Ada banyak cara untuk menyembuhkan diri sendiri yang ternyata 'kesakitan' tanpa kita sadari.
Seringkali aku menyakiti diri sendiri ; berusaha memenuhi standar 'baik' menurut orang lain namun realitasnya tubuh ini, jiwa ini belum benar-benar siap untuk melakukannya.
Ada banyak hal baik yang bisa kita lakukan pun juga ada banyak hal bermanfaat yang kita laksanakan selama nafas ini masih ada.
Alih-alih melakukan hal baik tersebut atau hal bermanfaat tersebut justru ada hak yang belum kita tunaikan yakni ; menyehatkan jiwa; bertahan agar tetap waras dengan segala himpitan hidup yang ada.
Aku adalah tipe manusia yang memiliki "riuh di kepala" pun juga ada banyak "bising" ditelinga hingga membuat diriku menjadi "asing" di depan cermin.
Dan aku seringkali lupa bahwa aku adalah manusia biasa yang punya lelah, punya amarah dan punya kekhawatiran.
Aku adalah seorang ibu rumah tangga muda yang sedang berusaha untuk meniti karir; mencari pengalaman sebanyak mungkin sekaligus menjadi istri ideal bagi suami dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku nanti.
Setiap hari aku bangun pagi melakukan aktivitas menjadi ibu rumah tangga; memasak, mencuci baju, mencuci piring atau kalo sempat juga bersih-bersih rumah.
Tepat jam 7 aku harus sampai di sekolah tempat aku mengajar. Guru bukanlah satu-satunya pekerjaan dan kegiatanku diluar. Seringkali aku izin dari tempatku mengjar untuk bisa melakukan pekerjaan lain yakni aktif di kelembagaan desa beserta organisasi dan kegiatan tetek bengek lainnya.
Belum lagi dengan para orang tua dan mertua yang meributkan anak dan menantunya "tidak berkunjung kerumah" barang sehari dua hari, mereka mengira "aku ada apa-apa"
Sepulang dari sekolah dan berkegiatan diluar kadang, aku memlih pulang kerumah kedua orang tuaku. Kadang juga memilih pulang ke rumah mertuaku. Hal tersebut kulakukan untuk menghindari pertanyaan "kenapa tidak kesini, kamu lagi kenapa marah dg kami"
Padahal tidak sedikitpun ada rasa marah hanya saja aku lelah dan banyak pekerjaan dirumah yang masih menumpuk; melanjutkan mencuci baju yang tertunda, menyetrika setumpuk baju dan menyiapkan makanan untuk suami sepulang kerja.
Belum dengan ada tugas deadline pekerjaan yang harus segera aku selesaikan.
Disini jelas aku ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik, anak yang baik serta menantu yang baik istri yang baik, sekaligus menjadi wanita karir yang baik.
Padahal kenyataannya aku tak baik-baik saja. Ada banyak perasaan random yang muncul karena lelah dan kegiatan yang terus diulang-ulang.
Perasaan rasa takut, khawatir tidak bisa menjadi "baik" dimata orang ada banyak perasaan khawatir barangkali belum bisa menjadi istri yang baik di depan suami.
Riuh dikepala semakin menjadi tanpa aku sadari hingga seringkali aku menyakiti diri sendiri dan suami. Tak jarang aku menyalahkan dia lah penyebab lelahku yang terus melanda, pun juga aku menyalahkan diri sendiri yang seolah tak mampu untuk menopang ini semua.