir jalan ini kebanyakan tutup. Mungkin libur atau memang tidak laku, entahlah. Setidaknya cukup membuatku lebih waspada terhadap berbagai macam kemungkinan.
Berbelok ke kiri dan mendapati diriku di suatu tempat bernama JB Bazar. Sebuah jalanan yang ramai dengan kafe dan toko-toko kecil, serta terdapat kedai makan yang sepertinya lebih mirip pecinan menurutku. Jadi nampak lebih berwarna melewati jalanan ini, selain terdapat beberapa objek yang menarik.
Sekitar pukul 2 siang aku sudah sampai di Galeria Kotaraya lagi. Daripada menunggu, mengapa tidak mencoba mengitari bagian dalam mall ini. siapa tahu ada sesuatu barang yang menarik. Misal bisa dijadikan oleh-oleh pelipur kecewa tutupnya kantor pos. dan jika bertemu para gadis itu nanti supaya bisa lebih cepat untuk kembali ke Singapura.
Namun, aku sendiri sepertinya sudah memutari hampir seluruh bagian mall ini hingga 2 kali dan tidak menemukan mereka bertiga. Ah, sepertinya aku kelelahan hingga tidak fokus mencari. Jadi lebih baik kutunggu saja mereka bertiga di dekat pintu masuk mall. Kebetulan tempat itu tidak begitu ramai dan diperbolehkan untuk merokok di area situ. Ya, di Johor Bahru tidak seketat Singapura dalam hal rokok. Jadilah aku duduk di situ dan sempat berbincang dengan seorang bapak-bapak beretnis Melayu yang sedang menunggu istri dan anaknya belanja di mall, katanya juga pernah ke Indonesia meski hanya di Jakarta.
Hingga tak lama berselang, yang ditunggu pun menampakkan batang hidungnya. Setelah berpamitan kepada bapak-bapak tersebut, aku bergabung dengan Tiffany, Reny dan Yunita untuk berjalan kembali ke Singapura. Kami memutuskan untuk memotong jalan melalui Kuil Kaca Arulmigu Sri Rajakaliamman tadi menuju ke JB City Square dan tembus ke JB Sentral.
Cukup bingung juga mencari jalan menuju ke JB City Square, karena jalan Wong Ah Fook sedang ada proyek pembangunan yang menutup hampir seluruh jalanan. Jadi kami membuntuti saja orang-orang yang juga berjalan di situ untuk mencari jalan tembusannya. Begitu sampai di JB City Square pun kami malah kebingungan mencari jalan untuk tembus ke JB Sentral dimana letak bagian imigrasi Malaysia. Setelah beberapa kali memutari JB City Square dan bertanya di beberapa sekuriti, hingga tak lupa berbelanja buah tangan ketika tak sengaja melewati toko yang menjaul oleh-oleh akhirnya kami sampai juga di bagian imigrasi Malaysia.
Begitu paspor sudah diberi cap, kami bergegas menaiki bus yang akan menuju ke Singapura. Asal saja kami mengambil bus. Jadi waktu itu, daripada terlalu lama menunggu bus CW2 langsung saja kami menuju ke bus SMRT Singapura saja. meski mungkin nanti harga nya jadi lebih mahal dibanding jika menggunakan bus CW2. Tapi daripada terlalu lama menunggu. Supaya lebih cepat kami mengambil bus yang nanti turun di stasiun MRT Kranji yang letaknya setelah Woodlands untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta.
Sepertinya lancar-lancar saja hingga memasuki Woodlands. Kami terbagi dua jalur. Aku dan Tiffany berada di satu jalur antrian, sedangkan Reny dan Tiffany di jalur yang lain. Sedikit ada masalah dengan paspor Tiffany, kemudian nampak ada pelintas yang bermasalah di antrian Yunita dan Reny. Mungkin warga negara Malaysia yang hendak bermalam mingguan di Singapura.
Tak disangka, aku yang paspornya telah diberi cap dan melewati imigrasi, tiba-tiba petugas Custom meminta ku mengeluarkan rokok yang kubawa. Deg! Rupanya karena terburu-buru tadi aku jadi ceroboh asal menaruh rokok yang kubeli di Johor Bahru di dalam tas. Tantu saja aku langsung digiring ke kantor Custom dan dicecar dengan beberapa pertanyaan. Yah, hanya berharap aku tidak dikenai denda waktu itu. Barang disita pun tak mengapa, asalkan tidak terkena denda. Karena setahuku rokok yang kubawa sudah dalam segel terbuka dan tidak penuh isinya.
Bersama denganku nampak seorang pemuda yang beretnis Cina juga tertahan di dalam ruangan Custom karena membawa susu bubuk melebihi kuota yang diperbolehkan. Ada juga seorang ibu-ibu yang menunjukkan struk obat-obatan dan keterangan dokter yang ia miliki. Pun aku yang juga disuruh menunjukkan semua rokok yang kubawa. Karena tadi di JB City Square aku membeli oleh-oleh rokok yang kurasa cukup unik dan tidak ada di Indonesia. Aku juga sudah bersikeras jika rokok yang kubawa tidak untuk dijual kembali, namun sepertinya mereka tetap bergeming entah apa karena memang lebih banyak diam sambil mencatat berbagai rokok yang kubawa dan mencatat identitas pasporku.
Tak lama, setelah digiring untuk berpindah ruangan, seorang petugas Custom Singapura beretnis Melayu yang berpenampilan cukup menarik mendatangiku dan menjelaskan peraturan negaranya. Di akhir percakapan, ia bilang bahwa semua rokok yang kumiliki akan disita dan aku sudah tercatat dalam database mereka jadi jika lain kali melakukan perbuatan yang sama aku akan langsung dikenai denda level 2. Antara senang karena tidak jadi didenda, dan sedih karena tidak jadi membawa oleh-oleh rokok untuk kubawa kembali ke Indonesia. Tapi salutnya kepada petugas imigrasi Singapura ini, mereka menghancurkan rokok yang kubawa di depan mataku, untuk menunjukkan bahwa barang ini tidak kemudian mereka pakai. Pun dengan orang-orang yang diketahui membawa barang-barang lain yang dilarang dibawa waktu itu.
Begitu keluar dari ruangan Custom tersebut aku langsung merasa lega dan bersiap mencari bus menuju Kranji. Ternyata Tiffany, Reny dan Yunita masih menunggu di luar imigrasi. Ow, Thanks mates.. Kami pun berjalan turun sambil kuceritakan apa yang terjadi dan menaiki bus jurusan ke stasiun MRT Kranji, Singapura.
Setidaknya di bus yang menuju ke Kranji ini tidak begitu penuh sesak, jadi bisa duduk meski hanya sebentar, karena jarak antara Woodlands ke Kranji tidak sampai setengah jam perjalanan. Kami berempat turun dan menukarkan uang ringgit yang tersisa lalu istirahat sejenak sambil menunggu kereta yang datang. Tak butuh waktu lama kami sudah menemukan diri kami melaju di atas kereta menuju ke Bugis. Ya, malam ini rencana kami untuk ke Marina Bay Sands sepertinya harus ditunda besok Minggu. Sekaligus melihat perayaan ulang tahun kemerdekaan Singapura yang ke 50.
Sejenak sempat aku tertidur di kereta setelah nampak di ufuk barat matahari mulai terbenam. Semakin mendekati tujuan, kereta semakin bertambah penuh, ya begini ini sepertinya efek malam mingguan di Singapura.
Sesampainya di Bugis, aku langsung menuju ke hostel Cozy Backpacker untuk membooking kamar dormitory yang seharga 15 SGD. Sementara Tiffany, Reny dan Yunita makan malam di bawah hostel. Untunglah, sesuai perkataan si pemilik hostel bahwa aku boleh menginap di hostel ini tanpa membooking karena memakai kamar dormitory. Ternyata hanya fasilitas loker penyimpanan tanpa gembok yang didapat. Teringat bahwa Yunita memiliki gembok yang sementara itu tidak terpakai jadi bisa kupakai terlebih dahulu.
Setelah meletakkan barangku di dalam loker, aku menyusul mereka yang sedang makan malam. Selesai makan, Bugis Street pun menjadi jujugan kami malam itu. Kami terpisah menjadi 2 kelompok. Aku dan Reny, sedangkan Tiffany bersama Yunita. Terang saja aku malah kebingungan mencari pesanan oleh-oleh. Akhirnya setelah berputar-putar dan membeli beberapa potong tas dan kaos, Reny pun bergabung kembali bersama Tiffany dan Yunita untuk menuju ke penginapannya di Geylang dengan bus.
Setelah mereka bertiga berlalu, aku iseng-iseng berjalan-jalan sendiri memutari daerah Bugis hingga akhirnya memutuskan membeli minuman dingin di 7-eleven dan kembali ke hostel untuk beristirahat. Sementara itu penghuni hostel yang kutemui waktu hari pertama di Singapura itu ternyata juga masih berada di tempat ini. Tentunya masih sibuk dengan gawai mereka masing-masing. Ya, tidak selamanya penginapan dormitory itu penuh obrolan dengan para penghuninya.
Cukup menjadi pelajaran kejadian hari ini. Dibalik cerita orang-orang yang bisa membawa rokok dari luar Singapura memang tidak semua bisa berhasil. Dan aku salah satunya yang mengalami ditangkap oleh pihak Custom Singapura. Dan masih bersyukur tidak terkena denda. Cukup membuatku kapok untuk melakukan hal yang sama lain waktu. Lebih baik keluar uang sedikit lebih banyak daripada berurusan dengan pihak Custom Singapura atau dimana pun itu.
“You have to taste a culture to understand it.” ~ Deborah Cater




